October 21, 2020

Review : Cek Toko Sebelah


“Nggak usah komitmen dulu jikalau nggak yakin bisa menepati.”


Dalam Cek Toko Sebelah, kita diperkenalkan kepada seorang pemilik toko kelontong berjulukan Koh Afuk (Chew Kin Wah). Memasuki usia senja yang mengakibatkan dirinya sering sakit-sakitan, Koh Afuk berniat mewariskan tokonya ke putra bungsunya, Erwin (Ernest Prakasa). Mendengar keputusan ini, si sulung, Yohan (Dion Wiyoko), tentu naik pitam sebab merasa dilangkahi terlebih lagi beliau dan istrinya, Ayu (Adinia Wirasti), selama ini telah banyak mendedikasikan waktu mereka untuk merawat Koh Afuk. Bukannya tanpa alasan Koh Afuk lebih menentukan Erwin ketimbang Yohan sebagai penerus kepemilikan toko. Masa lampau si sulung yang carut marut serta sifat cenderung temperamentalnya mengakibatkan sang ayah sulit mempercayakan bisnis keluarga ke Yohan. Satu kalimat berbunyi, “mengurus hidup kau sendiri saja belum bener, bagaimana kau mengurus karyawan-karyawan toko?,” bentuk penegasan keputusan Koh Afuk. Di lain pihak, Erwin yang memperoleh kepercayaan justru mengalami kebimbangan. Karirnya tengah meroket dan kekasihnya, Natalie (Gisella Anastasia), terang-terangan menawarkan keberatan menyusul kebersediaan Erwin untuk menjajal mengurus toko selama sebulan. Tak bisa terelakkan lagi, konflik dalam keluarga kecil ini yang sejatinya telah tersulut sedari bertahun-tahun silam pun risikonya meledak juga. 

Cek Toko Sebelah merupakan bukti kematangan Ernest Prakasa sebagai seorang sineas. Dia menawarkan bahwa langkah awalnya yang sangat meyakinkan dalam Ngenest – membuahkan beliau banyak trofi dari bermacam-macam ajang penghargaan film – bukan semata-mata keberuntungan pemula. Seperti halnya film debutannya, laju pengisahan dalam Cek Toko Sebelah pun dialirkannya secara lancar, gesit, pula dinamis sehingga tak mempersilahkan kejenuhan menyergap penonton barang sedetik pun. Perpaduan antara momen komedik dengan dramatiknya melebur mulus dengan masing-masing berhasil hadir sama kuatnya. Oleh sebab itu, dikala kau risikonya tetapkan untuk menonton film ini di bioskop, jangan lupa membawa persediaan tissue sebab Cek Toko Sebelah akan membuat pelupuk matamu lembap berulang-ulang kali sepanjang durasinya mengalun. Bukan semata-mata air mata haru berkat kehangatan plotnya yang menyinggung soal betapa berharganya sebuah keluarga, tetapi juga air mata tanggapan terlalu banyak tertawa karena rentetan humor yang dilontarkannya bekerja sangat efektif. Ada lebih banyak momen-momen dimana bom kelakar berhasil diledakkan tepat yang menghasilkan derai-derai tawa berkepanjangan ketimbang berakhir melempem hingga terdengar suara “krik krik” teramat terang dari kebun sebelah. 

Pendayagunaan rekan-rekan komika untuk memanggul pilar-pilar komedi mula-mula memang bikin hati cemas mengingat formasinya terhitung besar. Apa mungkin tidak akan saling tumpang tindih atau malah membuat filmnya menjadi terlalu konyol dan berdampak ke mengaburnya fokus penceritaan? Lagi-lagi kelewat mendeskreditkan kapabilitas Ernest, sebab kenyataannya, serpihan komedi bisa berjalan semestinya tanpa pernah mendistraksi elemen lain dalam film. Memang sih saya berharap ada beberapa serpihan lawak yang dipangkas demi memberi ruang lebih bagi tumbuh berkembangnya momen emosional termasuk menggali lebih dalam satu dua huruf inti, namun guyonan-guyonan yang dikedepankan Cek Toko Sebelah mempunyai level kocak terhitung tinggi sampai-sampai memupuskan keluhan lebih lanjut. Ya, ketepatan mengatur kemunculan guyonan (karena komedi juga soal timing yang pas!), beragamnya bahan kelakar yang dilemparkan dari sesederhana ledek meledek, kemudian sesekali bermain-main dengan gosip ibarat pemerkosaan hingga memakai acuan (ehem, Keluarga Cemara?), serta pemilihan pelaku sesuai dengan kebutuhan yaitu kunci dari bernyawanya elemen komedi disini. Sulit untuk tidak terpingkal-pingkal setiap kali Dodit Mulyanto, Adjis Doaibu, Awwe, Yusril Fahriza, hingga paling juara hebohnya, Asri Welas, menampakkan diri di layar. Mereka sangat mencuri perhatian di setiap kemunculan masing-masing. 

