October 18, 2020

Review : Bulan Di Atas Kuburan


“Di Jakarta ini kita harus hidup berkawan. Kalau kau bukan kawan, kau niscaya lawan.” 

Mempergunakan ‘kuburan’ sebagai belahan dari judul, harus ditegaskan bahwa Bulan di Atas Kuburan bukanlah film horor. Kenyataannya, ini merupakan remake dari film rilisan 1973 berjudul sama garapan sutradara Indonesia terkemuka kala itu, Asrul Sani (Lewat Djam Malam, Naga Bonar), yang terinspirasi dari sajak ternama bertajuk ‘Malam Lebaran’ gubahan penyair Sitor Situmorang yang hanya terdiri atas satu larik saja: “bulan di atas kuburan”. Walau terkesan teramat sederhana, larik puisi ini cenderung multi tafsir yang sanggup memunculkan bermacam-macam makna sesuai interpretasi pembaca dengan salah satunya diterjemahkan sebagai mencari sesuatu yang (nyaris) tidak mungkin ditemukan dalam gelapnya kehidupan di kota metropolitan – dalam hal ini, Jakarta – mirip yang dilakukan mendiang Asrul Sani dan dilanjutkan oleh duo Edo W.F Sitanggang-Dirmawan Hatta yang bertanggung jawab dalam mengolah versi anyar. Pokok penceritaan dalam versi 2015 ini masih serupa, berwujud kritik sosial terhadap modernitas berlatar Jakarta maha ganas dengan beberapa upgrade disana sini demi memperkuat relevansi pada kondisi sosial politik Indonesia masa kini. 

Dua perjaka Samosir, Sahat (Rio Dewanto) dan Tigor (Donny Alamsyah), tergiur untuk merantau ke Jakarta sesudah diiming-imingi dongeng sukses Sabar (Tio Pakusadewo) sebagai orang penting. Kebetulan, Sahat berencana untuk meminta kepastian dari sebuah penerbit buku yang berjanji akan mempublikasikan karyanya. Tanpa dibekali modal memadai, Sahat dan Tigor pun nekat mengadu nasib ke ibukota hanya untuk mendapati bahwa Jakarta bukanlah tanah harapan mirip yang mereka bayangkan. Sabar yang terus menerus mengumbar kisah suksesnya ternyata tak lebih dari kriminal kelas teri yang tinggal di perkampungan kumuh, Tigor yang kurang skill kembali melakoni profesi sebagai sopir angkot, sementara Sahat harus mengorbankan idealismenya ketika karyanya justru dimanfaatkan sebagai kendaraan politik. Ketiga tokoh utama ini pun lantas berjuang keras dengan caranya masing-masing untuk bertahan hidup di Jakarta walau realita yang mereka jalani seringkali bertolak belakang dengan hati nurani. 

Kilau Jakarta yang ditandai oleh lampu-lampu bersinar jelas benderang di aneka macam penjuru, gedung-gedung pencakar langit yang megah menjulang, hingga kehidupan malam yang melenakan telah dikulik berulang kali oleh sineas Indonesia melalui aneka macam pendekatan – biasanya, dikaitkan pada tema pelacuran – dengan paling berkesan terakhir kali kita simak lewat Selamat Pagi, Malam. Tapi tak mirip film rancangan Lucky Kuswandi yang memposisikan Jakarta di ranah abu-abu dan membentuk film sebagai surat cinta untuk kota megapolitan tersebut, Bulan di Atas Kuburan lebih menyerupai Eliana, Eliana garapan Riri Riza yang mirip kata seorang mitra menempatkan Jakarta sebagai “karakter antagonis”. Ya, Edo W.F. Sitanggang dalam debut penyutradaraannya ini – sebelumnya penata bunyi di Emak Ingin Naik Haji – mencoba menjlentrehkan potret ibukota dari sisi kelam dan muram yang kerap mendominasi di balik tampilan luarnya yang serba gemerlap penuh cahaya. Jakarta yang tak segan-segan meluluhlantakkan mimpi-mimpi para wong cilik yang begitu naif berharap banyak pada sang kota untuk memperoleh kehidupan lebih baik. 

Skrip hasil racikan Dirmawan Hatta (Toilet Blues, Optatissimus) yang dipenuhi dialog-dialog cerdas, menonjok, dan sempurna target namun tetap mempunyai cita rasa renyah ini – walau terkadang terlampau depresif dan sinis – secara membabi buta menelurkan kritik terhadap kehidupan Jakarta yang tidak lagi manusiawi dengan tingkat kriminalitas dan korupsi yang semakin sulit untuk dibendung. Salah satu adegan yang menarik yaitu ketika Mona (Atiqah Hasiholan), putri dari seorang penerbit buku, berkeluh kesah ihwal Jakarta yang diibaratkannya sebagai ‘kota penuh tinja’ pada Sahat di suatu malam. Secara enteng (atau mungkin, polos?), Sahat menimpali, “lantas mengapa kau masih tinggal di sini?”. Sebuah obrolan singkat yang secara efektif menyentil para pendatang di Jakarta yang senantiasa mengeluhkan situasi kota yang tidak lagi dekat namun masih juga bertahan alasannya yaitu ya… keadaan memaksa. Selain itu ada pula percakapan antara Tigor dan Jantuk (Otis Pamutih) yang menawarkan sedikit citra memilukan mengenai warga orisinil yang turut menjadi korban modernitas. “Gue miskin di kampung gue sendiri!,” pekik Jantuk. 

Kecemerlangan dari sisi skrip ini disokong pula oleh barisan tembang-tembang Batak yang mempertajam rasa di setiap adegan inti, permainan kamera dari duo DOP Donny Himawan Nasution-Samuel Uneputty yang tak henti-hentinya menghasilkan gambar luar biasa ciamik (favorit secara personal yaitu ‘air dan Tigor’ di pembuka dan titik puncak film), beserta cast yang bermain begitu bertenaga dari jajaran pemain utama mirip Rio Dewanto, Donny Alamsyah, dan Tio Pakusadewo (dalam salah satu akting terbaiknya) yang berlakon meyakinkan sebagai Batak maupun para pendukung semisal Atiqah Hasiholan, Ria Irawan, Andre Hehanusa (mengejutkan!), Annisa Pagih, Ray Sahetapy, Otis Pamutih, hingga Arthur Tobing. Sumbangsih berkualitas premium dari setiap departemen ini lantas direkatkan secara padu oleh Edo W.F. Sitanggang. Hasilnya, Bulan di Atas Kuburan tergelar sebagai sebuah kritik sosial yang menohok, mencengkram kuat, sekaligus menyentuh mengenai mimpi-mimpi yang dikubur ambisi. Bagus!

Exceeds Expectations