July 15, 2020

Review : Benyamin Biang Kerok


“Suruh mereka bikin jalan masuk khusus ke hapenya Pengki. Kalau gue kontak, ia kagak bisa reject. Kalau ia matiin, gue bisa hidupin!” 


Kesuksesan luar biasa yang direngkuh oleh Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss (jilid pertamanya tercatat sebagai film Indonesia paling banyak ditonton sepanjang masa) ternyata menginspirasi Falcon Pictures selaku rumah produksi untuk sekali lagi ‘melestarikan’ huruf legendaris dalam perfilman Indonesia. Kali ini, pilihan mereka jatuh kepada karakter-karakter yang dimainkan oleh pelawak sekaligus seniman kenamaan, mendiang Benyamin Sueb. Dua judul yang dipilih yakni Benyamin Biang Kerok (1972) dan Biang Kerok Beruntung (1973) garapan Nawi Ismail. Bukan berwujud remake maupun reboot, Benyamin Biang Kerok versi mutakhir ini sebatas meminjam judul beserta huruf saja tanpa ada kesinambungan wacana plot. Demi memperoleh hasil simpulan yang ciamik, tidak tanggung-tanggung Falcon pun merekrut Hanung Bramantyo guna menempati posisi sebagai dalang dan bintang film serba bisa Reza Rahadian sebagai pengganti posisi Benyamin Sueb. Di atas kertas, menyatukan dua nama besar di perfilman tanah air dikala ini (keduanya mengoleksi lebih dari satu Piala Citra lho!) untuk menafsirkan ulang film komedi klasik memang terlihat menjanjikan. Akan tetapi, apa yang terlihat begitu menjanjikan di atas kertas sayangnya acapkali tidak sejalan dengan realita di lapangan dan (sayangnya lagi) ini berlaku pada Benyamin Biang Kerok versi 2018. Alih-alih bisa menjadi ‘pewaris’ yang layak, film ini justru memberi kita definisi dari frasa ‘kacau balau’. 

Dalam Benyamin Biang Kerok interpretasi Hanung, sosok Pengki (Reza Rahadian) tidak lagi digambarkan sebagai seorang supir yang kerap menjahili majikannya dan mempergunakan kendaraan beroda empat sang majikan untuk tebar pesona kepada para perempuan. Di sini, ia dideskripsikan sebagai seorang cowok kaya raya yang tidak berguna. Yang dikerjakannya setiap hari tidak pernah jauh-jauh dari melatih bawah umur di kampung sebelah rumahnya untuk bermain sepakbola serta melakoni misi diam-diam bersama dua sahabatnya, Somad (Adjis Doaibu) dan Achie (Aci Resti). Bagi sang ibu, Nyak Mami (Meriam Bellina), yang menjalankan bisnis IT dengan sukses sampai-sampai mempunyai kekerabatan baik dengan para pemangku jabatan, apa yang dilakukan oleh Pengki tidak lebih dari kesia-siaan belaka. Dia sejatinya ingin melihat putranya tersebut lebih ibarat dirinya sebagai pebisnis ulung ketimbang ibarat suaminya, Babe (Rano Karno), yang menentukan untuk hidup sederhana. Ditengah upaya Nyak Mami melatih Pengki untuk menjadi pebisnis, Pengki justru terdistraksi dengan kehadiran seorang wanita berjulukan Aida (Delia Hussein) yang merupakan simpanan dari cecunguk kelas kakap, Said (H. Qomar). Demi menyelamatkan Aida yang telah menciptakan Pengki jatuh hati dari cengkraman Said sekaligus membebaskan warga kampung sebelah dari penggusuran, Pengki bersama Somad dan Achie pun merancang misi pembobolan ke markas Said. Suatu misi yang lantas semakin memperkeruh kekerabatan antara Said dengan Nyak Mami yang memang tidak terjalin baik. 


