November 27, 2020

Review : Captain Phillips

“Look at me. I’m the captain now.” – Muse

Captain Phillips yaitu salah satu dari segelintir film di tahun ini yang pesonanya begitu susah untuk ditampik hanya dengan menyidik premis dan materi promosinya. Coba bayangkan, Paul Greengrass berkolaborasi bersama Tom Hanks untuk sebuah film bergenre action-thriller yang beranjak dari kejadian aktual dan melibatkan perompak. Sungguh menarik hati selera, bukan? Ini pun menandai kembalinya Greengrass ke dingklik penyutradaraan sehabis 3 tahun beristirahat dan berselang 7 tahun usai merakit ulang kisah pembajakan pesawat United Airlines Flight 93 melalui United 93 yang berkualitas tinggi. Greengrass yang namanya mengangkasa usai membidani dua seri film Bourne ini kembali untuk melahirkan sebuah sajian yang materi dasarnya kurang lebih serupa. Hanya saja, apabila sebelumnya berlangsung jauh di atas awan, maka untuk sajian kali ini yang didasarkan pada memoar berjudul A Captain’s Duty: Somali Pirates, NAVY SEALs, and Dangerous Days at Sea dipindahkan ke perairan luas. 

Penceritaan dalam film bergerak dari sebuah kejadian aktual pembajakan kapal kargo Amerika, MV Maersk Alabama, yang mengangkut 20 kru dan 17 ribu ton kargo dalam perjalanan menuju Kenya pada April 2009 dimana sang kapten, Richard Phillips (Tom Hanks), berupaya untuk menyelamatkan dirinya dan para krunya sehabis kapal yang mereka tumpangi disantroni oleh sejumlah perompak Somalia di bawah pimpinan Muse (Barkhad Abdi). Pada 20 menit pertama, Greengrass memulai langkah dengan mencuil sedikit latar belakang dari Phillips dan Muse ketika mereka sedang berkemas-kemas untuk menunaikan kiprah masing-masing. Untuk mendeskripsikan bagaimana kehidupan Phillips, penonton diajak untuk menyimak percakapan antara sang kapten dan istrinya (Catherine Keener) dalam kendaraan beroda empat yang melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara. Lalu, sehabis percakapan ini berakhir, kita melompat ke Somalia dimana citra yang sama sekali berbeda kita dapatkan; kemiskinan, lingkungan yang kumuh, dan sulitnya bertahan hidup. Demi sesuap nasi, mereka pun bergantung pada pembajakan kapal dan uang tebusan. 

Setelah sebuah pembuka yang bergerak sedikit lambat dengan ruang untuk bernafas bagi penonton masih terbuka lebar, Greengrass dan si penulis skrip, Billy Ray, secara perlahan tapi niscaya mulai meningkatkan kadar ketegangan yang tepat dimulai ketika Kapten Phillips mendapati kondisi berbahaya tengah mengincar mereka. Apabila Anda telah mengenal si pembuat film jauh sebelum film ini, maka Anda tentu mengetahui bahwa ini yaitu semacam instruksi kepada penonton untuk menyiapkan diri, menarik nafas panjang-panjang selagi ada kesempatan, karena… yah, hanya beberapa menit kemudian, situasi menjadi kian mencekam dan menegangkan. Itu terjaga secara konstan sampai pada sebuah epilog yang emosional tanpa pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda untuk mengendur. Selama kurang lebih 110 menit berikutnya, Greengrass senantiasa menciptakan adrenalin terpompa dan tidak mengizinkan penonton untuk bersantai ria sehingga badan seolah terikat ke dingklik bioskop dan mata sulit mengalihkan pandangan dari layar bioskop. Ini tentu bukan kasus gampang terlebih dengan ruang gerak yang serba terbatas dan pengisahan yang sejatinya tidak terlampau pelik. 
Beruntung, Greengrass disokong oleh tim yang solid sehingga Captain Phillips mampu bangkit dengan gagah. Selain skrip jago yang bisa menyatukan suspense dengan dramatisasi tanpa terkesan murahan, film juga memiliki sinematografi bagus hasil kinerja Barry Ackroyd, editing cekatan dari Christopher Rouse, sampai Tom Hanks dan Barkhad Abdi, yang bermain dengan sungguh luar biasa hebat. Hanks, dalam penampilan terbaiknya semenjak Cast Away, berhasil melebur tepat sebagai sosok kapten karismatik yang rela mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan para krunya, sementara Abdi yang notabene merupakan pemain drama pendatang gres asal Somalia, juga tak kalah mengesankannya sebagai perompak naif yang terpaksa melenyapkan hati nuraninya karena ditekan oleh keadaan. Emosi yang berkecamuk di dalam diri Kapten Phillips dan Muse dihantarkan dengan begitu mulus oleh Hanks dan Abdi sehingga penonton pun tak ragu-ragu untuk menyematkan simpati. Performa mereka yang sedemikian perkasa memiliki bantuan besar dalam menempatkan Captain Phillips sebagai salah satu film ‘paling cakep’ tahun ini. Film yang dengan hebatnya memertemukan ketegangan dengan kelembutan tanpa pernah membuatnya terasa canggung.
Outstanding