July 12, 2020

Review : Bodyguard Ugal-Ugalan


🎵 Lihat saya pandang saya di kiri di kanan, 
di depan di belakang sambil muter-muter, 
pasti terpesona pusing tujuh keliling, 
jantung berdegup keras, 
gubrak gubrak gubrak jeng jeng jeng… 🎵

Begitulah suara sepenggal lirik dari tembang terbaru Syahrini berjudul “Gubrak Gubrak Gubrak Jeng Jeng Jeng” yang dimanfaatkan sebagai lagu tema utama untuk Bodyguard Ugal-Ugalan. Isi liriknya sih cenderung suka-suka penggubahnya (pokoknya masukkan saja jargon-jargon andalan Syahrini) sebab yang lebih penting ialah iramanya sanggup bikin khalayak bergoyang. Entah denganmu, tapi buat saya pribadi, lagu ini memang catchy. Baru sekali mendengarnya, kuping pribadi kecantol dan tombol replay pun dimanfaatkan. Gara-gara lagu ini, keinginan untuk menyaksikan Bodyguard Ugal-Ugalan pun semakin menguat (yang berarti fungsinya sebagai media promosi berjalan sukses). Sebelumnya, keinginan tersebut muncul semata-mata demi menyaksikan tingkah laris asing Princess Syahrini seraya menghibur diri yang memang sedang terjangkit suntuk. Tidak ada ekspektasi lain. Ya gimana mau berekspektasi, lha wong film ini mengaplikasikan formula bercerita yang sejenis dengan Komedi Moderen Gokil (2015) dan Security Ugal-Ugalan (2017) – keduanya juga diproduksi oleh MD Pictures – yang bikin saya manyun sepanjang durasi. Alhasil, dikala tetapkan membeli tiket untuk Bodyguard Ugal-Ugalan, keinginan saya tidak lebih dari sanggup tergelak sebab menyaksikan Inces (sapaan dekat Princess Syahrini) bermanjyah-manjyah ria di layar lebar. Seperti itu. 

Dalam Bodyguard Ugal-Ugalan, Syahrini memerankan dirinya sendiri. Seorang penyanyi pop papan atas yang mempunyai gaya hidup mewah dan tingkah laris kenes. Suatu hari, rumah Syahrini dibobol oleh segerombolan orang yang mengenakan topeng. Mengingat dalam waktu dekat Syahrini akan mengadakan konser tunggal di Istora Senayan, maka beliau dan manajernya, Nina (Ririn Ekawati), pun tetapkan untuk menyewa sejumlah pengawal demi memastikan keamanannya. Syahrini meminta pertolongan kepada teman lamanya, Erin (Tamara Bleszynski), yang menjalankan perjuangan jasa keamanan berjulukan The Guardians. Tentu saja, seruan Syahrini kepada Erin tidaklah biasa-biasa saja. Ketimbang meminta pengawal berbadan kekar dan bertampang sangar, Syahrini justru meminta pengawal yang secara tampang sanggup dikategorikan unyu dan cupu. “Kalau wajahnya terlalu sangar, kita malah ketakutan sendiri,” begitu Inces dan Nina memberi alasan. Berdasarkan seruan sang sahabat, Erin pun menugaskan Boris (Boris Bokir), Lolox (Lolox), Acho (Muhadkly Acho), Anyun (Anyun Cadel), dan Jessica (Melayu Nicole), yang sebagian diantaranya bekerjsama telah dipecat, untuk memastikan keamanan Syahrini. Mereka ikut kemanapun Princess hempas, baik itu makan malam maupun berlibur untuk menenangkan diri. Tapi seberapa keras perjuangan mereka menjaga Syahrini (oke ini berlebihan, sebab mereka nggak ngapa-ngapain), tetap saja kecolongan. Inces diculik!

