October 19, 2020

Review : Batman V Superman: Dawn Of Justice


“We know better now, don’t we? Devils don’t come from hell beneath us. They come from the sky.” 

Siapa kuasa menolak pesona yang ditawarkan oleh Batman v Superman: Dawn of Justice? Dua aksara komik paling dikenal di semesta ini dipertemukan, disandingkan, kemudian dipertarungkan dalam satu film – plus ditambah pula kehadiran Wonder Woman di tengah-tengah mereka – ialah semacam mimpi berair bagi semua penggila komik (maupun penikmat film superhero) dimanapun mereka berada. Tidak peduli seberapa sering DC melaksanakan kesalahan kala menginterpretasikan ulang karya-karya mereka ke medium film, antisipasi khalayak ramai terhadap kemunculan Batman v Superman akan tetap tinggi. Kapan lagi coba memperoleh kesempatan menjadi saksi mata tabrak kekuatan antara Ksatria Malam dengan Manusia Baja di layar lebar? Kapan lagi coba bisa memperoleh kesempatan menjawab pertanyaan #WhoWillWin yang diajukan di sosial media untuk pertempuran dua superhero ini? Kesempatan semacam ini mungkin tidak akan tiba dua kali. Mungkin. Masalahnya kemudian ialah dengan hype membumbung tinggi ke angkasa mengingat judul bombastisnya sendiri mengisyaratkan akan lahirnya pertempuran terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia, Batman v Superman sayangnya tidak pernah benar-benar memenuhi potensinya. Tiada keistimewaan berlebih yang bisa penonton peroleh dari film ini selain pertemuan Batman, Superman, dan Wonder Woman. 

Melanjutkan apa yang berakhir sempurna di penghujung Man of Steel, permulaan Batman v Superman mengekspos kekacauan gila-gilaan yang menimpa Metropolis hasil dari pertarungan sengit Superman (Henry Cavill) melawan General Zod (Michael Shannon). Turut terseret sebagai korban – kantor hancur sementara beberapa pegawainya meregang nyawa – Bruce Wayne (Ben Affleck) mengamini kecaman masyarakat yang menganggap Superman sebagai bahaya besar bagi bumi. Memperoleh semacam penglihatan mengenai masa depan melalui mimpi-mimpinya, Bruce bertekad untuk menghentikan agresi Superman sebelum daerah tinggal mereka hancur berantakan. Dibantu oleh pelayan setianya, Alfred (Jeremy Irons), Bruce mempersiapkan dirinya sebagai Batman untuk menghadapi Superman yang jelas-jelas secara kekuatan bukanlah bandingannya. Di ketika bersamaan, terungkap pula bahwa Bruce ternyata bukan satu-satunya yang agresif menaklukkan si Manusia Baja karena seorang ilmuwan kaya raya berjulukan Lex Luthor (Jesse Eisenberg) mempunyai niatan serupa. Bahkan, Lex telah melangkah sedikit lebih jauh dibandingkan Bruce dengan mengakuisisi Kryptonite. Perseteruan antara tiga pihak inilah yang lantas melandasi terciptanya pertempuran paling akbar sepanjang sejarah… atau setidaknya begitulah impian Lex Luthor (maupun si pembuat film, tentu saja). 

Kesabaran ialah kunci terpenting untuk bisa menikmati Batman v Superman: Dawn of Justice. Jangan berharap setidaknya separuh dari durasi film yang merentang hingga 150 menit bakal diisi momen-momen genting penahan nafas sebagai bekal menuju pertarungan puncak Batman dan Superman karena Zack Snyder lebih menentukan untuk berjalan santai. Kelewat santai, malah. Sepanjang dua pertiga pertama, film memang mengalun begitu perlahan hampir tanpa ada sengatan berarti untuk menciptakan penonton ketagihan dalam mendambakan menit-menit berikutnya. Niatan Chris Terrio dan David S. Goyer selaku peracik skrip bahwasanya baik, menawarkan fondasi dongeng berwujud motif atas munculnya rivalitas dua pahlawan ini sehingga penonton bisa terhubung (atau memahami) gesekan-gesekan diantara mereka. Hanya saja, ketimbang fokus terhadap perkembangan aksara Bruce Wayne, Clark Kent – sosok di balik kostum Superman, atau Lex Luthor, si pembuat film justru meracau kemana-mana dengan memasukkan subplot ini itu, aksara pendukung ini itu, yang lebih banyak didominasi tidak mempunyai relevansi kuat pada film secara keseluruhan kecuali berdalih bahwa kesemuanya ini merupakan penghubung ke film-film berikutnya. Selain berimbas ke laju film yang lambatnya bolehlah ditandingkan dengan Flash dari Zootopia (bukan aksara milik DC!), kedalaman dongeng maupun aksara gagal terengkuh sampai-sampai mewaspadai gelombang amarah Batman kepada Superman, “apa perlu sebegitunya?.” Lalu, “bukankah kesalahpahaman ini seharusnya bisa untuk tidak dibiarkan berlarut-larut?.”

