October 20, 2020

Review : Banda The Dark Forgotten Trail


“Melupakan masa kemudian sama dengan mematikan masa depan bangsa ini.” 

Dibandingkan dengan genre lain, dokumenter terhitung paling jarang dijamah oleh para sineas di perfilman Indonesia. Dari sisi kualitas sebetulnya banyak pula yang elok (dari beberapa tahun terakhir, sanggup ditengok melalui Jalanan, Negeri di Bawah Kabut, serta Pantja-Sila), hanya saja khalayak ramai pada umumnya cenderung ogah-ogahan melahap film dokumenter disebabkan menempel kuatnya stigma yang menyatakan tontonan ini bersinggungan dekat dengan kata ‘membosankan’. Tentu saja tidak bisa sepenuhnya disalahkan mengingat saya sendiri masih sering menjumpai film dokumenter tanah air, utamanya non-komersil dan pendek, yang subjek materinya disampaikan dengan narasi amat sangat kaku ibarat membaca buku teks dan pilihan gambar di latar belakang sebagai penguat narasi yang kurang hidup. Monoton. Baru berjalan beberapa menit saja, rasanya sudah ingin mengibarkan bendera putih. Di tengah kekeringan ini, produser Sheila Timothy bersama rumah produksi naungannya, Lifelike Pictures, berinisiatif menghadirkan sebuah sajian dokumenter berbeda yang diperlukan bisa merangkul bermacam-macam pihak dari aneka macam lapisan usia. Merekrut Jay Subyakto yang telah terlatih membesut video klip dan pagelaran konser sebagai sang sutradara, mereka menghadirkan Banda The Dark Forgotten Trail yang mengajak penonton untuk menelusuri sejarah perdagangan rempah, kepulauan Banda, serta Indonesia. 

Gagasan pembuatan Banda The Dark Forgotten Trail sendiri tercetus pertama kali seusai Sheila Timothy bertandang ke sebuah ekspo mengenai jalur rempah. Di sana, Sheila menjumpai satu kalimat yang menyebutkan bergotong-royong jalur sutra terbentuk berkat pedagang-pedagang asal Tiongkok yang berburu rempah-rempah ke kepulauan kecil di Nusantara, yakni Banda. Kalimat tersebut menyadarkan sang produser bahwa ada banyak kisah yang bisa dikulik dari sini. Ada banyak kisah sejarah yang tak diperbincangkan secara mendetail dalam buku teks untuk para pelajar di Indonesia termasuk alasan utama mengapa rempah-rempah diperebutkan oleh bangsa-bangsa di Eropa. Sebagian besar dari kita tidak pernah tahu kalau rempah-rempah, khususnya pala dan cengkeh, dianggap sebagai komoditi besar pada masa ekspedisi tersebut karena mempunyai aneka macam macam khasiat. Bukan sembarang khasiat karena mereka yang bisa menguasai rempah-rempah, diklaim sanggup menguasai dunia. Tak mengherankan bila kemudian para pelaut dari Belanda, Spanyol, Portugis, hingga Inggris pun berbondong-bondong mengunjungi kepulauan Banda yang seketika menjadi pelabuhan utama di dunia demi bertransaksi untuk mendapatkan biji pala berikut keluarganya. Sebuah transaksi yang memperlihatkan imbas luar biasa besar terhadap kehidupan masyarakat dalam kepulauan kecil di Indonesia belahan timur ini hingga beratus-ratus tahun ke depan. 

