October 21, 2020

Review : Chinese Zodiac (Cz12)


Tidak peduli seberapapun kerasnya angin puting-beliung kritik pedas dari kritikus yang menghantam Chinese Zodiac, film ini akan tetap disaksikan oleh puluhan juta penonton dari seluruh dunia – Oh well, Asia dalam hal ini. Resepsi jelek yang diterima tidaklah menjadi soal alasannya yakni film ini mempunyai ramuan penjamin kesuksesan di tangga box office, Jackie Chan dan laga. Yup, dominan penonton yang berbondong-bondong menyesaki bioskop tentunya berharap melihat agresi keren dari Chan. Chinese Zodiac disebut-sebut sebagai ‘comeback’-nya Jackie Chan ke ranah laga sehabis sekian tahun lamanya berkutat di peran-peran yang menuntutnya untuk berakting serius. Di film ke-101-nya yang merupakan reboot dari Armour of God dan sekuelnya, Armour of God II: Operation Condor ini Chan tak hanya menjabat sebagai aktor, produser, penulis skrip, serta sutradara saja, tapi juga ikut ‘cawe-cawe’ di departemen teknis dari mulai sebagai sinematografer, penata artistik, koreografer laga tugas pengganti, hingga koordinator katering. Whoaaa… borongan, Pak? Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan Jackie Chan terlibat di nyaris setiap bagian, akan turut mendongkrak kualitas film secara keseluruhan atau malah justru…. menenggelamkannya? Let’s see… 

Chinese Zodiac – atau sanggup juga disebut dengan CZ12 – memulai kisah dengan kemunculan 12 potong patung kepala bintang yang merupakan representasi dari 12 figur astrologi China yang telah usang dinyatakan musnah di banyak sekali rumah pelelangan dengan harga yang membumbung tinggi. MP Corp, sebuah perusahaan pelelangan untuk para kolektor yang dikepalai oleh Lawrence (Oliver Platt), ingin mengumpulkan secara lengkap ke-12 patung. Maka demi menyusuri keberadaan sejumlah relik ‘Chinese Zodiac’ yang masih belum diketahui keberadaannya, Lawrence memekerjakan JC (Jackie Chan). Dengan iming-iming bayaran besar, JC pun mengumpulkan tim (Kwon Sang-woo, Zhang Lan Xin, dan Liao Fan) dan segera bertindak. Informasi yang didapat dari seorang profesor kurator museum menghantarkan JC dan tim kecilnya ke Paris dimana mereka bertemu dengan Coco (Yao Xing Tong), pemimpin sebuah yayasan derma benda bersejarah. Tanpa mengetahui tujuan sebenarnya, Coco bersedia untuk membantu JC. Dengan Coco, dan kemudian seorang perempuan kaya berjulukan Katherine (Laura Weissbecker), bergabung dalam tim, perburuan pun resmi dimulai. 
Di atas kertas, Chinese Zodiac terdengar sebagai sebuah proyek yang menjanjikan. Jackie Chan kembali ke akarnya di film laga berbumbu komedi produksi kerjasama Hong Kong dan China. Akan tetapi, sayangnya, hasil final tak memenuhi pengharapan dan cenderung mengecewakan. Ini terperinci bukan sesuatu yang diinginkan kala menyaksikan Jackie Chan kembali beraksi di layar perak. Chinese Zodiac hadir sebagai sebuah film yang nyaris tidak bertenaga. Dengan durasi yang membentang hingga sepanjang 123 menit, film terasa melelahkan untuk diikuti. Keputusan Chan untuk menghindari segala bentuk klise dalam jalinan penceritaan malah justru menjadi bumerang bagi film ini sendiri. Alih-alih membuat deretan sajian laga yang segar dan inovatif, yang dilakukannya justru mengutak atik naskah. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan gelaran kisah yang klise semuanya berpulang kepada cara kemas dan hidangnya. Apa yang terjadi, pemeran Wong Fei-hung dalam dwilogi Drunken Master ini justru menjejali naskah dengan bermacam-macam konflik dan bermacam-macam huruf sehingga penuh sesak serta kehilangan fokus. Bahkan, saya sempat mengalami kebingungan dan bertanya-tanya, “apa yang bahwasanya ingin diceritakan oleh film ini?.” 

Dengan menyentuh semua departemen, kinerja Jackie Chan malah terkesan kurang maksimal dan cenderung setengah-setengah. Tidak ada yang benar-benar menonjol di sini sehingga penonton tak sanggup dibentuk terkesima olehnya. Naskah yang awut-awutan didukung pula oleh gelaran agresi yang monoton serta guyonan yang sudah terasa kuno. Mungkin, ini masih berhasil bila dilakukan 10 tahun lalu, tapi untuk sekarang? Maaf, tidak. Kentara sekali ambisi Chan untuk mengulang masa kejayaannya melalui Chinese Zodiac. Permasalahan yang dihadapi olehnya, he’s trying too hard. Keputusan untuk menghindari naskah yang dangkal – tapi sayangnya malah membuat jalinan penceritaan menjadi memusingkan dan menjemukan – ketimbang berupaya untuk menampilkan koreografi laga yang ‘unpredictable’ dan belum pernah kita saksikan yakni kesalahan terbesarnya di sini. Sungguh teramat sangat disayangkan. 
Pun demikian, Chinese Zodiac tidak lantas berubah menjadi menjadi film yang sepenuhnya jelek dan tidak sanggup dinikmati. Sekalipun hampir separuh film saya dibentuk terkantuk-kantuk dan ingin rasanya, bila ada, menekan tombol ‘fast forward’ semoga penderitaan segera berlalu, masih ada beberapa bab yang cukup sanggup dinikmati. Paruh awalnya menyiksa, namun menginjak pertengahan film khususnya kala JC dan konco-konconya ini mendarat di sebuah pulau tak berpenghuni, ‘kehidupan’ dalam film ini mulai menampakkan diri. Ada perasaan bersemangat untuk kembali mengikuti film. Dengan set yang terbatas, kelucuan, keseruan, serta kekacauan tersampaikan dengan baik. Inilah yang semenjak awal diidam-idamkan. Setelah misi terselesaikan, grafik pun kembali menurun hingga karenanya kembali membaik dalam sebuah epilog yang meski berlangsung singkat namun tidak mengecewakan mendebarkan dan memperlihatkan kemahiran serta keberanian Jackie Chan dalam sebuah adegan terjun bebas di udara yang dilanjut dengan berguling-guling di lereng kawah gurung berapi tanpa menggunakan pelindung kepala. 
Pada akhirnya, sebagai sebuah ‘comeback’ serta megaproyek yang ambisius, Chinese Zodiac atau CZ12 gagal dijalankan dengan baik. Dengan naskah yang amburadul dalam durasi yang kelewat panjang tanpa adanya deretan adegan laga yang ‘outstanding’, sudah lebih dari cukup menyaksikan film ini satu kali. Lemah nyaris tidak ada daya, menjemukan, melelahkan, sekaligus gampang dilupakan yakni kata-kata yang sempurna untuk menggambarkan film ini. Kecuali Anda yakni fans berat Jackie Chan yang hanya mau melihatnya kembali gila-gilaan dalam serangkaian adegan laga di film buatan Hong Kong dan China, maka Chinese Zodiac hanya akan membuat kecewa.

Poor