October 22, 2020

Review : Bridget Jones’s Baby


“Well, I can always find time to save the world. And Bridget, you’re my world.” 

Pasca bersatunya Bridget Jones (Renee Zellweger) dengan Mark Darcy (Colin Firth) di penghujung Bridget Jones: The Edge of Reason – sebuah sekuel kebablasan nan menggelikan bagi Bridget Jones’s Diary – ditambah resepsi kurang memuaskan bagi film kedua, sesungguhnya tidak banyak yang mengantisipasi keberadaan jilid ketiga terlebih rentang waktunya sudah terlampau panjang (lebih dari satu dekade lho!). Namun ternyata pihak studio, Working Title, belum siap untuk memberhentikan franchise ini begitu saja. Mereka lantas merekrut kembali dream team dari seri-seri terdahulu, termasuk Hugh Grant yang kemudian memutuskan hengkang di tengah-tengah pengembangan proyek, dan melahirkan film ketiga bertajuk Bridget Jones’s Baby yang sekali ini bahan ceritanya tidak diekranisasi dari novel buatan Helen Fielding selayaknya dua film pertama melainkan hasil urun rembuk Fielding bersama Dan Mazer dan Emma Thompson. Hasilnya, sebuah nostalgia manis pula menhangatkan hati yang akan mengingatkanmu kembali mengapa sosok Bridget Jones banyak dicintai oleh bermacam-macam kalangan.

Dibuka dengan gaya khas franchise ini – Bridget Jones karam dalam kesendiriannya seraya menenggak alkohol dan diiringi langgam mendayu-dayu All by Myself – secara cepat kita disuguhi informasi bahwa protagonis kita telah menapaki usia 43 tahun. Di usia kepala empat, Bridget seolah telah memperoleh kebahagiaannya: beliau tumbuh lebih cukup umur dalam hal pemikiran, mendapat berat tubuh yang selama ini dianggapnya ideal (yay!) dan menduduki jabatan prestisius sebagai produser televisi. Tapi dibalik sederet pencapaian tersebut, kehidupan asmara Bridget masih saja berantakan. Sang pangeran, Mark Darcy, meninggalkannya dan membina rumah tangga bersama wanita lain, sedangkan Daniel Cleaver diduga tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Demi merayakan kelajangannya, Bridget mengiyakan permintaan rekan kerjanya, Miranda (Sarah Solemani), untuk gila-gilaan di pameran musik yang lantas mempertemukannya dengan Jack Qwant (Patrick Dempsey). Keduanya sekadar bekerjasama seksual satu malam saja tanpa pernah ada tindaklanjut di kemudian hari. 

Kita pun bertanya-tanya, “dimana si bayi yang menjadi tajuk utama dari film?.” Nah, itulah akar permasalahan yang dikulik oleh film isyarat Sharon Maguire (turut menyutradarai Bridget Jones’s Diary) ini. Selepas berasyik masyuk bersama Jack, dilanjut dengan Mark yang mengaku sedang mengurus berkas-berkas perceraian, Bridget mendapati dirinya berbadan dua. Lantaran jarak waktu kedua korelasi tubuh berdekatan plus heroine film romansa komedi kesayangan masyarakat Britania Raya ini secara sembrono mengenakan kondom kadaluarsa, Bridget tak sanggup benar-benar memastikan sperma siapa yang berkontribusi besar atas terbentuknya janin. Penonton pun dibentuk menerka-nerka, “siapa ya kira-kira ayah kandung dari bayi Bridget?.” Dari pertanyaan tersebut, tim peracik skenario mengembangkannya menjadi plot mengikat yang didalamnya bertaburan ranjau-ranjau tawa yang siap meledak saban menit. Candaan-candaannya segar pula cerdas – beberapa kemunculan mengejutkannya akan membuatmu guling-guling andal di lantai bioskop (and I won’t spoil that!) – yang alih-alih mendistraksi justru kian memperkuat bangunan kisah maupun karakteristik tokoh-tokoh tertentu. Sedikit banyak melemparkan ingatan pada Diary

Selain itu, ada pula cita rasa manis yang terbentuk dari kekerabatan antara Bridget bersama Mark serta Jack dan sensitifitas bernuansa hangat ketika Bridget menapaki babak gres dalam hidupnya yang sempat bolos dari film kedua. Menguatnya naskah, dibarengi pula oleh performa elok dari setiap pemainnya. Renee Zellweger yaitu Bridget Jones yang kita kenal dari film pertama dengan segala pesona berbalut kekikukan menghiburnya dan presisi comic timing yang jitu, Colin Firth memberi kita citra atas seorang gentleman sejati khas Inggris melalui karismanya, sementara Patrick Dempsey menguarkan kesan charming berpengaruh sebagai miliarder asal Amerika yang digilai para perempuan. Dempsey tampil harmonis kala disandingkan dengan dua lawan mainnya tersebut – utamanya Zellweger, tentu saja, sehingga kita maklum mengapa Bridget kesengsem pula padanya – sekaligus menghadirkan kesejukan tersendiri sampai-sampai penonton tidak mencicipi kekosongan berarti karena ditinggal pergi Hugh Grant. Jika benar Bridget Jones’s Baby yaitu jilid epilog bagi franchise, maka ini terperinci yaitu epilog yang memuaskan. Meski hati sesungguhnya memberontak menginginkan adanya seri lain bagi Bridget Jones alasannya masih ingin menghabiskan waktu untuk bercengkrama lebih usang lagi bersama Bridget, Mark, Jack, dan… ehem, Daniel?

Exceeds Expectations (3,5/5)

Previous installments: Bridget Jones’s Diary (4/5) and Bridget Jones: The Edge of Reason (2,5/5).