October 31, 2020

Review : Bad Moms


“You’re so not a failure as a mother. In fact, you’re the best mother that we’ve ever seen.” 

Siapa bilang para ibu rumah tangga tidak dapat berpesta gila-gilaan? Dijerat rutinitas menjemukan nan melelahkan yang berkutat di kisaran mengurusi anak entah itu menyiapkan sarapan, mengantarkan ke sekolah, hingga memenuhi segala kebutuhan mereka termasuk membantu mengerjakan kiprah sekolah, kemudian menghadiri rapat pertemuan wali murid yang pokok bahasannya berpotensi bikin menguap lebar-lebar, kemudian membereskan pekerjaan rumah menyerupai merampungkan cucian menumpuk atau memasak makan malam untuk seluruh anggota keluarga di malam hari walau energi telah terkuras habis seharian, dan belum lagi jikalau dirongrong kejadian-kejadian tak terduga yang membutuhkan perhatian lebih… well, mereka dapat melaksanakan apa saja guna melepaskan kepenatan hidup asalkan diberi kesempatan. Duo pelopor trilogi The Hangover, Jon Lucas dan Scott Moore, memberi kita citra bagaimana seandainya para ibu-ibu tersebut kesannya memperoleh kesempatan emas kemudian memanfaatkannya semaksimal mungkin di kreasi teranyar keduanya, Bad Moms, yang kolam perpaduan antara The Hangover dan Mean Girls

Dengan dipersilahkannya para mami-mami muda ini menggila, kehebohan tanpa batas ialah apa yang dapat kau harapkan dari Bad Moms. Protagonis utama Bad Moms ialah Amy Mitchell (Mila Kunis), seorang perempuan berkeluarga yang sepintas mempunyai kehidupan baik-baik saja namun Amy sendiri menganggap hari-harinya dipenuhi kekacauan. Masalah utama Amy ialah beliau tidak mempunyai cukup waktu untuk melaksanakan semua hal (arti secara harfiah!) semoga kehidupan rumah tangganya berjalan semestinya. Sang suami, Mike (David Walton) sama sekali tidak membantunya mengurus putra-putri mereka – malah lebih sering membebaninya dengan pekerjaan embel-embel – dan kedua anaknya kurang menawarkan apresiasi atas pengorbanan sang ibu begitu pula atasan Amy di pekerjaan paruh waktunya. Ini masih belum ditambah adanya desakkan dari Gwendolyn (Christina Applegate), Presiden Asosiasi Orang Tua Guru, yang mengharapkan Amy mengikuti segala acara asosiasi ini ditengah-tengah kesulitannya mengatur waktu. Berusaha keras menjadi ibu tepat mengingat selama ini beliau beranggapan bahwa dirinya ialah ibu yang buruk, Amy kesannya memutuskan mengalah begitu memergoki Mike berselingkuh. Dia menentukan masa terbelakang dengan keadaan di sekitar dan memutuskan memberi banyak me time sekaligus bersenang-senang bersama dua teman barunya, Carla (Kathryn Hahn) dan Kiki (Kristen Bell), yang mempunyai problematika senada. Persahabatannya dengan Carla dan Kiki, pada kesannya memberinya pandangan gres mengenai konsep ‘ibu sempurna’. 

Ya, ditangani otak dibalik kesuksesan The Hangover, kau dapat mengantisipasi munculnya dialog-dialog kotor sarat ‘F-word’, kelakar-kelakar berkaitan dekat dengan selangkangan pula urusan ranjang, dan tindakan-tindakan semau-mau gue di Bad Moms. Begitulah identitas Lucas-Moore dalam mengajak penontonnya bersenang-senang. Selama kurun waktu sekitar 100 menit, mereka hanya ingin pangsa pasarnya mengikuti serentetan kegilaan yang dilakoni para mami dengan tingkatan stres telah mencapai stadium 4 guna melupakan sejenak kegelisahan hidup. Apabila kau tidak pernah nyaman melahap komedi yang bahan ngebanyolnya mempunyai obrolan semacam “aku akan menyetubuhi suamimu kalau tak tiba ke pertemuan ini!”, Bad Moms mungkin akan mengusikmu sepanjang durasi. Tapi jikalau kau sama sekali tidak keberatan dengan banyolan soal hoodie berwarna merah muda yang dianalogikan sebagai penis belum disunat (which is, salah satu momen terbaik plus paling asli di film ini), maka Bad Moms akan membuatmu tergelak-gelak mahir berulang kali. Dengan adanya derma dari barisan lagu-lagu pengiring yang memperkuat atmosfir hingar bingarnya dan penampilan sangat kompak nan mesra dari trio aktor utamanya: Mila Kunis, Kathryn Hahn (she’s killing it!), dan Nasrani Bell, yang akan membuatmu berharap mempunyai teman se-cool mereka, dapat jadi Bad Moms akan menempati daftar teratas sebagai ‘pesta fiktif’ paling mengasyikkan yang pernah kau hadiri dalam beberapa tahun terakhir. 

Pun begitu, mengingat bagaimanapun juga para huruf sentral penggerak laju film ialah ibu-ibu, Bad Moms turut mengedepankan apa yang luput dari trilogi The Hangover: kehangatan. Cukup mengejutkan gotong royong mengetahui bagaimana Lucas-Moore mempunyai pengamatan sangat baik terhadap tema parenting yang diusungnya terlebih lagi fokusnya berada di ibu bukan ayah. Film ini menawarkan kacamata bagi penonton bukan dari kalangan mamak-mamak untuk mengobservasi menyerupai apa beratnya kiprah seorang ibu yang dapat jadi selama ini kita anggap sebelah mata. Dibandingkan film sejenis dari awal tahun yang lebih santun, Mother’s Day, Bad Moms jauh lebih bernas, mumpuni dan mengena sebagai sarana memahami para ibu. Setidaknya, ada dorongan mengucap “I love you” – kalau bisa, sekaligus memberi pelukan hangat – kepada ibu usai menontonnya. Deretan karakternya pun dibuat cermat yang dimainkan mengesankan pula oleh para pelakonnya sehingga kita dapat terhubung secara emosi pada mereka. Kita dapat mafhum dengan keputusan Amy buat berpesta pora pasca melihat apa yang dihadapinya saban hari selama bertahun-tahun; merampungkan seabrek pekerjaan rumah dan masih harus menghadapi anak, suami, hingga mami-mami keji gemar menggunjing yang penuntut. Menariknya, mencuatnya sisi sentimentil di setengah jam final ini tidak menodai semangat bersenang-senang yang diusung oleh film sedari menit pertama berkat pasnya perpaduan dan mulusnya peralihan nada film. Mengawinkan dua elemen berbeda dimana keduanya bekerja sangat baik justru memberi kekuatan tersendiri bagi Bad Moms.

Note : Seraya end credits mengular, rekaman wawancara yang lucu dan hangat dari para aktris utama bersama ibu masing-masing menampakkan diri. 

Outstanding (4/5)