October 31, 2020

Review : Baywatch


“She’s the reason I believe in God.” 

Apabila kau termasuk pecahan dari generasi 80-an atau 90-an dan mengakrabi budaya terkenal pada masa itu, tentunya mengetahui serial televisi berjudul Baywatch dong? Berceloteh mengenai sejumlah penjaga pantai yang berjibaku dengan serentetan tragedi di area kerja mereka, serial yang sempat mengudara di salah satu televisi nasional Indonesia (kalau tayang sekarang, bakal kena blur dimana-mana tuh sampai-sampai yang keliatan cuma kepala pemainnya doang) ini merengkuh popularitasnya bukan karena mempunyai plot berkualitas jempolan melainkan lebih disebabkan kemurahhatiannya dalam mengumbar keseksian pemain-pemainnya serta kemasannya yang norak-norak menyenangkan – tidak mencoba sok serius. Tontonan guilty pleasure gitu lah. Yang paling diingat dari serial ini pun sebatas adegan yang menawarkan Pamela Anderson berlari-lari di bibir pantai mengenakan bikini berwarna merah dalam gerakan lambat, sementara lainnya… yuk dadah bye bye. Menguap cepat dari ingatan. Tapi mungkin saja itu hanya saya karena Paramount Pictures nyatanya menganggap serial ini masih mempunyai brand sekaligus basis penggemar cukup kuat. Mereka merasa perlu untuk membangkitkan Baywatch kembali dalam format film layar lebar bertajuk serupa dengan barisan pemain yang tentu saja dirombak habis-habisan menyesuaikan zaman dan merangkul genre komedi ketimbang sebatas berada di ranah drama agresi menyerupai bahan sumbernya. 

Menggantikan David Hasselhoff untuk memerankan Mitch Buchannon dalam versi film ialah Dwayne Johnson. Bersama dengan Stephanie Holden (Ilfenesh Hadera), C.J. Parker (Kelly Rohrbach) dan rekan-rekannya dalam divisi elit penjaga pantai berjulukan Baywatch, Mitch bertugas untuk menjaga situasi di Emerald Bay, Florida, biar senantiasa aman sehingga para pengunjung yang menghabiskan liburannya di pantai tersebut tidak perlu mencemaskan apapun. Demi menambah personil Baywatch yang terus tiba dan pergi seiring berjalannya waktu, Mitch beserta tim pun menggelar uji coba. Diikuti puluhan peserta, tiga anggota gres yang hasilnya terpilih di ujung hari antara lain Summer Quinn (Alexandra Daddario) yang cerdas, Ronnie (Jon Bass) yang bertekad baja, dan mantan atlet Olimpiade cabang renang yang karinya berakhir usai suatu tragedi memalukan, Matt Brody (Zac Efron). Keterlibatan Matt dalam tim yang dilandasi keterpaksaan dan sikapnya yang cenderung semau gue memicu mencuatnya gesekan-gesekan diantara sesama anggota tim utamanya Mitch dan Summer. Namun konflik internal ini mau tak mau terpaksa dipinggirkan tatkala Mitch mengendus ada sesuatu yang tidak beres di Emerald Bay selepas menemukan bungkusan kecil berisi obat-obatan terlarang. Pengusutan demi pengusutan yang dilakukan Baywatch lantas menuntun mereka pada seorang pebisnis berjulukan Victoria Leeds (Priyanka Chopra) yang tengah berencana mengekspansi bisnisnya dengan cara kotor.

Menonton Baywatch di bioskop sudah barang tentu tidak mengharap apa-apa selain kesenangan yang adiktif. Sang sutradara, Seth Gordon (Horrible Bosses, Identity Thief), sanggup memenuhi itu setidaknya di separuh awal durasi. Lawakan-lawakannya yang dibaluri rujukan ke budaya terkenal menyerupai ketika Mitch memanggil Matt dengan nama-nama julukan (dari boyband hingga High School Musical!) atau olok-olok terhadap elemen-elemen absurd dari versi serial televisinya terhitung cukup ampuh dalam menggelitik saraf tawa. Levelnya sih memang sebatas bikin tertawa-tawa kecil saja tak hingga bikin tergelak-gelak hebat, tapi bagaimanapun juga tawa tetaplah tawa, bukan? Disamping suntikan humor pekat, hiburan yang diperoleh penonton di babak awal ialah gulali-gulali elok bagi mata. Atau dengan kata lain, pemandangan yang menjadi ciri khas dari Baywatch: wanita bertubuh seksi dengan bikini ketat yang berlari-lari di pantai dalam gerakan amat lambat serta pria dengan perut serata papan cucian yang hampir sepanjang waktu menanggalkan bajunya. Untuk sesaat, Baywatch sedikit banyak memenuhi ekspektasi dari para penontonnya hingga lalu kita menyadari bahwa durasinya kelewat panjang untuk sebuah film yang konfliknya klise dan tidak lebih rumit dari satu episode serial televisi ini. Alhasil begitu memasuki pertengahan film, laju pengisahan Baywatch serasa diulur-ulur. 

Daya bunuh humornya pun ikut mengendor seiring terlampau sering dilontarkannya lawakan-lawakan ekstrim yang malah berakhir menjijikan ketimbang lucu. Mungkin hanya saya saja atau ada juga yang menganggap adegan Mitch meraba-raba selangkangan jenazah pria di kamar jenazah itu mengundang rasa geli-geli mengusik kenyamanan? Kenyamanan dalam menonton Baywatch memang semakin menurun di paruh kedua terlebih kegaringan humornya mulai menandingi kulit ayam goreng kaepci dan rentetan berkelahi yang muncul tak memberi impak apapun. Tak memberi sensasi harap-harap cemas atau sekadar bersemangat yang semestinya ada. Yang lalu menciptakan Baywatch tetap mengapung alih-alih karam hingga ke dasar samudera hingga bloopers di sela-sela credit title nongol ialah performa pemainnya. Maksud saya, performa Dwayne Johnson dan Priyanka Chopra – pemain lainnya seolah hanya dimanfaatkan sebagai tim hore, apalagi cameo dari Hasselhoff dan Anderson. Dwayne mempunyai karisma berpengaruh sebagai pahlawan yang gampang disukai dengan comic timing yang jitu pula sementara Priyanka memancarkan aura seduktif, intimidatif, dan berbahaya di ketika bersamaan. Keberadaan mereka sangat membantu dalam menyalurkan energi positif ke film maka ketika keduanya rehat sejenak untuk memberi kesempatan bagi tim hore beraksi, Baywatch ikut melemas. Untungnya Gordon menyadari hal tersebut sehingga potensi keduanya sebisa mungkin dimaksimalkan yang pada hasilnya menciptakan Baywatch masih sanggup terhidang sebagai tontonan yang sanggup dinikmati di kala (amat sangat) senggang.

Acceptable (2,5/5)