July 2, 2020

Review : Captain Marvel


”We have no idea what threats are out there. We can’t do this alone. We need you.”

Siapa diantara kalian yang bersuka cita menyambut kehadiran Captain Marvel? Sebagai seseorang yang mengikuti Marvel Cinematic Universe (MCU) semenjak awal mula dan belakangan dibentuk tertambat oleh bangunan semestanya yang mengagumkan, saya terperinci besar hati dengan kemunculan Captain Marvel. Terlebih lagi, film aba-aba Anna Boden dan Ryan Fleck (Half Nelson, It’s Kind of a Funny Story) ini menandai untuk pertama kalinya MCU mempunyai film solo bagi superhero perempuan. Mereka memang telah mempunyai tiga superhero wanita yang tergabung dalam Avengers yakni Black Widow, Scarlet Witch, dan Gamora. Akan tetapi tak menyerupai para laki-laki perkasa di semesta yang sama, ketiganya belum mempunyai film tunggal termasuk Gamora yang mesti membuatkan jatah narasi dengan keempat rekannya dalam Guardians of the Galaxy. Penantian panjang untuk menyaksikan MCU mengikuti jejak tetangga sebelah yang sudah terlebih dahulu mempersembahkan Wonder Woman (2017) – yang ternyata lebih dari sekadar representasi gender dalam sinema Hollywood – kesudahannya datang di momen-momen genting. Mengapa saya menyebutnya demikian? Well, kalau kau sudah menyaksikan Avengers: Infinity War tentu mengetahui bahwa nasib para pahlawan di semesta bentukan Marvel Studios ini sedang berada di ujung tanduk. Melalui sebuah post credits scene di sela-sela end credit film tersebut, penonton diinformasikan bahwa bala proteksi akan diperoleh dari aksara dengan lambang bintang atau dengan kata lain: Captain Marvel. Ini yaitu salah satu alasan yang lantas membuat saya (dan mungkin jutaan penonton lain) bersemangat menantikan Captain Marvel.   

Berhubung penonton belum pernah berjumpa dengan si aksara tituler sebelumnya, maka sudah barang tentu Captain Marvel difungsikan sebagai origin story. Di sini, penonton tak hanya berkesempatan untuk melongok masa kemudian dari sosok dibalik kostum berwarna merah biru yaitu Carol Danvers (Brie Larson), tetapi juga cikal bakal terbentuknya Avengers. Mengaplikasikan guliran pengisahan yang acapkali non-linear demi mengedepankan misteri, kita pribadi dipertemukan dengan Carol yang mengenal dirinya sebagai Vers. Salah satu personil dari pasukan elit di Planet Hala, Starforce, yang sedang diterjunkan dalam misi menyelamatkan seorang kepetangan bangsa Kree dari cengkraman pihak musuh yakni kelompok alien dengan kemampuan berubah wujud, Skrull. Menurut pandangan Vers yang tak bisa sedikitpun mengingat masa lalunya, Kree yaitu bangsa yang menjunjung tinggi keadilan sementara Skrull merupakan pihak yang seharusnya diperangi. Pemikiran yang ditanamkan oleh sang mentor, Yon-Rogg (Jude Law), ini terus dipercaya oleh Vers hingga kemudian ia ditangkap sekelompok Skrull dalam misi penyerbuan yang berakhir kegagalan. Alih-alih diinterogasi secara beradab, Vers justru disiksa dengan cara mengacak-acak memorinya. Vers yang mempunyai kemampuan bertarung diatas rata-rata ini tentu saja memberontak yang lantas mendorongnya untuk melarikan diri ke Bumi dimana ia bertemu dengan distributor S.H.I.E.L.D. berjulukan Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang masih bermata lengkap. Ditengah upayanya menghindari kejaran bangsa Skrull bersama distributor Fury, Vers secara perlahan tapi niscaya mendapat ingatannya kembali pasca ia mempelajari lebih jauh mengenai mesin berkecepatan cahaya yang sedang diincar oleh kaum Skrull.


Disamping fakta yang memperlihatkan Captain Marvel sebagai sajian superhero wanita pertama dalam MCU dan menempatkannya sebagai seri penjembatan menuju ke babak terakbar dalam Avengers: Endgame, satu faktor lain yang menggugah ketertarikan untuk menyaksikan gelaran ini yaitu kualitas beberapa film terakhir keluaran Marvel Studios yang kian mencengkram. Usai Thor: Ragnarok yang norak-norak mengasyikkan dengan selera humor yang cenderung nyeleneh, kemudian Black Panther yang memperlihatkan selebrasi terhadap masyarakat kulit gelap seraya menggaungkan women empowerment, saya pun dibentuk bertanya-tanya: apa yang akan dipersembahkan oleh duo Anna Boden dan Ryan Fleck melalui Captain Marvel? Menilik jejak rekam keduanya sebagai sineas indie yang dikenal lihai dalam membuat aksara besar lengan berkuasa (berkat mereka, Ryan Gosling meraih nominasi Oscar pertama lewat Half Nelson), tentu menarik untuk mengetahui pendekatan menyerupai apa yang akan mereka perbuat terhadap film ini. Berhubung standar yang dipatok oleh film-film terdahulu sudah sangat tinggi, saya terperinci membawa ekspektasi lebih kala melangkahkan kaki ke bioskop yang ternyata, well… berakhir kurang baik. Captain Marvel jelas bukan film yang buruk – mendekati buruk pun tidak – hanya saja film kurang mempunyai gegap gempita menyerupai diperkirakan. Sebagai origin story, ini lebih mendekati ke Thor yang sederhana ketimbang Guardians of the Galaxy yang menyegarkan. Tak ada sesuatu yang benar-benar gres disini, bahkan gelaran laganya pun tergolong standar, sampai-sampai si pembuat film merasa perlu menyelipkan elemen misteri demi menambah daya tarik kepada tontonan.

