July 2, 2020

Review : Calon Bini


“Aku mau kejar mimpiku pake sepur.”

Ulasan ini akan saya buka dengan satu pengakuan: saya mengagumi Michelle Ziudith. Bukan semata-mata disebabkan oleh parasnya yang bagus dan tingkahnya yang terkadang menggemaskan, tetapi juga lantaran beliau memancarkan sebuah karisma sebagai seorang aktris. Agak sulit untuk mendeskripsikannya secara mendetail, tapi satu yang jelas, saya selalu senang setiap kali melihatnya. Tak ada rasa jenuh walau beliau terjebak dalam peran-peran tipikal, tak ada pula rasa sebal walau beliau terkungkung dalam karakter-karakter dengan peringai menjengkelkan. Saya selalu kembali untuk menyaksikan film-filmnya meskipun sebagian besar diantaranya bikin ngelus dada saking… ah, kalian tahu sendiri. Michelle Ziudith acapkali menjadi penyelamat di film-film ajaibnya ini berkat performanya yang (sebetulnya) apik. Dia tampil enerjik, lepas tanpa beban, dan tangisannya pun tak terkesan dibuat-dibuat. Potensi untuk berkembang jauh terang terpampang kasatmata yang sayangnya terbelenggu oleh keputusan untuk bermain kondusif di rangkaian film percintaan remeh temeh dengan tugas yang tidak jauh berbeda. Dari sembilan judul yang menempatkannya di garda terdepan, hanya Remember When (2014) dan Ananta (2018) yang tergolong lumayan. Lainnya? Menguji kesabaran hingga ke titik paling dasar. Menengok kemahirannya dalam berolah peran, kadang saya dibentuk bertanya-tanya, “apakah keserupaan tugas ini lantaran Michelle Ziudith memang enggan untuk mengambil tugas diluar zona nyamannya, atau lantaran belum ada sineas yang mempercayainya?”.

Guna mengetahui jawabnya, tentu kita harus bertanya pribadi kepada yang bersangkutan. Hanya saja untuk ketika ini, belum ada sedikitpun gejala yang memperlihatkan Mbak Michelle akan menjajal tugas berbeda. Saya bekerjsama sempat optimis ketika beliau berkenan untuk berlakon dalam Ananta yang diproduksi oleh MD Pictures (bukan Screenplay Films menyerupai biasanya) mengingat karakternya yang dideskripsikan antisosial terang mempunyai tantangan tersendiri. Tapi ketika mengetahui bahwa film terbarunya ialah Calon Bini dimana beliau disandingkan kembali dengan lawan main langganannya, Rizky Nazar, harapan yang tadinya telah mengembang seketika menguncup lagi dan saya pun seketika menjerit, “Ya Tuhanku, kenapa beliau main di film cheesy macam gini lagi?”. Munculnya prasangka mengenai kualitas Calon Bini memang sulit dihindari apabila kalian telah menengok bahan promosinya beserta sinopsisnya. Dalam film ini, Michelle Ziudith berperan sebagai Ningsih, wanita dari daerah Bantul, Yogyakarta, yang bercita-cita untuk membahagiakan kedua orang tuanya dengan melanjutkan studi ke perguruan tinggi tinggi selepas lulus SMA. Cita-cita yang amat positif ini sayangnya terbentur oleh keinginan keluarga besarnya untuk menikahkan Ningsih dengan Sapto (Dian Sidik), putra tunggal dari Pak Kades (Butet Kartaredjasa), demi memperbaiki kondisi finansial. Ningsih yang menolak dijodohkan pun menentukan untuk kabur ke Jakarta demi mengadu nasib. Dalam perantauannya, Ningsih berjumpa dengan Satria Bagus (Rizky Nazar) yang petuah-petuah bijaknya mengenai mengejar mimpi membuatnya jatuh hati.


