July 2, 2020

Review : Belok Kanan Barcelona


“His future is yours, but his past was mine. You can’t change that.” 
(Ulasan di bawah ini agak nyerempet spoiler)

Kala berbincang dengan seorang mitra usang usai menonton sebuah film di bioskop, beliau berkata, “aku ingin sekali menonton film ini,” seraya menunjuk ke poster Belok Kanan Barcelona. Alasan yang mendasari ketertarikannya pada judul tersebut ada dua: pertama, beliau menyukai bahan sumbernya yakni buku rekaan empat penulis (Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, Iman Hidajat) berjudul Travelers’ Tale – Belok Kanan Barcelona (2007) yang dibacanya semasa kuliah, dan kedua, beliau menggemari premis klasik mengenai “jatuh cinta pada sahabat”. Saya hanya bisa mengangguk-angguk karena belum pernah membaca novelnya sehingga citra mengenai apa yang bisa diantisipasi dari guliran penceritaannya masih kabur. Tapi ketika bahan promosi mulai diluncurkan satu demi satu, ada rasa ingin tau yang menggelitik. Modifikasi premisnya yang mengupas perihal planning mengutarakan rasa suka jelang ijab kabul sobat yang ditaksir melontarkan ingatan ke My Best Friend’s Wedding (1997) dan Made of Honor (2008), dan saya juga kepincut karena Belok Kanan Barcelona mengambil jalur komedi romantis (satu jalur yang jarang ditempuh oleh film percintaan di tanah air) dengan bubuhan kisah berkelana ke banyak sekali negara yang secara otomatis menjanjikan pemandangan memanjakan mata. Ditambah lagi, salah satu film termahal produksi Starvision ini menampilkan jajaran pemain utama yang memiliki jejak rekam mengesankan. Bagaimana bisa menolaknya? 

Dalam Belok Kanan Barcelona, penonton diperkenalkan kepada empat aksara yang dipertautkan oleh tali persahabatan, yakni Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli). Mereka dikisahkan telah akrab sedari duduk di kursi Sekolah Menengan Atas dan kini mereka memutuskan untuk berpisah jalan demi mewujudkan mimpi masing-masing. Francis yaitu pianis peserta Grammy yang bermukim di Amerika Serikat, Retno menekuni bidang kuliner di Belanda, Yusuf menempati jabatan tinggi dalam sebuah perusahaan di Afrika Selatan, dan Farah menjadi seorang arsitek di Vietnam. Meski keempatnya mendiami negara yang berbeda-beda, mereka mengupakan untuk tetap saling berkomunikasi dengan memanfaatkan teknologi. Mereka rutin menggelar group video call yang kemudian dimanfaatkan oleh Francis untuk memberi pengumuman penting, yaitu beliau akan menikahi kekasihnya, Inez (Millane Fernandez), di Barcelona, Spanyol. Kabar ini terperinci menciptakan Retno dan Farah yang menaruh rasa suka pada Francis seketika terhenyak. Ditengah kekecewaannya, Retno memutuskan untuk tiba ke ijab kabul Francis sekaligus mengutarakan perasaan beliau yang sesungguhnya, sementara Farah masih dirundung kegalauan karena terhalang oleh perjalanan bisnis. Saat Farah kesannya memantapkan diri untuk menghadiri ijab kabul Francis demi menyatakan cintanya, Yusuf yang semula tak berencana tiba pun seketika memutuskan bertolak ke Barcelona guna mencegah terjadinya kekacauan yang berpotensi meretakkan relasi persahabatan mereka berempat. 
Sebagai sebuah film yang mengatasnamakan dirinya sebagai komedi romantis, Belok Kanan Barcelona bahu-membahu tergolong menyenangkan untuk ditonton. Apa yang kau harapkan ada di film jenis ini, Guntur Soeharjanto (Ayat-Ayat Cinta 2, 99 Cahaya di Langit Eropa) mampu untuk memenuhinya. Momen yang bikin senyum-senyum bahagia? Ada. Momen yang bikin tergelak-gelak? Ada banyak bertebaran. Momen yang bikin manusia-manusia berhati sensitif merasa tersentuh? Bisa pula dijumpai. Mesti diakui, Belok Kanan Barcelona berada pada masa-masa terbaiknya ketika film mengaplikasikan mode kilas balik untuk memberi penonton citra mengenai relasi yang terjalin diantara Francis dengan Retno, Farah, beserta Yusuf sewaktu empat sekawan ini masih mengenakan seragam putih abu-abu. Tak sebatas dijabarkan sekenanya saja (atau sekadar melalui montase yang merangkum perjalanan Sekolah Menengan Atas mereka), si pembuat film menentukan untuk menjlentrehkan perihal persahabatan mereka dari awal mula saling berkenalan, kebersamaan mereka di sekolah maupun kala senggang, hingga tentu saja interaksi malu-malu tapi mau antara Francis dengan Retno. Saya mendapati kesan jenaka, manis, sekaligus mengasyikkan selama film mengajak kita bernostalgia ke zaman Sekolah Menengan Atas terlebih keempat pelakon utama membentuk chemistry amat meyakinkan sebagai sekumpulan sobat sampai-sampai ada kalanya saya pun berharap bisa memiliki sobat segila-gilaan ini. Segila Farah dan Yusuf. 
Ya, performa jajaran pelakon merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Belok Kanan Barcelona disamping selipan lagu-lagu pengiring yang membantu menyuplai emosi dalam beberapa adegan. Morgan Oey mengatakan karismanya sebagai Francis yang diidolakan para wanita di film ini, Mikha Tambayong menyimpan kegundahan dibalik pembawaan kalem nan meneduhkan hati yang lantas memicu terciptanya satu momen cukup emosional di pinggir pantai pada babak klimaks, Deva Mahenra menunjukkan keahlian ngelabanya yang sebelumnya telah diasah melalui Sabtu Bersama Bapak (2016) dan Partikelir (2018), dan Anggika Bolsterli yaitu hal terbaik yang dimiliki oleh Belok Kanan Barcelona. Betul, beliau memang pernah menggila di Mau Kaprikornus Apa (2017), tapi apa yang diperagakannya di sini berada dalam level berbeda yang meyakinkan saya bahwa beliau memiliki potensi untuk berkembang pesat apabila memperoleh naskah dan pengarahan yang tepat. Seluruh bahan dagelan yang dibebankan padanya mampu mengenai target (dengarkan intonasinya, perhatikan ekspresinya, tengok polahnya), dan beliau pun menangani adegan emosional dengan baik tanpa pernah membuatnya terasa janggal karena kiprahnya yang komikal. Permainan lakon keempatnya – plus satu dua pemain pendukung menyerupai Millane Fernandez dan Yusril Fahriza – memungkinkan kita memperoleh adegan cicip rendang yang mengharukan, pukul-pukul motor yang lucu sekaligus pilu, interaksi Francis-Retno yang manis, hingga ‘duel’ Yusuf-Farah yang mengocok perut. 


