October 25, 2020

Review : Cat A.W.O.L


Apakah kau salah satu dari jutaan pecinta film yang kesengsem dengan dongeng percintaan unyu-unyu menggemaskan antara Mario Maurer dengan Baifern Pimchanok di A Little Thing Called Love? Atau mungkin balada percintaan mengharu biru Mario Maurer dengan Witwisit Hiranyawongkul dalam The Love of Siam? Jika ya dan mengharap ada tontonan asal Thailand yang kurang lebih serupa, maka gelaran terbaru dari rumah produksi sama, Sahamongkol Film International, berjudul Cat AWOL (berarti Kucing Hilang) ini sanggup kau cicipi. Mengusung genre komedi romantis yang mengandalkan kekuatan akting Baifern Pimchanok bersama Arak Amornsupasiri di garda terdepan, Cat AWOL tak saja akan membuatmu terhibur berkat jalinan pengisahannya yang dirangkai secara cukup bagus maupun guyonan-guyonan konyol khas film negeri Gajah Putih, tetapi juga parade kucing-kucing menggemaskan yang akan menciptakan para pecinta kucing mengalami meowgasm di dalam gedung bioskop. 

Melalui Cat AWOL, duo sutradara Pongsak Pongsuwan dab Nareubadee Wetchakam menyoroti problematika percintaan antara seorang petatar berjulukan Mayo (Baifern Pimchanok) dengan mentornya di agensi periklanan, Mor (Arak Amornsupasiri), yang tarik ulur. Mayo terlalu pemalu untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Mor yang sejatinya telah berkecamuk sejak keduanya beradu pandang pada hari pertama Mayo menjejakkan kaki di kawasan magang, sementara Mor seringkali memperlihatkan gejala yang terlalu membingungkan untuk dipahami oleh Mayo. Benih-benih cinta diantara mereka semakin hari semakin terasa terlebih keduanya terlibat bersama dalam proyek pembuatan iklan mie instan dengan klien asal Jepang yang menyusahkan. Saat Mayo mencoba memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Mor, sederet duduk kasus mendadak tiba menghadang. Dari kemunculan mantan kekasih Mor sampai hilangnya Johnny, kucing milik sang klien yang menjadi bintang utama di iklan yang mereka garap. 

Guliran pengisahan semacam ini memang sudah sering kau jumpai di ribuan judul film yang memproklamirkan dirinya sebagai film komedi romantis. Tidak ada pembaharuan sama sekali. Malah, mengingat durasi merentang sampai 114 menit sementara skrip mengesampingkan konflik padat, kompleks, maupun penuh lika-liku akhirnya Cat AWOL terasa berpanjang-panjang di sejumlah titik. Perasaan jenuh dan lelah pun ada kalanya sulit terhindarkan meski tidak selalu menampakkan diri karena berhasil ditutupi oleh chemistry mengesankan dari Baifern Pimchanok (yang mencuri perhatian setiap ketika walau mendapat persaingan ketat dari para kucing) dan Arak Amornsupasiri. Walau tidak juga istimewa, dongeng percintaan yang melingkupi abjad mereka perankan mempunyai pula beberapa momen yang sanggup dibilang cukup romantis, salah satunya ketika Mor membantu Mayo mendapat posisi yang sempurna dalam blocking sampai menciptakan pipi Mayo merah merona. Setidaknya penonton masih sanggup ber-‘aw, aw’ ria menyimak dua sejoli ini. 

Ya, berbincang mengenai kandungan hiburan, Cat AWOL mempunyai kadar mencukupi untuk dipergunakan sebagai tontonan pelepas penat. Selain mata dimanjakan oleh lenggak lenggok kucing yang mengegmaskan, kau juga akan dibentuk tersenyum-senyum gregetan melihat interaksi Mayo dan Mor di lingkungan kerja yang seringkali menciptakan Mayo salah tingkah, atau malah tertawa terbahak-bahak karena serangan humornya yang habis-habisan. Jika telah terbiasa menonton film Thailand dengan unsur komedi pekat di dalamnya tentu sudah hapal bagaimana cara mereka meletakkan guyonan-guyonan yang sekalipun seringkali out of context (tidak terkait ke plot, sekadar denah belaka) namun terbilang cukup efektif dalam mengocok perut penonton. Di Cat AWOL, kiprah melawak tersebut diserahkan kepada pelawak Ten Terdterng (Dode, atasan Mor yang fobia terhadap kucing) dan Choosak Lamsuk (Fiat, sinematografer). Tingkah laris konyol dengan celetukan-celetukan menggelikan dari keduanya menginjeksikan energi lebih kepada film yang sejatinya mengalun cukup datar ini.

Acceptable