Yang kemudian membuat Cek Toko Sebelah kian memikat yaitu kemahiran Ernest mengorkestrasi sektor drama. Dibanding Ngenest, Cek Toko Sebelah memang mempunyai muatan drama lebih pekat mengingat lahan konfliknya berkisar pada keluarga. Penonton telah diberi arahan sedari awal ibarat adegan Yohan meminjam uang ke Koh Afuk atau adegan makan bersama yang berlangsung hirau taacuh sebetulnya laju film tidak akan sepenuhnya hura-hura belaka. Ini menarik. Dengan umpan telah dilemparkan semenjak menit-menit pertama, penonton pun tak kelabakan galau kala masinis lantas membelokkan kereta ke arah lain. Apabila kau memendam keraguan akan sulit terkoneksi ke tuturan kisah yang digulirkan oleh Ernest sebab berkutat di dilema keluarga keturunan Tionghoa, tak perlu risau. Pada dasarnya film ini mengapungkan konflik yang sifatnya universal sekaligus personal bagi sebagian besar penonton. Coba ingat-ingat lagi, pernahkah kita bertikai dengan orang tua? Pernahkah kita merasa telah berbuat apapun untuk orang bau tanah tapi kemudian tak dianggap? Pernahkah kita mengiyakan seruan orang bau tanah semata-mata demi tidak membuat hati mereka kecewa meski itu berarti mengkhianati impian diri sendiri? Pernahkah kita dihantui penyesalan teramat dalam sebab merasa belum bisa membahagiakan orang bau tanah semasa hidup? Pernahkah kita merasa orang bau tanah lebih mengasihi kakak/adik ketimbang kita? Kalau setidaknya satu diantaranya pernah kau alami, gampang untuk memahami pergolakan batin Koh Afuk, Yohan, maupun Erwin. 

Pergolakan batin ini diterjemahkan ke bahasa visual secara subtil oleh Ernest dan memperoleh dukungan akting jempolan dari Chew Kin Wah, Dion Wiyoko, serta Adinia Wirasti yang menyokong pilar-pilar drama. Chew Kin Wah memberi interpretasi jempolan untuk sosok ayah yang tampak tangguh di permukaan namun sejatinya menyimpan kegundahan hati mendalam, Dion Wiyoko tampilkan performa menyengat ahli sebagai anak sulung yang berharap sanggup berekonsiliasi dengan sang ayah, sementara Adinia Wirasti berbekal karisma kuatnya menghadirkan keteduhan diantara panasnya perseteruan anggota-anggota keluarga lain. Mereka beresonansi membuat getaran-getaran emosi yang memang diharapkan di elemen drama. Simak pada adegan Ayu mencoba menenangkan suaminya yang meledak-ledak, pertikaian di rumah sakit, hingga adegan di kuburan. Tanpa akting-akting ciamik, kesemuanya sangat mungkin berlalu tanpa kesan. Namun berkat kombinasi lakonan berkelas premium dari ketiga pemain tersebut, momen-momen ini membuat hentakan ahli yang akan membuatmu tak ragu-ragu menyeka air mata. Sungguh mengejutkan memang melihat bagaimana Ernest sanggup meng-handle babak komedi dan drama dengan sama baiknya di Cek Toko Sebelah. Jika beliau bisa terus konsisten ibarat ini, bukan mustahil dalam beberapa tahun ke depan namanya akan berada dalam jajaran “sineas Indonesia paling berpengaruh.” Luar biasa!

Noted : Coba perhatikan merek-merek barang yang ada di toko Koh Afuk. Detil yang kocak!

Outstanding (4,5/5)