October 27, 2020

Review : Bahtera Kertas


“Nyerah sama realistis itu beda tipis.” – Keenan 


Diantara keempat film Idulfitri yang tayang dalam waktu nyaris bersamaan, Perahu Kertas menjadi pilihan yang paling populer. Selain fakta bahwa film ini beranjak dari novel laku berjudul sama hasil goresan pena Dewi Lestari yang telah mengumpulkan basis penggemar yang cukup banyak, faktor Hanung Bramantyo sebagai nahkoda kapal menjadi daya tarik lain. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, nama Hanung sudah cukup menjadi jaminan akan kualitas dari sebuah film, walaupun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Mendekati hari perilisan, Perahu Kertas kian santer menjadi materi omongan di jejaring sosial sesudah Maudy Ayunda dan Adipati Dolken diumumkan sebagai bintang utama dari film ini. Berbagai pro dan kontra pun bermunculan, umumnya berasal dari para penggemar versi novelnya. Ini tak lagi menjadi sesuatu yang mengherankan. Memvisualisasikan sebuah novel terkenal dimana masing-masing pembaca tentunya sudah mempunyai imajinasi sendiri wacana bagaimana seharusnya puluhan sampai ratusan ribu kata-kata ini diterjemahkan dalam bentuk media audio visual bukanlah kasus yang mudah. Hal ini telah menjadi belakang layar umum. Si sineas mau tidak mau kudu siap menghadapi kebanggaan maupun cacian dari fans garis keras novelnya sesudah film beredar. The show must go on. Kita tentu tidak bisa memuaskan semua orang, bukan? 


Demi memuaskan para pembaca setia yang tentunya menuntut setiap momen diabadikan dalam bentuk gambar, maka Perahu Kertas pun dipecah menjadi dua bagian. Sebuah keputusan yang sangat berani mengingat ini yaitu sebuah film drama. Perahu Kertas berkisah mengenai persahabatan antara Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken) yang tidak biasa. Kugy digambarkan sebagai gadis yang unik nan eksentrik yang menganggap dirinya sebagai biro Neptunus, namun diberkahi otak yang brilian dengan imajinasi yang luar biasa tinggi. Perkenalannya dengan Keenan dimulai ketika Kugy mengantar kedua sahabatnya, Noni (Sylvia Fully R.) dan Eko (Fauzan Smith), menjemput Keenan yang gres datang di Bandung ke stasiun. Tidak membutuhkan waktu yang usang bagi keduanya untuk saling terkoneksi satu sama lain. Segera saja, Keenan tergabung dalam geng ‘Pura-Pura Ninja’ bentukan Kugy dan bersedia untuk diangkat sebagai biro Neptunus. Seiring berjalannya waktu, Kugy dan Keenan menjadi kian dekat. Percikan gelora asmara pun tak terhindarkan. Hanya saja, masing-masing enggan untuk mengakuinya dan menutup rapat belakang layar ini. Terlebih, Kugy telah mempunyai seorang kekasih yang dipanggilnya Ojos (Dion Wiyoko). 

Letupan konflik muncul ketika hadir orang ketiga dalam kehidupan Kugy dan Keenan. Dia yaitu Wanda (Kimberly Ryder), sepupu Noni yang sengaja ‘diimpor’ eksklusif dari Australia untuk dijodohkan kepada Keenan. Mengetahui hal ini, Kugy pun mengurungkan niatnya untuk menyerahkan sebuah kotak belakang layar sebagai hadiah ulang tahun Keenan yang isinya gres diketahui oleh penonton menjelang film berakhir. Tak ingin hatinya semakin terluka, Kugy bolos dari pesta ulang tahun Noni yang digelar di rumah Wanda. Persahabatan Kugy dan Noni pun retak. Dari sini, percikan api kian membesar, menjalar kemana-mana, membuat friksi dalam skala yang lebih besar. Saya yang semula telah kehilangan minat terhadap Perahu Kertas sesudah sekitar setengah jam pertama yang kering, bertele-tele, dan membosankan, dengan segera kembali mengarahkan pandangan ke layar tatkala Wanda muncul. Bukan, bukan alasannya yaitu kecantikan dia, melainkan alasannya yaitu grafik konflik mulai memperlihatkan gejala peningkatan dalam intensitas konflik. Perahu kertas merah yang dilepas oleh Kugy di sungai pada permulaan film mulai memasuki lekuk-lekuk sungai yang dipenuhi dengan batu-batu besar dan air yang deras. 

Setelah cukup usang tidak menemukan sebuah film yang mengangkat dongeng percintaan klasik dengan balutan konflik persahabatan yang menarik untuk disimak – terakhir disuguhi Brokenhearts yang memble – Perahu Kertas membangkitkan kembali kepercayaan bahwa genre drama romantis masih bisa diselamatkan. Seusai melewati fase-fase sulit di paruh awal, Perahu Kertas secara perlahan-lahan mulai membaik seiring dengan semakin berkembangnya konflik. Terlepas dari pro kontra ihwal pemilihan pemain yang dianggap kebanyakan fans kurang mewakili imajinasi indah mereka dalam menggambarkan sosok Kugy dan Keenan, Maudy Ayunda berhasil menyuguhkan sebuah performa yang apik. Sementara Adipati Dolken, errr… entahlah, sekalipun bisa membuat chemistry dengan Maudy Ayunda, belum bisa meyakinkan penonton bahwa beliau yaitu Keenan, bukan Adipati. Bayang-bayang dari film sebelumnya, 18++ Forever Love dan Malaikat Tanpa Sayap, masih menempel dan susah terlepaskan. Malahan, Fauzan Smith yang mampu bersinar dengan mencuri perhatian penonton di setiap adegannya. Akan tetapi, siapa sih yang bisa melupakan penampilan singkat namun membekas di ingatan dari personil 3 Diva, Titi DJ? Semacam penyegaran ketika para pemeran muda, selain Maudy dan Fauzan, gagal memperlihatkan penampilan yang memukau.

Dan, satu yang paling menonjol dari film in, soundtrack-nya! Diisi dengan gugusan tembang-tembang yang ‘easy listening’ dimana penempatannya dalam mengiringi sejumlah adegan dalam film terasa pas dan representatif sehingga perjalanan mengarungi sungai dengan memakai bahtera kertas menjadi lebih mengesankan. Sekalipun pada alhasil nanti Anda tidak terkesan dengan filmnya, saya cukup yakin Anda tidak akan menampik bahwa film ini mempunyai soundtrack yang digarap amat baik. Saya jatuh cinta dengan soundtrack-nya. Andaikata tidak dibekali dengan musik latar dan lagu-lagu berkualitas ciamik ini, perjalanan Perahu Kertas akan terseok-seok. Inilah yang menjadi ruh film. Adalah sebuah keputusan yang sempurna memperlihatkan kesempatan kepada departemen soundtrack untuk menjalankan kiprah besar mereka dengan semestinya, alih-alih hanya dijadikan sebagai sebuah komplemen semata yang kerap dilakukan oleh film-film lokal dalam beberapa tahun belakangan ini. Pada akhirnya, sekalipun tidak bisa menjadi sebuah film pembiasaan yang luar biasa, Hanung Bramantyo tetap berhasil menyuguhkan Perahu Kertas jilid awal ini sebagai sebuah film drama romantis berakal balig cukup akal manis yang sudah sangat jarang kita temukan dalam perfilman Indonesia.

Acceptable