Pilihan kreatif tersebut tentu tak ada salahnya. Namun penulisan naskah beserta penyampaian duo sutradara yang lantas membuat bubuhan misteri tak semenggigit menyerupai diharapkan. Sebagian besar penonton yang jeli tentu sudah mengetahui mengenai wajah bergotong-royong dari Kree (sempat disinggung di Guardians of the Galaxy) dan isu terkait identitas orisinil Vers juga telah menjadi diam-diam umum, jadi kejutan apa lagi yang ingin dipersiapkan? Maksud saya, tak ada salahnya bercerita secara konvensional sebab pembagian terstruktur mengenai agak belibet menyerupai ini tergolong beresiko. Dan memang, keputusan Boden-Fleck untuk mengedepankan misteri justru mereduksi dua hal yang semestinya merupakan komponen andalan mereka: karakterisasi dan hati. Entahlah, tapi saya kurang bisa mengenal Carol Danvers disini. Saya paham dengan motivasinya, tapi saya tak pernah benar-benar terhubung dengannya. Sederet fase hidup yang efektif menjabarkan soal karakterisasinya hanya dimunculkan melalui kilasan-kilasan ingatan tanpa pernah digali mendalam termasuk soal persahabatannya dengan Maria Rambeau (Lashana Lynch). Ada satu adegan dimana moment of truth kesudahannya tiba, tapi saya justru tidak mencicipi apa-apa sementara si pembuat film telah mengondisikan biar tercipta suasana sendu yang mengundang air mata. Apakah hati ini telah sedemikian beku atau semata-mata sebab saya tidak pernah melihat keakraban Carol-Maria secara lebih intens sehingga urung menginvestasikan emosi? Rasa-rasanya faktor kedua yaitu pemicunya sebab terbukti saya masih bisa berkaca-kaca menyaksikan tribut untuk Stan Lee yang diselipkan ke logo Marvel di permulaan durasi.


Yang kemudian membantu menyelamatkan muka Captain Marvel dan menghindarkannya dari keterpurukan yaitu performa jajaran pemainnya yang sangat baik. Mesti diakui, Brie Larson yang didapuk melakonkan si aksara tituler merupakan salah satu kekuatan utama yang dipunyai oleh Captain Marvel. Jangkauan emosinya tergolong luas yang turut meliputi kecakapannya dalam ngelaba, begitu pula dengan karismanya yang memancar besar lengan berkuasa sehingga penonton pun sanggup diyakinkan bahwa Carol Danvers yaitu sesosok pahlawan yang bisa diandalkan oleh penduduk bumi. Permainan lakon Brie Larson inilah yang kemudian membantu memperlihatkan warna pada aksara Carol Danvers yang sejatinya datar-datar saja. Bersama dengan Samuel L. Jackson, aktris penggenggam piala Oscar berkat permainan emosionalnya di Room (2015) ini membuat sebuah chemistry lekat ala buddy cop movies yang memunculkan kesenangan tersendiri bagi film. Jujur saja, interaksi antara Carol dengan Nick Fury yaitu satu alasan lain yang membuat saya bisa bersemangat sekaligus tergelak-gelak menyaksikan Captain Marvel. Tektokan keduanya terbentuk secara natural dengan disisipi humor cukup cerdas yang lantas membentuk sederet momen mengasyikkan di beberapa titik durasi. Ditambah dengan kehadiran kucing imut-imut menggemaskan berjulukan Goose, saya pun memperoleh kompensasi atas kekecewaan terhadap guliran pengisahan (meliputi villain yang kekuatannya terlampau timpang) yang lunglai beserta gelaran tabrak yang terasa kurang heboh padahal jajaran pemain telah berlatih mati-matian demi mempersiapkan tugas mereka. Mungkinkah ini disengaja oleh pihak Marvel Studios biar film ini tidak menutupi pamor Avengers: Endgame yang digadang-gadang sebagai jilid terakbar dalam MCU? Mungkin saja. Yang jelas, sekalipun ada rasa gregetan sebab Captain Marvel kesulitan memenuhi potensinya, paling tidak saya masih dibentuk terhibur olehnya.   

Note : Sesuai tradisi, terdapat dua adegan bonus yang bisa kau saksikan di sini. Letaknya di sela-sela dan penghujung end credit.


Acceptable (3/5)