See? Bagaimana bisa saya berpikir positif ketika guliran pengisahan yang dikulik Calon Bini mempunyai keserupaan dengan banyak judul FTV? Saya bekerjsama paling enggan memberi label “kualitas FTV” terhadap sebuah film yang mempunyai kualitas kurang memadai – terasa tak adil bagi FTV yang terus menerus menerima stereotip tak mengenakkan – tapi sungguh, film ini berada di area tersebut khususnya ketika berbicara soal naskah dan sisi teknis. Tak ada tampilan gambar sinematis dalam Calon Bini yang terlihat begitu ‘murah’ ini, tak ada pula narasi yang menggigit. Titien Wattimena selaku penulis skenario yang memberi penonton kejutan melalui film percintaan keluaran Screenplay Films yang paling bisa ditolerir, Something in Between (2018), seolah dipaksa tunduk untuk mengkreasi jalinan penceritaan yang digemari oleh pasar utama film-film sejenis. Di sini, kau akan menjumpai formula yang sangat umum dijumpai dalam FTV; si kaya dari kota yang jatuh hati pada si miskin dari desa, kisah cinta yang muncul mak bedunduk bermodalkan chatting di media sosial, masyarakat kelas menengah bawah di Yogyakarta yang digambarkan teramat sangat bodoh sampai-sampai kolam renang pun dijadiin tempat basuh baju, tektokan antara supir dengan PRT sebagai pemantik tawa, hingga rencana perjodohan demi memperbaiki garis nasib. Tambahkan dengan budi bercerita yang kesana kemari, inkonsistensi pada jalan aliran huruf utama, plus penyelesaian konflik yang cenderung menggampangkan (well, judul film ini sudah menggambarkan apa yang bakal terjadi di penghujung film), Calon Bini terdengar menyerupai sebuah mimpi jelek bagi mereka yang menganggap trilogi London Love Story sebagai gejala datangnya hari akhir.

Saya pun sudah menyiapkan obat pereda sakit kepala untuk mengantisipasi munculnya rasa pening usai menonton hingga kemudian diri ini menyadari kenyataan mengejutkan: Calon Bini ternyata tak ‘semengerikan’ itu. Michelle Ziudith lagi-lagi keluar sebagai penyelamat dan saya harus mengakui bahwa kiprahnya di sini agak berbeda dari biasanya. Ningsih diperlihatkan sebagai pribadi yang berdikari nan ceria, alih-alih gemar menyesali sedih laranya di bawah derasnya guyuran air hujan. Tapi tetap saja saya ingin memberikan pesan, “Dek, cari tugas menantang di film berbobot dong. Sayang bakatmu tersia-siakan begitu saja menyerupai ini,” dengan nada gemas tapi penuh kasih sayang. Disamping Dek Ziudith, alasan utama mengapa Calon Bini masih sanggup dinikmati ialah performa bagus dari pelakon-pelakon senior menyerupai Cut Mini, Marwoto, Ramzi, Maya Wulan, Dian Sidik, Slamet Rahardjo, hingga Niniek L Karim. Cut Mini sebagai ibu Ningsih mempunyai satu momen emas pada babak ketiga ketika karakternya memberi tatapan tajam penuh kemarahan, sementara Marwoto memegang kendali di elemen komedik bersama Ramzi dan Maya Wulan. Keputusan sang sutradara, Asep Kusdinar (London Love Story, One Fine Day), untuk memakai Bahasa Jawa pada percakapan dalam lingkup keluarga Ningsih ketimbang Bahasa Indonesia yang dibikin medok nan mekso ialah hal lain yang bisa diapresiasi dari film ini. Para pemain memperlihatkan perjuangan yang layak diberi jempol (apalagi ada sisipan Bahasa Jawa tingkatan Krama yang terhitung sulit!) dan pemakaian bahasa Jawa turut memperlihatkan perhiasan rasa dalam guyonannya yang sangat mungkin akan memberi impak berbeda jikalau dialihbahasakan. Bagi saya, dua faktor inilah yang membantu mengangkat derajat Calon Bini sehingga masih bisa tersaji sebagai tontonan yang cukup menghibur sekalipun narasinya acapkali bikin pening. 

Acceptable (2,5/5)