December 3, 2020

Review : Bid’ah Cinta


“Anugerah terbesar dari Allah buat insan itu cinta. Tanpa cinta, insan itu cuma saling benci.” 

Persoalan asmara terhalang tembok tinggi menjulang berwujud agama di Indonesia telah jamak diungkit-ungkit. Dalam khasanah film Indonesia kontemporer sendiri, kulikannya sanggup dijumpai dalam Ayat-Ayat Cinta (2008), Cin(t)a (2009), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010), hingga Cinta Tapi Beda (2012). Isunya memang terbilang seksi, sekalipun solusinya kerap main kondusif karena rentan mengundang kontroversi tak perlu jikalau si pembuat film lantas mengambil penyelesaian yang memenangkan “cinta” alih-alih “agama”. Barangkali dilatari keengganan memicu keributan di kurun masyarakat yang kian gampang mengencang urat syarafnya ini, polemik asmara satu keyakinan beda paham tak juga diangkat oleh sineas tanah air padahal kasusnya di ruang publik tak kalah marak dibanding beda keyakinan (oh ya, kerap menjumpai pasangan gagal menikah disebabkan satu pihak menganut manhaj/metode A sementara pihak lain mengaplikasikan manhaj B). Beruntunglah Nurman Hakim yang sebelumnya gelontorkan realita kehidupan pesantren dalam 3 Doa 3 Cinta serta sentil atribut relijius di Khalifah, bersedia memberi publik kesempatan buat melongok dongeng cinta terbentur paham melalui Bid’ah Cinta. Seperti halnya kedua film reliji buatan Nurman terdahulu, Bid’ah Cinta pun lebih dari sekadar berbincang soal “cinta terlarang” yang bahwasanya pemberi jalan saja ke duduk kasus lebih besar mengenai kian rumitnya kehidupan beragama di Indonesia pandai balig cukup akal ini. 

Karakter utama Bid’ah Cinta ialah dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, Khalida (Ayushita Nugraha) dan Kamal (Dimas Aditya). Berasal dari dua keluarga dengan pemahaman soal Islam yang bertentangan, menyulitkan keduanya untuk secepatnya melenggangkan kekerabatan ke ikatan pernikahan. Khalida ialah putri bungsu dari Haji Rohili (Fuad Idris), penganut Islam tradisional yang masih melestarikan warisan ulama-ulama terdahulu ibarat tahlil, Maulid Nabi, serta ziarah kubur, sedangkan Kamal ialah putra semata wayang dari Haji Jamat (Ronny P. Tjandra), penganut Islam puritan yang menganggap amalan di luar Al-Qur’an dan Hadits ialah sebuah bid’ah – secara bahasa bermakna menciptakan sesuatu tanpa ada tumpuan sebelumnya. Dilingkupi cinta, sejatinya kekerabatan antara Khalida dengan Kamal baik-baik saja meski tak sanggup dihindari ada kalanya mereka berseteru soal pandangan agama. Perseteruan keduanya kian memanas tatkala Ustad Jaiz (Alex Abbad) dari kelompok Islam puritan makin menancapkan pengaruhnya di kampung daerah mereka bermukim. Khalida gerah melihat tindak semena-mena dari para santri Ustad Jaiz yang menguasai masjid kampung sebagai daerah peribadatan pribadi bagi kelompok mereka, sementara Kamal yang menganggap amalan Haji Rohili dan para santrinya sebagai bid’ah (dan itu berarti dosa jikalau dilakukan) melihat tidak ada yang salah dari tindakan pengikut Ustad Jaiz yang semata-mata hanya ingin menegakkan iktikad Islam. 

