October 29, 2020

Review : Bukaan 8


“Apa memang cara terbaik untuk membahagiakan orang bau tanah yakni dengan mempunyai anak?” 

Angga Dwimas Sasongko dan film drama sih pasangan klop yang sudah tiada perlu diragukan lagi keserasiannya. Tapi Angga dan film komedi? Hmmm… menggugah rasa ingin tahu untuk menguji cobanya mengingat pembesut Surat Dari Praha ini belum fasih menekuni genre komedi. Menariknya lagi, percobaan perdana Angga untuk ngelaba di film bertajuk Buka’an 8 didasarkan pada pengalaman nyatanya yang sarat akan suka sedih kala menyambut lahiran buah hati pertamanya. Sebuah kisah personal yang rasa-rasanya akan gampang terhubung ke penonton yang telah (atau segera) dikaruniai momongan serta mereka yang mempunyai kekerabatan dekat dengan orang tua. Hanya bermodalkan tiga faktor ini saja, Buka’an 8 telah nangkring manis di posisi teratas dalam deretan film paling diantisipasi kemunculannya versi saya pada bulan Februari. Lalu tambahkan lagi dengan faktor lain: barisan pemain yang mempunyai jejak rekam meyakinkan, menyerupai Chicco Jerikho, Lala Karmela, Tyo Pakusadewo, Sarah Sechan, serta Dayu Wijanto. Bagaimana tidak dilingkungi rasa ingin tau coba jikalau kombinasinya semaut ini? 

Buka’an 8 sendiri menempatkan fokus penceritaannya pada pasangan milenial, Alam (Chicco Jerikho) dan Mia (Lala Karmela), yang mengalami ketergantungan terhadap media umum – Mia memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan utama, sementara Alam menggunakannya untuk ‘bertempur’ dan seringkali meributkan perkara remeh temeh. Dengan sebagian besar waktunya difokuskan untuk meladeni netizen, tidak mengherankan jikalau kemudian kedua orang bau tanah Mia, Ambu (Sarah Sechan) dan Abah (Tyo Pakusadewo), menganggap Alam sukar diandalkan sebab tidak tampak mempunyai pekerjaan tetap. Demi menunjukan bahwa dirinya sanggup dikategorikan sebagai suami idaman, Alam pun memboyong Mia ke rumah sakit ternama kala jelang lahiran anak pertama mereka. Tapi rupa-rupanya, jalan Alam untuk mendapat restu dari kedua mertuanya tidaklah mulus. Dimulai dari promo persalinan incaran Alam yang ternyata telah berakhir sedangkan uang tidak mencukupi untuk melunasi biaya administrasi, rempongnya keluarga besar Mia yang memberi tuntutan macam-macam, hingga berurusan dengan lintah darah demi mendapat sumbangan uang. Pusing deh kepala Alam!

Kesenangan yang dipenuhi gelak tawa telah membayangi penonton sejak beberapa menit usai Buka’an 8 mengawali langkahnya. Dalam berkelakar, Angga yang memvisualisasikan naskah racikan Salman Aristo banyak mengandalkan situasi kacau beserta sentilan-sentilun ke masyarakat Indonesia masa kini. Situasi kacau terbentuk dari betapa kemriyek-nya keluarga besar Mia sampai-sampai adegan kedatangan mereka untuk pertama kali di ruangan Mia telah mengundang riuh tawa, kemudian kekerabatan antara Alam beserta kedua mertuanya khususnya Abah. Kedua huruf tersebut mempersembahkan salah satu momen paling edan dalam film ketika mereka saling berkejar-kejaran di lorong rumah sakit, terpapar gas tawa, hingga balasannya tetapkan menegakkan ‘gencatan senjata’ untuk sementara waktu. Disamping ketika berinteraksi dengan anggota keluarga rempongnya, kekacauan yang menggelikan turut mencuat selama Alam pontang panting mencari cara untuk dapatkan doku maupun tatkala meladeni para pengikutnya yang banyabicara di Twitter. Dari sini, Angga secara cendekia menyelipkan sederet kritik menyentil berkisar soal kebebasan berbicara yang diartikan kebablasan, kegemaran netizen membuat peperangan kata-kata dalam dunia maya, hingga maraknya pemanfaatan agama untuk melancarkan kegiatan politik. 

Kuatnya momen-momen komedik sayangnya tidak dibarengi oleh momen dramatiknya. Peralihan nada filmnya tidak berlangsung mulus, begitu pula penyelesaian konflik yang serasa terlalu gampang membuat titik puncak kurang greget. Untungnya ada banyak bahan guyonan yang berulang kali mendorong tawa lepas plus barisan pemain ansambel yang menyumbangkan lakonan ciamik, sehingga nada agak sumbang yang menghiasi menit-menit terakhir dari Buka’an 8 ini sanggup termaafkan. Chicco Jerikho bermain apik sebagai seorang kepala rumah tangga yang kecanduan media sosial. Transformasinya dari sesosok suami salah prioritas ke calon ayah yang bertanggung jawab berada di level meyakinkan. Kejengkelan pada Alam di awal film perlahan tapi niscaya terpupus seiring berjalannya film dan tergantikan oleh impian untuk melihatnya berhasil beroleh restu. Chemistry yang dibentuknya bersama Lala Karmela pun berjalan secara semestinya. Para pemeran pendukung menyerupai Tyo Pakusadewo, Sarah Sechan, serta Dayu Wijanto juga menampilkan performa tidak kalah mengesankannya. Duo Tyo-Sarah cermat mengatur waktu yang sempurna untuk melontarkan lawakan, sementara Dayu yang sesekali lucu memperlihatkan rasa hangat sebagai ibunda Alam. Paling tidak, Buka’an 8 masih terbilang sangat menghibur sebagai tontonan komedi.

Exceeds Expectations (3,5/5)