October 29, 2020

Review : Badoet


Apabila kepercayaanmu terhadap film horor buatan dalam negeri telah berada di titik nadir, maka Badoet ialah sebuah kesempatan emas bagimu untuk membangkitkan kembali kepercayaanmu dengan menunjukan bahwa sinema Indonesia sejatinya masih mempunyai cita-cita untuk menghasilkan tontonan angker yang mencengkram erat. Ya, garapan terbaru dari Awi Suryadi (Claudia/Jasmine, Viva JKT48) yang menempatkan sesosok badut sebagai sumber utama berlangsungnya serangkaian teror – beberapa pihak membandingkannya dengan miniseri Stephen King’s It (1990) maupun Killer Klowns from Outer Space (1988) – ini rasa-rasanya tepat disebut sebagai film horor Indonesia terbaik dalam kurun beberapa tahun terakhir. Bagi kau yang belum mencicipi (nikmatnya) menjadi saksi secara pribadi tebaran teror dari Awi ini di layar lebar mungkin akan menganggapnya agak berlebihan, tapi percayalah, label ini teramat layak disandang oleh Badoet apalagi sudah cukup usang saya tidak mencicipi sensasi was was seraya meringkuk tampan di dingklik bioskop dengan kedua bola mata tersembunyi di balik telapak tangan karena menyimak film memedi asal Indonesia. Phew. 

Pada mulanya, rumah susun di pinggiran Jakarta yang ditempati oleh Donald (Daniel Topan) dan sepupunya, Farel (Christoffer Nelwan), terbilang tenang sentosa. Tidak ada gangguan-gangguan yang mengusik kenyamanan. Namun segala ketenangan tersebut perlahan mulai sirna ketika tiga bocah tetangga Donald dan Farel menemui ajalnya secara tragis dalam rentang waktu berdekatan. Donald, Farel, dan teman kuliah Donald, Kayla (Aurellie Moeremans), mencium adanya ketidakberesan dibalik peristiwa ini mengingat ketiga bocah tersebut berasal dari keluarga serasi yang diperkuat dengan inovasi puluhan kertas bergambar badut misterius di barang-barang peninggalan para bocah malang ini. Diliputi rasa penasaran, tiga serangkai ini pun menggali info demi info untuk memecahkan kasus yang lantas mengarahkan mereka ke kotak musik temuan Vino, putra semata wayang dari tetangga mereka Raisa (Ratu Felisha). Seiring berjalannya investigasi, sederet teror dari sesosok badut terus menerus mengganggu ketiganya yang seketika menyadarkan mereka bahwa ada lebih dari sekadar kekuatan jahat yang mengintai mereka.    
Tidak menyerupai dominan (atau malah justru semua?) film horor Indonesia akhir-akhir ini yang berkiblat pada trik “pasang musik sekencang-kencangnya, beri penampakan sesering-seringnya” untuk menggedor jantung penonton – tanpa disadari malah menurunkan kadar keseraman secara drastis – Badoet percaya terhadap ungkapan “less is more”. Alih-alih menjumpai jump scare murahan terkemas dalam bentuk badut yang memberi cilukba saban sekian menit dengan iringan musik perusak gendang indera pendengaran guna memancing rasa ngeri, kau justru akan menemukan atmosfir serba tidak mengenakkan dalam Badoet. Awi menyodori kita selasar sepi di sebuah rumah susun dengan lantai lusuh dan tembok penuh coretan sebagai pemandangan utama, kemudian beranjak ke kamar-kamar sempit para penghuninya, kemudian berpindah memasuki ruang laundry dan fotokopi yang kesunyiannya seolah memberi peringatan keras “ada yang tidak beres di sini!,” dan berakhir di pasar malam penuh misteri. Imajinasi penonton dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa sadar dicengkram rasa takut tiap kali para tokoh memasuki lokasi-lokasi tertentu. 

Beberapa dari kau mungkin akan bertanya-tanya, apakah bangunan atmosfir ialah satu-satunya cara yang diterapkan Badoet untuk menakut-nakuti penonton? Jawabnya, tentu saja tidak. Mengingat Badoet masih bergerak di area horor, maka kau akan tetap menjumpai penampakan diiringi musik menghentak. Hanya saja, demi memaksimalkan kesan creepy pula misterius, Awi membatasi kemunculan si badut (diperankan oleh Ronny P Tjandra) terlebih jikalau memang keberadaannya tidak membawa efek signifikan terhadap pergerakan cerita. Taktik Awi nyatanya berhasil sebab sensasi ngeri senantiasa menyergap begitu si badut menampakkan diri apalagi momen penampakkannya pun digarap bervariasi dari menyebabkan kerasukan ala The Exorcist (serius, ini sangat menyeramkan!), kemunculan secara utuh dengan senyuman menerornya, atau sekadar numpang lewat namun efektif menciptakan diri ini parno melihat balon maupun mesin cuci. Reaksi impulsif semacam berteriak, mengumpat-umpat, menutup mata, atau malah merapal doa pun hampir dapat kau temukan dari penonton sekeliling ketika menontonnya di bioskop. 

Pun demikian, untuk menjangkau titik ini, kesabaran penonton sedikit banyak diuji terlebih dahulu. Setidaknya pada 20 menit pertama, Badoet seolah-oleh kebingungan memilih ritme penceritaan yang memunculkan bercak-bercak kejenuhan karena tidak ada kejelasan mengenai jalinan pengisahannya itu sendiri dan obrolan para aksara pun lebih sering menggelikan ketimbang membantu memberi citra mengenai apa yang hendak dijlentrehkan oleh si pembuat film. Akan tetapi, ketika kekhawatiran Badoet mungkin tidak akan sekeren bahan promosinya mulai berkecamuk, perlahan tuturan film mulai menarik untuk disimak. Terhitung sejak Vino menemukan kotak musik milik badut di pasar malam, berlanjut ke kematian tragis para bocah – serius, keberanian Awi dan tim menempatkan belum dewasa sebagai korban dalam plot utama layak diacungi jempol – penceritaan bergerak gesit dengan ketegangan yang kadarnya terus menerus menanjak seiring bergulirnya durasi tanpa pernah sekalipun menurun. Perhatian penonton dibetot, kemudian keringat hambar bercucuran. Dengan kombinasi tepat antara tuturan mengikat dan permainan atmosfir, musik, plus penampakan yang efektif, Badoet pun berhasil tersaji sebagai sajian horor yang seru, mengasyikkan, sekaligus mencekam. Go watch it!
Exceeds Expectations