October 19, 2020

Review : Battleship

Hugo dimulai. Dan, kesan pertama tak pernah salah. Ketika mengetahui bahwa film ini akan mempunyai premis yang kurang lebih sama dengan film robot tersebut, ditambah kenyataan bahwa Battleship berangkat dari permainan sederhana buatan Hasbro, maka menaruh impian yang setinggi langit tidak akan memberikan kepuasan apapun. Menurut Paul dalam artikelnya yang berjudul “How to Determine Bad Movie From a Good One”, film yang diangkat dari sebuah permainan cenderung lemah dalam naskah alasannya yaitu tidak mempunyai bahan dasar yang mencukupi. Maka satu-satunya cara untuk menikmati Battleship yaitu dengan membuang semua logika dan menikmati saja apa yang tersaji di layar tanpa memedulikan alur ceritanya yang sudah barang tentu setipis kertas. Saat Anda berhasil menikmatinya, saya ucapkan selamat. Apabila tidak, maka silahkan bergabung dengan saya di kedai kopi terdekat dan membicarakan film lain.


Paruh pertama dari film buatan Peter Berg ini yaitu saat-saat paling menyiksa. Kita diperkenalkan dengan sang tokoh utama, Alex Hopper (Taylor Kitsch), yang tentu saja merupakan seorang pecundang yang sama sekali tidak bisa diandalkan. Dia menaruh hati kepada Samantha (Brooklyn Decker), seorang terapis fisik sekaligus putri kesayangan dari perwira tinggi di angkatan laut, Vice Admiral Shane (Liam Neeson). Adegan pembuka film ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Star Trek versi J.J. Abrams. Perkenalan Alex dengan Sam bermula di sebuah bar. Tidak mengetahui apapun mengenai gadis ini, Alex merasa perlu mencuri hati si gadis, dengan cara mencuri burrito di minimarket. Dibuka dengan adegan yang niatnya ingin menjadi lucu namun garing, Battleship kemudian berubah haluan secara cepat tatkala saudara Alex, Stone (Alexander Skarsgard), jengah melihat kelakuan Alex yang kekanak-kanakan. Stone memaksa adiknya untuk bergabung dengan angkatan laut. Mulai dari sini, tanpa perlu mempunyai bola kristal atau kemampuan untuk meramal, apa yang terjadi berikutnya sudah sanggup ditebak dengan mudah.

Alex kesulitan mengikuti keadaan dengan kehidupan di angkatan bahari yang berbeda jauh dengan kebiasaannya sehari-hari. Pasukan Alien yang tiba dari sebuah planet yang mempunyai kemiripan dengan bumi (Sebentar, saya tidak sedang menonton Melancholia atau Another Earth, kan?) dengan tujuan yang tidak dipedulikan oleh siapapun, menginvasi bumi. Sekali lagi, mereka mengakibatkan Amerika sebagai sentra pendaratan. Kali ini bukan di Washington DC, melainkan berpindah ke Kepulauan Hawaii. Seperti halnya yang sudah-sudah, di balik segala serangan ajal yang dilancarkan, Alien ini bersama-sama punya misi yang mulia. Dia membantu seorang anak Adam untuk menemukan jati dirinya, mendewasakan diri, dan menyelamatkan jutaan umat manusia. Untuk mencapainya, maka seseorang yang disayangi namun tidak mempunyai peranan penting untuk film harus dimusnahkan terlebih dahulu. Tentunya sekaligus untuk menambah pengaruh dramatis. Ucapkan selamat tinggal kepada Alexander Skarsgard. Lebih cepat ia pergi, semakin baik bagi dia. Setidaknya penonton tidak akan terlalu mengingat akting buruknya.

Supaya film tidak terlalu tegang dan membosankan (sayangnya sudah terlanjur terjadi semenjak menit pertama. Boring!), maka Peter Berg menambahkan dua tokoh yang difungsikan sebagai pencair suasana. Perkenalkan, Ordy (Jesse Plemons) dan Cal (Hamish Linklater), tokoh dengan skill yang mumpuni dan otak yang cemerlang, namun senantiasa bertindak kolot nyaris sepanjang film. Kenapa pancingan gelak tawa harus selalu berasal dari tokoh yang bertingkah laris bodoh? Bagi saya, mereka tidak lucu, lebih sempurna disebut menyebalkan. Nyaris saja menyamai duo robot menjengkelkan, Wheelie dan Brains, dari Transformers: Revenge of the Fallen seandainya Raikes (Rihanna) tidak tiba untuk ‘menyelamatkan’. Saya secara sukarela mengatakan diri untuk membantu siapapun yang mempunyai niatan mengampanyekan Rihanna di Razzie Awards tahun depan. Dia sangat pantas setidaknya untuk mengantongi satu nominasi. Memasuki paruh kedua, Battleship bergerak sedikit lebih baik. Pertempuran antara kapal tempur milik Amerika Serikat dengan Alien berlangsung intens. Lumayan mengobati kekecewaan karena uang dan waktu yang terbuang percuma menyaksikan pertunjukkan yang membosankan dalam satu jam pertama. Kebahagiaan ini sayangnya berlangsung hanya sekejap saja. Peter Berg kalah telak dari James Cameron dalam urusan bagaimana cara menampilkan adegan kapal karam secara epik. Battleship tak ada apa-apanya disandingkan dengan Titanic, yang notabene dibentuk 15 tahun lalu. Belum lagi cara melumpuhkan Alien yang ternyata sebelas dua belas dengan ending Signs dan War of the Worlds yang menggelikan itu. Blah. Dengan hanya mengandalkan pengaruh khusus yang jor-joran menyerupai ini, dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun mendatang, Battleship akan segera terlupakan. Transformers jilid pertama pun masih jauh lebih menyenangkan untuk ditonton ketimbang Battleship.

Poor

 Itulah kesan pertama yang didapat sesaat sesudah menyaksikan trailernya kala diputar bebe REVIEW : BATTLESHIP