Segala keseruan masa Sekolah Menengan Atas yang mencuat dalam kilas balik ini, sayangnya tak berlanjut ke masa kini atau masa berilmu balig cukup akal yang cenderung cuek dan bermasalah. Diantara empat sekawan ini, hanya Francis yang dianugerahi plot cukup menggigit (thanks to Inez!) sementara milik Retno berlangsung menjemukan, kepunyaan Farah terasa menyebalkan akhir kehadiran Atta Halilintar yang cenderung mengganggu alih-alih lucu, dan segmen Yusuf yang sejatinya berpotensi menarik malah agak kelewatan dalam ngebanyol utamanya pada adegan pesawat yang tak saja terkesan dipaksakan kemunculannya tetapi juga terbilang offensive dengan menyebabkan pemuka suatu agama sebagai candaan ditengah situasi serba genting. Mengingat polesan CGI pun tak halus, saya sama sekali tak keberatan adegan ini dihempaskan apalagi bisa menghemat bujet (dan durasi). Persoalan yang melingkupi narasi masa berilmu balig cukup akal ini nyatanya terus berlanjut hingga ke konklusi yang menjadi titik lemah dari Belok Kanan Barcelona. Keinginan si pembuat film untuk menyelipkan unsur keagamaan (yang diniatkan sebagai dakwah?) ke dalam narasi dan memberi selesai senang dengan memenangkan cinta justru membuyarkan segala kesenangan yang telah dibuat oleh menit-menit sebelumnya. Solusi untuk memecahkan konflik kompleks yang diusung film, yakni perbedaan keyakinan, lagi-lagi cenderung menggampangkan dan bermain aman. Tiba-tiba saja si anu menganut agama baru, kemudian kembali ke pelukan pujaan hatinya. Seolah-olah berganti keyakinan semudah berganti baju, padahal kita sama-sama tahu bahwa problem keimanan tidaklah sesederhana itu. 
Jika pada kesannya diberi penyelesaian sedangkal ini, lantas mengapa si pembuat film mesti menubrukkan dua sejoli tersebut dengan konflik seberat itu sedari awal? Padahal film telah mengulik konflik dilandasi alasan tidak ingin merusak persahabatan, tapi enggan dieksplorasi lebih mendalam lagi. Apakah demi menghindari kesan klise? Jika benar demikian, apa yang salah dengan klise? Toh Belok Kanan Barcelona semata-mata diniatkan sebagai tontonan hiburan pelepas penat. Teman Tapi Menikah (2018) – dan setumpuk film komedi romantis anggun lain termasuk dua judul yang saya sebutkan di awal – pun telah membuktikan, narasi klise bukan jadi soal. Eksekusi dan chemistry pemain memegang peranan yang lebih penting. Belok Kanan Barcelona memang tak mengecewakan di poin kedua, tapi soal eksekusi, sayangnya cenderung naik turun. Kadang bagus, kadang sebaliknya. Andai saja Belok Kanan Barcelona tak bermain-main dengan informasi agama, bukan tak mungkin film ini masih bisa berubah menjadi sebagai film percintaan berbibit unggul yang layak dikenang serta nyaman ditonton berulang-ulang. Sungguh disayangkan.

Acceptable (3/5)