Kaget? Menurut Andaaaa? Sinopsis dan trailer resmi dari Bodyguard Ugal-Ugalan telah dengan sangat terang (dan detil) dalam menegaskan bahwa Syahrini akan menjadi korban penculikan. Tapi demi memberi imbas dramatis, tidak apa-apa berpura-pura kaget, yekannn? Toh filmnya sendiri memang tidak pernah menganggap dirinya serius. Bodyguard Ugal-Ugalan ialah suatu jenis film yang mesti ditonton dengan pikiran terbuka dan lapang dada. Apabila kau berusaha mengkritisinya sedemikian rupa, menemploki setiap adegan dengan cibiran dan semacamnya, hati justru akan terasa pengap (kemrungsung, dalam Bahasa Jawa), kemudian dongkol bukan kepalang. Tidak ada faedahnya mengomentari film yang memang sedari awal diniatkan tidak berfaedah. Akibatnya, unfaedahception (halah!). Pelajaran itu saya dapatkan sehabis menonton Komedi Moderen Gokil dan Security Ugal-Ugalan yang ternyata gaya ngelawaknya tidak cocok di hati Abang. Persamaan Bodyguard Ugal-Ugalan dengan kedua film tersebut ialah formula bertuturnya yang tersusun dari sekumpulan sketsa. Mudahnya, mirip Warkop DKI lah. Tidak ada kesinambungan berarti antara skema satu dengan lainnya kecuali melibatkan Inces dan para pengawalnya. Ketidaksinambungan ini bahkan merembet dikala film instruksi Irham Acho Bahtiar (Epen Cupen the Movie, Security Ugal-Ugalan) ini mencoba sedikit bercerita. Terasa putus dan nggak nyambung, cuy! Jidat ini secara otomatis mengkerut, tapi kemudian kembali mulus dalam sepersekian detik dikala saya mencoba mengubah cara pandang dan teringat tujuan awal menontonnya: menertawakan Syahrini. 

Kesannya julid banget nggak sih menyampaikan ‘menertawakan Syahrini’? Tapi mau bagaimana lagi, Inces sendiri yang membangun personal branding dengan kata kunci ‘kenes tapi konyol’ untuk dirinya. Tugas Bodyguard Ugal-Ugalan hanyalah mengeksploitasi persona Syahrini sedemikian rupa. Kesanggupanmu untuk tertawa tergelak-gelak di film ini seringkali dipengaruhi oleh faktor ‘seberapa jauh kau sanggup menolerir tingkah laris asing Syahrini’. Apabila kau tidak pernah menganggapnya lucu, maka film ini hempassssskan segera dari daftar tontonanmu. Tapi kalau kau terpesona dengan tingkahnya yang cetar membahana, sanggup jadi Bodyguard Ugal-Ugalan ialah film yang manjyahhh untukmu. Berhubung saya memang menggemari kelakuan Syahrini, saya pun merasa film ini kasatmata manjanya. Hal yang sama berlaku pula pada gaya ngelaba yang diaplikasikan oleh film: bisakah kau mendapatkan guyonan receh sereceh recehnya yang dilontarkan oleh para komika? Beberapa skema yang ditampilkan di sini memang tidak asli (beberapa sanggup kau jumpai di internet), tapi rekonstruksi dengan pemain yang sempurna mirip Boris Bokir, Lolox, dan Muhakdly Acho, membuatnya tetap sesekali jitu dalam mengundang tawa. Saya pun tertawa. Mungkinkah ini yang disebut sebagai ‘guilty pleasure’? Saya meyakini ya, terkadang film mirip ini pun kita butuhkan. Setidaknya, untuk target market-nya (penggemar para komika dan Inces), Bodyguard Ugal-Ugalan tergolong sukses. Hey, mereka tertawa lepas di hampir sepanjang durasi lho! Lagipula, film ini memang tidak pernah diniatkan sebagai tontonan serius jadi cara untuk meresponnya ialah dengan tidak meresponnya secara serius. Bukankah mirip itu?

Karena saya sanggup dibentuk tertawa berkali-kali dan sedang tidak ingin julid > Acceptable (3/5) > Sesuatu yekannn?