July 2, 2020

Review : Bumi Manusia


“Seorang berakal harus sudah berbuat adil semenjak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

(Ulasan ini mungkin mengandung spoiler bagi penonton yang tidak membaca novelnya)

Mengekranisasi sebuah novel terang bukan perkara mudah, lebih-lebih jikalau novel bersangkutan sudah mempunyai basis penggemar yang loyal. Si pembuat film mesti legowo menghadapi serbuan komentar dari jutaan kepala yang masing-masing telah mempunyai imajinasi tersendiri terkait penggambaran latar, situasi, maupun huruf kesayangan mereka. Ada yang bersuka cita sebab novel kesayangannya diwujudkan menjadi gambar hidup, ada yang menyimpan keraguan tapi masih bersedia memberi kesempatan, dan ada juga yang secara terang-terangan memberikan keberatannya sedari awal. Tiga jenis penggemar yang sejatinya bisa dijumpai dari novel jenis apapun, tak terkecuali sastra Indonesia bertajuk Bumi Manusia yang merupakan babak awal dari Tetralogi Pulau Buru rekaan Pramoedya Ananta Toer. Sedari mula proyek pembuatan film adaptasinya dicanangkan, pro dan kontra tak henti-hentinya mengiringi pemberitaan. Dari tadinya dipinang oleh Oliver Stone tapi belakangan diemohi sang pengarang sebab ingin film digarap oleh anak bangsa, kemudian berpindah ke sutradara kontroversial Anggy Umbara, hingga akibatnya mendarat di pangkuan Hanung Bramantyo (Sang Pencerah, Kartini) yang mempunyai jejak rekam baik dalam mengkreasi film berlatar sejarah. Saat film secara resmi ditangani oleh Hanung dibawah naungan Falcon Pictures, setidaknya ada dua poin keberatan yang paling sering disorot oleh penggemar: 1) upaya sang sutradara untuk menitikberatkan pada elemen percintaan, dan 2) penunjukkan Iqbaal Ramadhan, pelakon utama dalam Dilan 1990 (2018), sebagai pemeran Minke si huruf sentral.

Padahal, tidak ada salahnya jikalau kemudian Hanung menentukan untuk mengambil pendekatan dari kisah kasih antara Minke dengan Annelies Mellema (Mawar De Jongh) sebab Bumi Manusia sejatinya merupakan hikayat percintaan. Pram memanfaatkan bahasa cinta yang universal untuk menghantarkan pesan mengenai isu-isu yang lebih kompleks terkait penindasan, perbudakan, stratifikasi sosial, kolonialisme, prasangka, hingga kemanusiaan di era pendudukan Belanda pada penghujung kala ke-19. Mengikuti kebutuhannya sebagai sebuah tontonan layar lebar, perspektif yang didayagunakan oleh Hanung memungkinkan bagi film untuk merangkul penonton awam yang belum pernah membaca bahan sumbernya. Toh, versi layar lebar dari Bumi Manusia tidak pernah benar-benar melenceng dari topik pembicaraan yang diajukan oleh sang pengarang. Kisah cinta antara Minke dengan Annelies hanyalah sepenggal dongeng yang berfungsi untuk memandu penonton dalam memahami kisah-kisah lain dalam “bumi manusia” yang tersusun atas: 1) kisah Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) yang pembawaannya menciptakan Minke tercengang karena berbeda dengan nyai atau gundik lain yang selama ini diketahuinya, 2) kisah keluarga Mellema yang carut marut akhir kebiasaan si kepala rumah tangga untuk mabuk-mabukan sementara si anak sulung, Robert (Giorgino Abraham) tidak juga bisa diharapkan, 3) kisah keluarga Minke yang notabene merupakan darah biru Jawa, 4) kisah teman-teman Minke di sekolah HBS (Hogere Burgerschool) yang mempunyai pandangan terpecah mengenai Hindia Belanda, serta 5) kisah Minke sendiri sebagai seorang pribumi ditengah-tengah kedigdayaan masyarakat berdarah Belanda.


