October 19, 2020

Review : Brave


If you had a chance to change your fate, would you?” – Merrida 

Yang bisa saya katakan seusai menyaksikan Brave di layar bioskop beberapa waktu kemudian yaitu saya tercengang. Seraya menunggu post-credit scene datang, saya duduk melongo beberapa ketika seraya berusaha mengumpulkan potongan-potongan memori yang tersebar yang menggabungkan antara adegan-adegan dalam film tersebut dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan nyata. Sungguh, saya belum pernah seemosional itu semenjak awal tahun ini. Saya pun sama sekali tidak menyangka akan merasa sangat terpengaruh serta terlibat di dalamnya. Saat menyaksikan trailernya, Brave tak terkesan akan menjadi sebuah suguhan yang seindah ini terlebih Pixar tidak lagi menjadi studio animasi yang maha perkasa dalam beberapa tahun belakangan. Maka ketika ekspektasi saya tekan serendah mungkin, bahkan saya sendiri awalnya tidak mengetahui film ini akan bercerita mengenai apa, maka sebuah kejutan manis menghampiri saya. Berharap menerima kecupan di pipi dari seorang gadis, malah justru diberi kecupan di bibir. Bolehlah kebanyakan orang menyebut Madagascar 3: Europe’s Most Wanted sebagai film animasi terbaik di tahun 2012 sejauh ini, akan tetapi saya tetap berpegang teguh Brave yaitu yang terbaik. Sebuah kejutan manis yang sama sekali tidak saya sangka. 

Dalam film besutan Mark Andrews dan Brenda Chapman ini, setting berpindah ke Skotlandia dan tokoh utama diserahkan kepada seorang putri pembangkang berjulukan Merrida (Kelly Macdonald). Jangan bayangkan Merrida ibarat putri khas Disney yang anggun, lemah lembut, penuh kasih sayang, dan senantiasa tampil cantik. Tingkah laris putri sulung dari Ratu Elinor (Emma Thompson) dan Raja Fergus (Billy Connolly) ini luar biasa liar, sama sekali tidak terlihat keanggunan yang biasanya dimiliki oleh seorang putri mahkota. Karakter Merrida yang keras, tangguh, dan menyukai tantangan merupakan warisan dari sang ayah. Dia enggan untuk patuh kepada hukum yang ada. Inilah yang dipermasalahkan oleh Ratu Elinor. Dia menuntut anaknya untuk berperilaku selayaknya seorang putri. Ratu Elinor telah mempunyai planning untuk putrinya, bahkan jauh sebelum Merrida dilahirkan. Segalanya telah diatur oleh sang ratu. Dasar bandel, semakin dikekang, Merrida malah justru semakin menggila. Tidak ada bedanya antara Merrida dengan ketiga adik laki-lakinya yang tingkah polahnya selalu bikin gemas penonton. 

Hingga sekitar setengah jam film mengalir, saya pun bertanya-tanya, dimana konfliknya? Apakah beruang besar berjulukan Mor’du yang muncul di awal film dan merenggut kaki kiri Raja Fergus akan muncul kembali sebagai ‘villain’ yang keji? Rupanya tidak. Merrida menolak untuk menjalankan planning yang telah disusun secara rapi oleh Ratu Ellinor selama bertahun-tahun. Dia tidak ingin menjalani kehidupan layaknya sang ibu. Merrida sama sekali tidak menaruh minat untuk mengemban tanggung jawab kerajaan dan tak menyetujui perjodohan hanya demi memperkokoh posisi klan mereka. Penolakan sang putri menciptakan Ratu Ellinor geram. Pertengkaran antara ibu dan anak pun tak terelakkan. Dikuasai oleh emosi yang memuncak serta tak bisa berpikir jernih, kedua belah pihak melaksanakan sebuah kesalahan besar yang membawa sebuah perubahan yang signifikan terhadap kehidupan mereka. Tanpa mengandalkan sosok villain yang dominan, Brave tetap bisa mengaduk-aduk emosi melalui hubungan Merrida dengan Ratu Ellinor yang tarik ulur. 

Siapapun yang pernah mengalami sebuah fase transisi dari seorang remaja labil menuju cukup umur hampir sanggup dipastikan pernah mencicipi bagaimana rasanya cekcok dengan orang bau tanah seputar masa depan. Si orang bau tanah telah menciptakan perencanaan yang matang, sementara si anak enggan mengikuti dan menentukan untuk menciptakan jalan hidupnya sendiri. Beberapa anak menentukan untuk ‘manut’ dengan perkataan orang bau tanah sedangkan yang lain menentukan untuk menentang. Dimanakah posisi Anda? Adanya keterkaitan secara personal inilah yang menciptakan saya sulit untuk tidak jatuh hati kepada Brave, apalagi ending-nya sangat menyentuh. Pixar berkampanye ihwal meningkatkan intensitas komunikasi dari hati ke hati antara orang bau tanah dengan anak sehingga miskomunikasi sanggup terhindarkan. Sebuah pesan penting yang dikemas dalam film animasi 3D dengan grafis yang luar biasa indah, lembut dan detil serta ditimpali dengan humor yang menyegarkan, petualangan yang seru serta drama yang memikat. Brave memang belum bisa mengembalikan Pixar ke posisi puncak, akan tetapi ini yaitu sebuah peningkatan yang melegakan dari Cars 2. Anak-anak dijamin menyukainya. 

Note : Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop sebab Brave mempunyai post-credit scene di ujung film. Bersabarlah menanti. 

Exceeds Expectations