Dituturkan secara kronologis, penonton juga akan mengetahui bagaimana situasi Banda selepas diduduki Belanda, bagaimana nasib pala usai perdagangan bebas dihentikan, hingga bagaimana Banda di masa sekarang. Dengan materi dialog seberat dan sekompleks ini, nyatanya Banda The Dark Forgotten Trail tak pernah sekalipun menciptakan penonton merasa kelelahan hingga terkantuk-kantuk. Justru, menyebabkan keingintahuan lebih besar untuk menelusuri kepingan-kepingan sejarah negeri ini. Mengikat dan memikat. Pemicunya, naskah racikan Irfan Ramli (Cahaya Dari Timur Beta Maluku, Surat Dari Praha) yang terus menerus menghujani kita dengan paparan-paparan memilukan pula mencengangkan terkait salah formasi pulau terpenting di Indonesia raya ini, serta pengarahan dinamis dari Jay Subyakto. Faktor penunjang lainnya tersusun atas musik pengiring gubahan Lie Indra Perkasa yang menghentak memberi kesan megah, penyuntingan gambar dari tiga editor yang bisa mengalirkan kisah dengan ritme tepat, polesan animasi dari rekan-rekan di Sekolah Menengah kejuruan Raden Umar Said Kudus yang mempertajam narasi mengenai masa-masa kegelapan di negeri ini, tangkapan gambar oleh enam DOP pimpinan Ipung Rachmat Syaiful tidak saja menghadirkan stok gambar melimpah ruah yang indah dipandang mata tetapi juga ‘berbicara’, dan Reza Rahadian selaku narator yang sanggup menghembuskan ruh dalam setiap kalimat yang diucapkannya ibarat tengah mendongengi anak kesayangannya sehingga tanpa sadar penonton pun tersihir untuk bersedia menambatkan atensinya pada film.

Yang juga menarik dalam Banda The Dark Forgotten Trail ialah pilihan narasumber dengan sudut pandang cukup bermacam-macam dan saling melengkapi satu sama lain. Jay emoh sebatas bergantung pada satu-dua sejarahwan yang diyakininya tak banyak menyumbang perspektif baru, kemudian menentukan untuk juga melibatkan warga setempat. Beberapa orang yang turut dilibatkannya untuk menapak tilas masa lalu, membicarakan masa kini, dan memproyeksikan masa depan berasal dari pemilik perkebunan pala yang masih keturunan Belanda, pengamat sejarah, mahasiswa, dan pihak-pihak yang menyambung hidup melalui rempah-rempah. Lewat mereka, penonton mendapatkan informasi berharga kemudian menyadari bahwa kepulauan Banda sejatinya ialah aset berharga bagi Indonesia. Disamping kekayaan alamnya, bermacam-macam insiden sejarah yang membentuk negeri ini bercokol pula di Banda. Beberapa tokoh penting republik ini ibarat Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusumasumantri pernah mendiami Banda Neira selama masa pengasingan yang kemudian mengilhami mereka dalam mencetuskan gagasan-gagasan untuk membangun Indonesia. Tak sulit memperoleh inspirasi di kepulauan Banda mengingat status demografi masyarakatnya yang majemuk. Bisa dikatakan, hampir seluruh penduduk merupakan keturunan budak-budak yang dulu diciduk VOC dari pulau lain sedangkan penduduk orisinil hampir musnah dalam pembantaian. 

Karena kemajemukan ini, tak pelak Banda The Dark Forgotten Trail juga memperbincangkan informasi kebinekaan yang belakangan membara. Kebetulan, salah satu narasumber pernah terseret menjadi korban saat konflik agama mencuat di Indonesia pada tahun 1999 silam. Dituturkan tanpa tedeng aling-aling oleh si narasumber, penonton sanggup mencicipi kengerian dan kepiluan yang disisakan dari insiden tersebut. Sejenak kita diminta untuk berkontemplasi; akankah kita mengizinkan insiden serupa terulang kembali? Jika ya, apa ada satu alasan yang amat mendesak hingga ini semestinya terulang? Adakah laba yang sanggup kita peroleh seandainya insiden serupa terulang kembali? Serentetan pertanyaan tersebut memberi nilai tambah tersendiri bagi Banda The Dark Forgotten Trail karena penonton diajak untuk lebih aktif mendayagunakan pedoman alih-alih pasif sebatas mendapatkan informasi. Keaktifan penonton diperlukan sanggup diimplementasikan seusai menonton dengan menggelar rangkaian diskusi yang berlanjut ke tindakan nyata. Apalagi, Banda The Dark Forgotten Trail sebetulnya meninggalkan banyak pertanyaan lain. Mengingat durasi film amat terbatas sementara topik yang dicelotehkannya meliputi setumpuk insiden lintas abad, bisa dimengerti bila film tidak memberi paparan selengkap ibarat diharapkan. Bisa jadi, si pembuat film memang sengaja meninggalkannya demikian sehingga memberi kesempatan terciptanya ruang diskusi serta menggerakkan hati penonton untuk menambah rujukan bacaan terkait sejarah nusantara. Bagus!

Outstanding (4/5)