Apabila sedari awal Batman v Superman: Dawn of Justice ditujukan sebagai film hura-hura belaka, kekacauan naskah yang mempunyai muatan berlebih dari seharusnya ini tentu bukan kasus krusial. Namun Batman v Superman sama sekali tidak ditujukan demikian. Dari banyaknya waktu menggali sisi personal Bruce Wayne maupun Clark Kent – termasuk menghadiahi Clark bertubi problem – kita terang mengetahui si pembuat film bermaksud menghadirkan Batman v Superman lebih dari sekadar popcorn movies (sekalipun ini murni begitu, hampir tidak ada sisi fun). Adanya ambisi besar untuk sesegera mungkin membentuk jalan bagi DC Extended Universe merupakan salah satu penyebab tidak mulusnya skrip dalam bercerita. Kemunculan singkat beberapa anggota Justice League – ibarat Flash, Cyborg, dan Aquaman – terasa janggal pula dipaksakan, bahkan begitu pula dengan Wonder Woman dan Batman. Siap-siap untuk agree to disagree karena saya sangat penasaran, selain untuk jualan dan tentunya penjembatan ke film-film penyesuaian komik DC berikutnya, apa sih signifikansi keberadaan Batman dan Wonder Woman disini? Seandainya sosoknya dihilangkan dari plot utama, apakah akan mempunyai dampak masif terhadap pergerakan kisah? Kok rasa-rasanya tidak akan kuat besar ya? Karena pada balasannya ini ialah mengenai Superman melawan Lex Luthor, bukan Superman melawan Batman (tanpa harus membocorkannya, kau sudah mendapatinya lewat trailer). Lalu, terkait Lex Luthor, apa alasan yang mendasari kebencian sedemikian besar kepada Superman? Dan apa pula bisnis yang bahwasanya dijalankannya? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah memperoleh paparan jawaban yang memuaskan. Malah bahwasanya ada pula pertanyaan lain yang sebaiknya tidak saya kemukakan demi menghindari spoiler. Kebingungan dan kelelahan ialah teman setia yang menemani selama 100 menit awal menyaksikan Batman v Superman. Yang kemudian menyelamatkan film sehingga kantuk masih kesulitan menyergap ialah barisan pemain kelas A-nya mempertontonkan parade akting mumpuni. Memang kurang maksimal karena terbentur perkembangan karakter, namun Jeremy Irons, Holly Hunter (sebagai Senator June Finch), Laurence Fishburne (atasan Lois dan Clark), Amy Adams (Lois), Jesse Eisenberg, Henry Cavill, bahkan Ben Affleck sekalipun yang semula penunjukkannya disikapi skeptis, tetap memperlihatkan tanggung jawab dalam mengeluarkan kemampuan olah tugas terbaik mereka disini. Begitu pula Gal Gadot yang terlihat pas pula memancarkan karisma kuat sebagai Wonder Woman. Dialah pemain paling bersinar diantara padatnya kerumunan jajaran pelakon. Kemunculannya dalam wujud Diana Prince menciptakan kita berdecak kagum, sementara tepuk tangan meriah menyertai ketika ia muncul untuk pertama kalinya dalam balutan kostum Wonder Woman. Saya bahkan balasannya menentukan bergabung ke #TeamWonderWoman alih-alih #TeamBatman atau #TeamSuperman. Yes, she’s that good

Tidak hanya para pelakon Batman v Superman yang sanggup mengangkat derajat film, tetapi juga adegan klimaksnya. Seperti telah saya singgung sebelumnya, menonton Batman v Superman membutuhkan kesabaran. Jika kau merasa ingin mengalah karena film tidak kunjung memberi hentakan ibarat diperkirakan, bertahanlah karena 45 menit terakhir akan membayar lunas kelelahan yang didapat dari paruh pertama. Konfrontasi tamat yang melibatkan monster jelek rupa berjulukan Doomsday dihantarkan dengan intensitas cukup tinggi yang seketika memancing mata untuk melek, jantung berdegup kencang hasil dari perasaan bersemangat sekaligus tegang, dan telapak tangan ingin bertepuk-tepuk (sebagian besar disebabkan oleh Wonder Woman). Deskripsi singkat untuk menjlentrehkan ibarat apa titik puncak dari Batman v Superman ialah menggetarkan. Penonton dibawa memasuki fase ‘kesenangan total’ yang sedikit banyak memaafkan kesalahan-kesalahan Zack Snyder dan rekan-rekan kerjanya di permulaan hingga pertengahan film. Pemberian daya sentak selepas pertarungan yang menggiring penonton beralih ke fase ‘mengharu biru’ pun cukup efektif sehingga setidaknya membangkitkan keinginan untuk mengetahui langkah apa yang selanjutnya ditempuh oleh DC Extended Universe utamanya dalam kaitannya penebusan kesalahan Batman v Superman yang ternyata oh ternyata jauh dari kesan gegap gempita.

Note : Tidak ada post-credits scene jadi kau bisa segera keluar dari gedung bioskop sesudah film selesai. 

Acceptable (3/5)