Sebetulnya, disamping kerja sama Hanung dengan Reza, faktor lain yang menciptakan Benyamin Biang Kerok tampak menarik hati di atas kertas yakni konsepnya yang menggugah selera. Coba dengarkan ini: satir sosial dengan sentuhan budaya Betawi ala Get Married (salah satu film terbaik garapan Hanung!) yang dibalut elemen laga dan fiksi ilmiah. Menarik sekali, bukan? Meski mirip bukan padupadan yang tepat, tapi ini sedikit banyak bisa membangkitkan ketertarikan terhadap film ini. Yang kemudian menciptakan Benyamin Biang Kerok ternyata tidak berjalan sesuai pengharapan yakni si pembuat film terjebak dengan konsep ambisiusnya sendiri sehingga mengalami kebingungan hendak membawa film ke arah mana. Sentilan sentilun terhadap info sosial politik yang berkembang di tanah air mirip penggusuran, penyuapan, hingga jual beli perempuan, dimunculkan sekenanya saja tanpa pernah dipergunjingkan lebih mendalam. Elemen fiksi ilmiahnya dihadirkan tanpa pernah memberi signifikansi apapun kepada penceritaan selain berusaha menciptakan film terlihat keren. Unsur Betawi hanya dimanfaatkan sebagai penghias semoga tuntutan ‘memboyong kearifan lokal’ bisa terpenuhi. Dan guliran laganya yang memperoleh sentuhan dari film spionase tidak sanggup memompa adrenalin penonton. Semua-muanya dimasukkan begitu saja sampai-sampai terasa saling tumpang tindih. Pokoknya yang penting meriah walau ini berarti kemeriahan yang kosong dan hambar. Dalam melontarkan canda tawa yang merupakan jualan utamanya pun, nyaris tak terhitung berapa kali Benyamin Biang Kerok terpeleset dan kesulitan mengenai sasaran secara tepat. 

Ini sanggup dikategorikan persoalan besar karena Benyamin Biang Kerok memproklamirkan dirinya sebagai film komedi. Perlu diketahui bersama bahwa dosa terbesar dari sebuah film komedi yakni dikala bunyi jangkrik di kebun sebelah malah terdengar lebih membahana ketimbang bunyi derai tawa penonton di dalam bioskop. Dalam artian, kegaringannya lebih faktual nan manja daripada kelucuannya. Benyamin Biang Kerok, sayangnya (menghela nafas panjang)….. merangkul akrab dosa tersebut kolam sahabat karib. Selama durasi merentang hingga 95 menit, total jendral hanya sebanyak dua kali sanggup terkekeh-kekeh kecil sementara sisanya hanya bisa memasang muka datar plus kebingungan karena menerka-nerka dimana letak kelucuannya. Kebingungan juga dipersembahkan oleh tanya, “bukankah sutradara film ini yakni orang yang sama dengan pembuat Get Married yang lucunya ger-geran itu? Lalu kenapa di sini sensitivasnya dalam ngelaba bisa tiba-tiba raib? Apa alasannya (lagi-lagi) film ini keberatan konsep?”. Belum juga menemukan jawab atas pertanyaan tersebut, belum juga benar-benar bisa menikmati film, Benyamin Biang Kerok mendadak menawarkan kejutan sangat menyakitkan: cliffhanger (ending menggantung alasannya bersambung). Tidak mirip Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 yang memenggalnya dengan halus – bahkan menginformasikan melalui judul bahwa film terdiri lebih dari satu jilid, Benyamin Biang Kerok melakukannya secara agresif yang menciptakan penonton seketika heboh. Bahkan sinetron di layar kaca yang tayang saban hari lebih halus dalam memberi cliffhanger (serius!). Jika memang diniatkan dibagi ke dalam dua jilid, kenapa tidak ada transparansi sedari awal sehingga penonton tidak merasa dicurangi? Lagipula, apa plot film memang sedemikian padatnya hingga harus dipaksa direntangkan ke dua judul? 
Kesemrawutan yang menghiasi sepanjang durasi Benyamin Biang Kerok semakin terasa tepat berkat keputusan si empunya film untuk mengakhiri durasi secara semena-mena. Alhasil, sebelum melangkahkan kaki ke luar bioskop, saya mengoleskan minyak angin aromatherapy ke kepala terlebih dahulu semoga tidak pingsan. Ini sungguh suatu ujian, Tuan dan Nyonya! Padahal, andaikata tidak diperparah oleh cliffhanger (serius, sakit hatinya mirip ditikung), Benyamin Biang Kerok sejatinya masih bisa (sedikit) dimaafkan. Penyelamatnya yakni performa tiga pemain utamanya; Reza Rahadian, Meriam Bellina, dan H. Qomar, yang cukup anggun ditengah segala keterbatasan. Meski lebih sering terlihat mengimitasi Benyamin Sueb daripada berlakon sesuai interpretasi pribadi, Reza tetap sanggup menawarkan energi tersendiri pada film berkat kehadirannya. Hal yang sama berlaku pula pada Meriam sebagai emak-emak galak yang interaksinya bersama Reza berikan dua adegan lucu yang menciptakan saya terkekeh dan H. Qomar sebagai villain jenaka nan mengancam. Tanpa performa mereka, tidak bisa dibayangkan betapa kering kerontangnya film ini. Bisa-bisa elemen musikal yang untungnya tergarap asyik – menampilkan Pengki berdendang dan berlenggak-lenggok bersama beberapa huruf pembantu – akan menjadi penyelamat tunggal Benyamin Biang Kerok.

Poor (2/5)