Ketimbang semata-mata membawa penonton pada menu roman religi mengharu biru yang sarat akan tangis menangis akhir jalan terjal yang harus dilalui oleh Khalida dan Kamal hanya untuk bersatu dengan elemen religi ditempel sekenanya saja, Bid’ah Cinta justru sodorkan potret nyata, menyentil nan mengusik pikiran atas situasi bermasyarakat di tanah air dalam beberapa tahun belakangan yang kerap diwarnai perseteruan antar umat Islam dengan warna kelompok berlainan. Nurman tak bermaksud menyanjung kelompok tertentu kemudian menyudutkan kelompok seberang ibarat disangkakan ratusan netizen di kolom komentar “trailer Bid’ah Cinta” dalam Youtube karena film sejatinya hendak mempromosikan pesan mengenai toleransi yang agaknya mulai dilupakan oleh masyarakat Indonesia yang beragam ini. Sebagai percontohan, Bid’ah Cinta menentukan Islam tradisional atau pro-tradisi dan Islam puritan yang memang kerap bersinggungan setidaknya di Jawa, kemudian dihadirkan pula sosok cowok pengangguran yang kerap mabuk-mabukkan dan bencong berjulukan Sandra (Ade Firman Hakim) diantara kedua kelompok tersebut. Tidak ada keberpihakan secara eksplisit dari si pembuat film – walau tidak salah juga apabila ingin menawarkan posisinya – dengan masing-masing kelompok digambarkan memiliki titik lemahnya. Dalam artian, bukan dari fatwa melainkan adanya satu dua penganut yang kebablasan sehingga sedikit banyak berkontribusi atas pembentukan gambaran Islam secara keseluruhan. Dari Islam tradisional diwakili sosok abang Khalida (Yoga Pratama) yang kerap memberi label ‘teroris’ terhadap Kamal sekalipun secara pemikiran, dirinya malah cenderung lebih radikal ketimbang Kamal.

Dari Islam puritan, sumbernya ialah kawan-kawan usang Ustad Jaiz dari pondok. Sebelum kehadiran mereka, ada harmoni dalam keseharian warga kampung: sholat berjamaah, masjid terbuka luas bagi siapapun yang hendak beribadah maupun menggelar kegiataan keagamaan tanpa ada batasan, dan tiada gesekan-gesekan konflik antara Ustad Jaiz dengan Haji Rohili. Ya memang benar ada kalanya Haji Rohili bawel soal konten dakwah Ustad Jaiz maupun penyampaiannya yang berapi-api, begitu pula Ustad Jaiz beserta para santrinya yang geleng-geleng kepala melihat praktek bid’ah yang terus dijalankan. Namun kedua belah pihak yang mengaplikasikan metode berbeda dalam menafsirkan fatwa Islam ini tidak pernah berbenturan satu sama lainnya karena tidak pernah ada niatan untuk melaksanakan intervensi terbuka di ruang publik. Seakan menyadari, samawi ialah urusan personal. Kehadiran kawan-kawan usang Ustad Jaiz lah akar dari segala masalah. Mereka menawarkan perilaku sama sekali tak dekat atau sanggup juga dikata “kecongkakan religius” – menempatkan diri sebagai Tuhan dengan segala penghakiman-penghakimannya. Langkah pertama yang dilakukan ialah menguasai Masjid, mengharamkan segala bentuk acara diluar fatwa yang tertuang di Al-Qur’an dan Hadits. Tidak berhenti hingga disana, mereka pun menghalangi Sandra yang selama ini diterima dengan baik untuk sholat dan berujung pada pengusiran dari masjid. 

Perebutan masjid memang konkret adanya – saya pernah menyaksikannya secara langsung di Semarang beberapa tahun lampau ketika merantau dan hampir saja terjadi di kampung halaman – kemudian bagaimana dengan bencong dihentikan beribadah? Mungkin sekali pernah dijumpai kasusnya. Kedekatannya pada realita inilah yang memudahkan untuk terhubung pada jalinan pengisahan yang ditawarkan oleh Bid’ah Cinta. Sekalipun bukan terhitung provokatif, malah penyampaiannya sesekali lucu, kebesaran hati disertai keterbukaan pikiran tetaplah perlu dijadikan sebagai landasan utama semoga sanggup mencerna maksud dibalik paparan Nurman dalam film ini yang sekali lagi perlu ditekankan yakni mengajak penonton bersikap toleran alih-alih memecah belah umat. Apabila kedua syarat tersebut telah terpenuhi, Bid’ah Cinta akan berubah menjadi menjadi tontonan bernutrisi bagi otak. Mewartakan berita bermanfaat untuk awam, sementara mereka yang pernah berada (atau minimal mengetahui) dalam situasi serupa dihadapi para penduduk kampung di film diajak untuk berpikir, melaksanakan perenungan mendalam, serta berdiskusi cerdas bersama kawan. Bukankah akan bikin adem hati apabila setiap Muslim bersedia untuk mendapatkan perbedaan ibarat ditampakkan pada adegan mula-mula dan penghujung Bid’ah Cinta? Mengingat aksara etnisitas kebangsaan di Indonesia tergolong beragam, tak pelak perbedaan akan senantiasa menyertai dan satu-satunya cara untuk menjembatani perbedaan ialah merayakannya. Menghargainya. Atau ibarat kata Kamal, dengan cinta. Sungguh sebuah film yang bagus!

Outstanding (4/5)