Mengedepankan narasi sepadat itu yang merupakan hasil interpretasi atas novel setebal 500 halaman lebih, tidak mengherankan jikalau Bumi Manusia membutuhkan durasi penceritaan sepanjang tiga jam. Sebuah durasi yang belum apa-apa sudah bikin gentar sebagian penonton karena, “hey, apa bisa saya tetap melek dan bertahan di dingklik bioskop? 3 jam itu usang lho!.” Saya juga mulanya dihadapkan pada keraguan sebab membutuhkan seseorang bergelar master of storytelling semoga menciptakan durasi sepanjang itu terasa hanya sekejap saja. Hanung yang belakangan ini cenderung fluktuatif dalam bercerita (well, kerjasamanya bersama Falcon dalam bentuk Benyamin Biang Kerok dan Jomblo tidak berakhir bahagia), nyatanya mampu memberikan kisah secara lancar tanpa terbata-bata. Dibawah penanganannya, Bumi Manusia tersaji sebagai tontonan epik yang menambat atensi sekaligus mempermainkan emosi sehingga durasi panjang bukan jadi soal. Sedari menit pembuka, film telah mencuri perhatian penonton melalui pertemanan Minke dengan Suurhof (Jerome Kurnia) yang separuh Belanda. Dari sosok Suurhof lah, Minke bisa berkenalan dengan Annelies yang kemudian menambat hatinya. Saat si huruf utama menginjakkan kaki di rumah keluarga Mellema, garis konflik secara perlahan tapi niscaya bergerak dinamis. Satu demi satu konflik bermunculan yang dimulai dari keengganan Robert untuk menghargai Minke karena ada perbedaan kasta sosial diantara mereka. Dari sini, film yang berpatokan pada naskah apik bentukan Salman Aristo memunculkan ketertarikan pada penonton dengan tanya: akankah Robert mengambil tindakan lebih jauh untuk menyingkirkan Minke yang dipandangnya sebagai pribumi rendahan? Lalu, bagaimana relasi antara Minke dengan Annelies akan berkembang terlebih mereka berasal dari dunia yang berbeda? Selepas tanggapan untuk pertanyaan-pertanyaan ini diurai, konflik lantas mengalami eskalasi yang membawa situasi menjadi semakin rumit sekaligus mencengkram yang menghadapkan karakter-karakter utama dengan aturan Belanda yang enggan memberikan keberpihakannya pada masyarakat orisinil Indonesia.

Saya langsung menyukai pilihan si pembuat film dalam menghadirkan tata musik bernuansa klasik yang acapkali memberi kesan megah serta keputusan memakai bermacam-macam bahasa yang terdiri dari Belanda, Jawa, Madura, hingga Cina demi menebalkan kesan otentik. Meski pemakaian imbas khusus yang terkadang masih tampak kasar dan beberapa properti (khususnya rumah keluarga Mellema) yang kelewat kinclong mirip gres dibentuk sempat pula menciptakan saya geli, untungnya Hanung berhasil mengompensasinya dengan keahlian utamanya: mengarahkan pemain. Ya, selain elemen teknis yang berada di kelas wahid dan cara bertutur sang sutradara yang nyaman untuk diikuti, Bumi Manusia memperlihatkan keunggulannya di sektor akting dimana pemain ansambelnya benar-benar berlakon secara solid. Penunjukkan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke yang menuai kontroversi nyatanya bisa ditepis dengan gampang oleh sang pemain drama yang sekali lagi menunjukan bahwa beliau merupakan aset berharga bagi perfilman Indonesia. Memang sih Iqbaal ada kalanya tampak canggung dan tidak sepenuhnya meletup dalam menangani momen-momen dramatik, tapi pengalaman melakoni Dilan memungkinkannya untuk menguarkan karisma lelaki idaman serta gampang menjalani adegan cumbu rayu bersama lawan main. Ndilalah, Iqbaal turut menerima umpan balik memadai dari barisan pemain lain yang memberikan performa luar biasa mengagumkan.


Sembah sujud untuk Sha Ine Febriyanti yang mirip dilahirkan untuk melakonkan Nyai Ontosoroh. Seorang gundik (perempuan simpanan laki-laki Belanda) yang menciptakan Minke terperangah sebab pengetahuannya yang luas, cara berperilakunya yang berwibawa, serta kecakapannya dalam mengelola bisnis keluarga Mellema. Ine mempunyai semacam daya tarik berpengaruh yang memungkinkan setiap kemunculannya senantiasa mempunyai energi yang menciptakan perhatian kita tertuju kepadanya. Entah dikala beliau terlihat mirip wanita tangguh yang tidak tergoyahkan oleh apapun, maupun dikala beliau bertransformasi menjadi wanita tak berdaya yang terinjak-injak oleh sistem. Disamping Ine dan Iqbaal, deretan pemain yang sepatutnya memperoleh apresiasi antara lain Ayu Laksmi sebagai ibu Minke yang memancarkan aura seorang ibu penuh kasih sayang, Donny Damara yang tampil agresif dengan warna bunyi berbeda, Jerome Kurnia sebagai seorang pengkhianat yang mengesalkan, Giorgino Abraham yang memantik kebencian penonton kepada putra sulung keluarga Mellema, Siti Fauziyah sebagai Iyem yang fungsinya sebagai comic relief berhasil memancing gelak tawa, serta Whani Dharmawan sebagai Darsam yang sangar. Lalu bagaimana dengan Mawar De Jongh selaku pemeran Annelies? Well, tampaknya Hanung akan kembali menyandang status sebagai starmaker sehabis ini. Usai beberapa tugas kurang mengesankan, Mawar akibatnya tampil bersinar di sini. Sosok Annelies yang ibarat damsel in distress dihidupkan secara cemerlang yang menciptakan kita iba pada kerapuhannya sekaligus kesal pada sikap manjanya. Tapi kejutan terbesar yang diberikannya berada di adegan pamungkas dimana karakternya justru diperlihatkan pergi dengan kepala tegak dan sebersit senyuman guna mengenyahkan sedih dari orang-orang yang kehilangannya. Dia memenuhi definisi seorang dewi yang menciptakan saya bisa memahami mengapa banyak orang menangisi kepergiannya. She’s so damn good!

Outstanding (4/5)