October 29, 2020

Review : Belenggu


“Kamu ingat saya pernah bilang sama kamu, saya tahu pembunuhnya siapa” – Elang

Akhirnya, salah satu mimpi terbesar bagi Upi dalam karirnya sebagai sutradara yakni membesut sebuah film thriller terwujud juga. Membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 8 tahun demi membangun rancangan dan meyakinkan sejumlah pihak semoga proyek impiannya ini berjalan mulus. Dengan kelahiran ‘buah hati’ paling dinanti-nanti yang diberi nama Belenggu, ini sekaligus menjadi langkah awal bagi Upi untuk keluar dari zona nyamannya. Menciptakan sebuah dunia baru, yang selama ini di perfilman nasional dikuasai oleh Joko Anwar, yang penuh teka teki serba rumit dengan gaya visual a la film noir yang memunculkan sosok kelinci misterius layaknya Donnie Darko segera saja membetot rasa ingin tau dari para pemerhati film. Apa yang akan dikulik oleh penghasil Radit dan Jani ini dalam film yang sangat personal bagi dirinya? Akankah ada sebuah suguhan sajian penceritaan yang segar dan benar-benar berbeda? Well… sesudah saya menyaksikannya secara pribadi di layar lebar, bahwasanya tidak ada sesuatu yang anyar dalam Belenggu. Akan tetapi, segala upaya Upi dalam menghadirkan sebuah tontonan berisi dengan kemasan yang sangat manis tetap patut mendapat apresiasi lebih. 

Di sebuah kota kecil antah berantah – meski seiring berjalannya film, identitas kota kian ambigu – pembunuhan berantai terjadi hingga tidak ada lagi kepercayaan diantara para penduduk. Saling menaruh curiga satu sama lain, bahkan terhadap anggota keluarga sendiri sekalipun. Hanya diri sendiri yang sanggup dipercaya. Elang (Abimana Aryasatya) mendadak menjadi tersangka utama dari serangkaian kejadian mengerikan ini sesudah mengatakan gerak-gerik di bawah batas kewajaran. Kehadiran Jingga (Imelda Therinne) dalam mimpi-mimpinya yang asing secara perlahan tapi niscaya mempengaruhi kondisi psikologisnya. Dituturkan dengan alur non-linear, penonton kudu sigap dalam mengamati setiap petunjuk yang ditebar oleh sang nahkoda semenjak menit-menit pertama. Setiap tokoh dalam film ini, memegang peranan penting termasuk tetangga Elang, Djenar (Laudya Cynthia Bella) serta suaminya, Guntur (Verdi Solaiman), yang serba misterius. Kemunculan Guntur dengan mengenakan kostum kelinci menjadi salah satu petunjuk yang dicecer dengan bahagia hati oleh Upi. 
Tidak sulit untuk sanggup mencerna apa yang hendak disampaikan oleh sang arsitek. Apabila Anda telah terbiasa dengan tontonan sejenis – saya tidak akan mengkomparasinya dengan judul tertentu demi menghindari spoiler, meski yang jelas, yah film-film Joko Anwar – maka tidak susah untuk menyatukan kepingan-kepingan puzzle yang dengan sengaja diberantakkan untuk Anda susun sendiri. Namun jikalau ini yaitu pengalaman pertama, maka kunci utama demi merampungkan permainan pikiran ini yaitu dengan berkonsentrasi secara penuh. Sebisa mungkin hindari mengutak-atik ponsel – kecuali ada urusan yang teramat penting – atau permisi sejenak ke kamar kecil alasannya setiap detik berharga. Setelah berada di jalan yang benar, maka besar kemungkinan Anda sanggup melahap Belenggu dengan nikmat. Jika benar-benar membutuhkan pemberian untuk memecahkan misteri, maka ada tiga hal yang patut Anda cermati; Jingga, pemerkosaan, dan pembunuhan. Ya, Jingga yaitu tokoh yang memegang tugas sentral terhadap pergerakkan kisah. Tidak sepatutnya tokoh ini Anda kesampingkan begitu saja. Dengan beban berat yang ditanggungnya, Imelda Therinne sanggup menghidupkan tokoh maha penting ini dengan cemerlang. Dingin, misterius, tetapi juga rapuh. 
Di menit-menit pertama hingga setidaknya selesai dari paruh pertama, Belenggu cenderung gampang untuk ditebak. Rasa-rasanya Anda pun sanggup menyimpulkan apa yang bahwasanya terjadi hanya dengan melihat keseharian dan tingkah laris Elang. Sama sekali tidak susah. Akan tetapi, Upi menyadari bahwa akan menjadi dingin apabila misteri dilarang hanya pada seputar identitas Elang belaka. Untuk itu, dimunculkan ‘twist’ berlapis demi tetap menahan perhatian penonton. Bagi saya, ini sungguh mengasyikkan. Setelah satu belahan puzzle terselesaikan, Upi menyodori Anda dengan belahan puzzle lain untuk dituntaskan. Setelah keduanya berhasil disatukan, maka segala tanggapan yang Anda cari selama kurang lebih 100 menit terpampang dengan terang di depan mata. Segala kenikmatan dalam menyatukan kepingan-kepingan yang tercecer dengan manis ini kian terasa memesona berkat kinerja departemen artistik yang berhasil membangun set dengan sangat baik hingga memunculkan suasana yang senantiasa suram dan penuh misteri. Jika ada yang hendak saya keluhkan, maka itu yaitu kemunculan plat nomor B dan logo taksi Jakarta. Itu artinya, film berlatar di Jakarta? Jika memang benar begitu, sungguh disayangkan. Andaikan Belenggu berlatarkan sebuah kota antah berantah layaknya Kala, intimasi akan terbangun lebih efektif. 
Pun begitu, sekalipun Belenggu tidak benar-benar memunculkan sebuah gagasan yang segar, namun film tidak lantas terhidang sebagai sebuah sajian yang basi. Upi memerhatikan segala detil dengan sangat serius, terlebih wacana sinematografi, tata artistik serta departemen akting. Inilah yang menjadi titik kekuatan dari film. Ketiga departemen ini saling menopang satu sama lain sehingga bisa mengangkat kualitas film secara keseluruhan. Twist yang berlapis, meski sesekali Upi tampak kebingungan hendak membawanya kemana, juga memberi pengalaman yang mengasyikkan dalam menikmati film. Adegan yang paling saya sukai dari Belenggu yaitu adegan kendaraan beroda empat dimana lagu ‘Gadis Jelita’ diperdendangkan. Ini berarti, pembuka dan penutup. Sebuah cara yang luar biasa manis untuk memulai serta mengakhiri kisah. Belenggu yaitu sebuah lompatan yang kasatmata bagi karir Upi sebagai sutradara sekaligus penulis skrip. Terlepas dari segala kekurangan yang ‘membelenggu’ film untuk berkembang lebih jauh, Belenggu sangat layak untuk mendapat apresiasi lebih dari penikmat film di Indonesia.

Exceeds Expectations