October 19, 2020

Review : Bahtera Kertas 2

“Hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau melepaskan itu tergantung hatimu. Hatimu yang tahu”

Perahu Kertas… Hah… Sesungguhnya, sesudah jilid pertama yang menciptakan saya menguap beberapa kali meski harus diakui cukup manis, hasrat untuk menyaksikan paruh kedua tidak terlalu menggelora sekalipun Chand Parwez Servia, produser Starvision Plus, menjanjikan bahwa dongeng Perahu Kertas akan menggemuk di belakang. Itu berarti, seiring dengan bergulirnya cerita, maka konflik yang diapungkan pun kian padat dan mengikat. Telinga saya agaknya sudah kebal mendengar obralan janji-janji anggun dari para penggiat sinema yang seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ramai di dunia maya, melancarkan puja puji setinggi langit, sesudah disimak ternyata ya hanya begitu-begitu saja. Apakah kebanggaan yang dilayangkan ini ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam atau karena… faktor pertemanan? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Perahu Kertas 2 ini pun senada. Seusai premiere digelar dengan sukses, nyaris tidak ada yang memperlihatkan kritik. Film menuai kebanggaan dari aneka macam pihak. Komentar negatif bukanlah pilihan yang terkenal malam itu. Saya langsung skeptis sampai-sampai muncul pertanyaan di pikiran saya ‘benarkah?’. Beberapa sobat yang beruntung menyaksikannya lebih awal, memberi evaluasi jelek untuk film ini. Dan, saya lebih percaya kepada mereka. Tiga hari berselang, saya pun mempunyai kesempatan yang sama dengan Anda untuk menyaksikannya di layar lebar. Tidak ada ekspektasi sedikit pun. Ditemani dengan segelas minuman bersoda serta berondong jagung yang nikmat namun harganya tidak lagi bersahabat, saya siap untuk diajak mengarungi film sepanjang 100 menit yang ternyata sesuai dengan dugaan saya… kering, tidak bertenaga, dan nyaris tidak mengandung kesenangan di dalamnya. Membosankan. 
Dengan penuh percaya diri, Perahu Kertas 2 berlayar tanpa diawali dengan ringkasan singkat jilid sebelumnya sebagai penyegar ingatan atau mungkin sebagai perkenalan kepada penonton yang belum sempat menyaksikan film pertama. Sebuah pembuka yang cukup menjanjikan sebenarnya. Hanung Bramantyo melanjutkan konflik yang sempat terpotong satu setengah bulan yang lalu. Kugy (Maudy Ayunda) berjumpa kembali dengan Keenan (Adipati Dolken) berkat komitmen nikah sahabat mereka, Noni (Sylvia Fully R) dan Eko (Fauzan Smith). Sebuah ‘road trip’ untuk mengenang masa kemudian pun dihadiahkan oleh Keenan kepada Kugy. Perjalanan yang seharusnya anggun ini terpaksa berakhir tragis sesudah Kugy menyaksikan dengan mata kepala sendiri Sekolah Alit, daerah pelarian Kugy dulu, dirobohkan dan Pilik yang menjadi sumber inspirasinya dalam menulis dongeng telah berpulang. Menghadapi realitas kehidupan semacam ini menciptakan semangat Kugy terpecut untuk melanjutkan impiannya sebagai pendongeng. Keenan pun dengan sukarela mengajukan diri sebagai ilustrator. Pertemuan kembali dua sejoli ini turut berimbas kepada kehidupan langsung Kugy. Prestasi kerjanya menurun drastis. Siska (Sharena), rekan kerjanya yang belakang layar menaruh hati pada Remi (Reza Rahadian), melihat ini sebagai peluang untuk menyingkirkan ‘rivalnya’ tersebut. Sementara itu, hubungan Keenan dan Luhde (Elyzia Mulachela) terombang-ambing dalam ketidakpastian sesudah sebuah pertemuan tak terduga Kugy dengan Luhde. 
Apabila pendahulunya gagal membawa Anda ke dalam nuansa yang dramatis dan sentimentil, maka apa yang Anda harapkan dari Perahu Kertas 2? Ini ialah sebuah proyek ambisius yang hanya bisa membahagiakan para penikmat novelnya dan para gadis yang menggilai film drama romantis yang mendayu-dayu, nyaris tidak ada kesempatan untuk penonton awam yang tidak mengenal sumber adaptasinya untuk jatuh cinta kepada Perahu Kertas 2. Saya kurang percaya dengan siapapun yang sesumbar bahwa alasan pemecahan film ialah demi memertahankan bagian-bagian penting dalam novel sehingga esensi dongeng tidak luntur. Kenapa tidak menyampaikan saja, uang telah berbicara? Jelas sekali ada setumpuk adegan yang kalau dihilangkan pun tidak akan mempunyai imbas signifikan terhadap perkembangan cerita. Akibatnya, Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari yang turun tangan sendiri untuk menangani penulisan naskah mau tak mau kudu memelarkan beberapa titik guna menggenapi kuota durasi yang diminta oleh para produser. 
Letupan konflik dan ledakan air mata yang dijanjikan semasa promosi pun tidak lebih dari sekadar isapan jempol. Perahu Kertas 2 kolam dilepas ke perairan yang hening dengan gelombang yang muncul sesekali dan alpa bebatuan yang seharusnya merintangi laju. Dramatika dongeng dan emosi para tokoh gagal terbangun dengan baik serta tidak bisa mengikat penonton untuk duduk hening menikmati para tokoh bermain rasa selama kurang lebih 100 menit. Dari sekian banyak problematika yang menyembul, hanya kisah Luhde yang cukup bisa saya nikmati. Sisanya, saya tidak terlalu ambil pusing. Fase deg-degan yang diperlukan hadir ketika hubungan segi rumit antara Kugy, Keenan, Remi, dan Luhde terbongkar, lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan sama sekali. Dewi Lestari memang penulis novel yang jempolan, siapapun mengakuinya. Akan tetapi, untuk urusan mengolah naskah, beliau masih perlu mencar ilmu banyak. Seandainya penulisan naskah diserahkan kepada penulis naskah kelas wahid, bisa jadi Perahu Kertas 2 akan berkali-kali lipat lebih menggigit dan tidak sedatar ini. Atau… seandainya Perahu Kertas dibiarkan berdiri dalam satu kesatuan tanpa dipaksa untuk dipecah, hasil kesudahannya mungkin lebih menarik. Sungguh sangat disayangkan. Pada akhirnya, Perahu Kertas 2 tidak ubahnya sebuah dongeng pengantar tidur. Saya benar-benar membutuhkan bantal dan selimut kala menontonnya.

Poor