July 3, 2020

Review : Christopher Robin


“People say nothing is impossible, but I do nothing every day.” 
Jangan tertukar dengan Goodbye Christopher Robin (2017) rekaan Simon Curtis yang dibintangi oleh Domhnall Gleeson dan eneng Margot Robbie, Christopher Robin yakni pembiasaan live action untuk rangkaian film animasi Winnie the Pooh keluaran Disney layaknya Maleficent (2014) atau Cinderella (2015). Guliran pengisahannya murni berpijak di area fantasi, alih-alih ibarat film berjudul nyaris sama yang berkutat di area biopik dengan menyoroti kisah hidup si pencipta dongeng para penghuni Hundred Acre Wood, A.A. Milne. Dalam Christopher Robin (ingat, tanpa pelengkap kata Goodbye ya!), Marc Forster yang sebelumnya membesut film-film kece ibarat Finding Neverland (2004) beserta Stranger than Fiction (2006) ini mengetengahkan pada ajang reuni antara si aksara tituler dengan teman-teman masa kecilnya, termasuk Pooh si beruang madu, usai berpisah puluhan tahun. Penonton tak semata-mata diajak bernostalgia dengan mengikuti petualangan polos Pooh beserta kawan-kawannya ibarat dituangkan dalam film-film animasinya (terakhir kali mereka berkelana bersama pada tahun 2011 silam melalui Winnie the Pooh), melainkan turut diperdengarkan narasi dengan nada penceritaan yang lebih dewasa, kompleks, dan muram terkait krisis paruh baya. Sebuah pendekatan yang terbilang cukup berani mengingat film ini mengincar keluarga sebagai sasaran utamanya – disamping para penggemar Pooh, tentu saja.  

Dibuka dengan adegan bernada sendu yang menempatkan Christopher Robin cilik (Orton O’Brien) di sebuah pesta perpisahan yang dihadiri oleh Pooh (disuarakan oleh Jim Cummings), Eeyore (Brad Garrett), Piglet (Nick Mohammed), Tigger (Jim Cummings), Rabbit (Peter Capaldi), Owl (Toby Jones), Kanga (Sophie Okonedo), dan Roo (Sara Sheen), sejurus kemudian film memperlihatkan sederet fase hidup yang dilalui si aksara utama dalam beberapa tahun ke depan. Christopher Robin memasuki sekolah asrama, kehilangan sang ayah, menikahi wanita idamannya, bergabung dengan militer kemudian diterjunkan ke medan pertempuran pada Perang Dunia II, dikaruniai seorang putri, hingga kesannya menekuni profesi efficiency expert di sebuah perusahaan koper sebagai mata pencaharian utamanya. Sepintas, sekalipun melewati masa kecil yang tak mengenakkan, Christopher Robin cukup umur (Ewan McGregor) berhasil mencapai kehidupan yang ideal. Istrinya cantik, putrinya manis, dan pekerjaannya mapan. Apa lagi yang kurang? Bagi sang istri, Evelyn (Hayley Atwell), nyaris tak mempunyai kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga yakni kekurangan yang dimiliki suaminya. Christopher terlampau sibuk berjibaku dengan pekerjaannya sampai-sampai absen dari janjinya untuk menemani istri dan anaknya berlibur sejenak. Ditengah-tengah kepenatan hidupnya ini, Christopher menerima kunjungan tak terduga dari seorang mitra usang yang mengingatkannya kembali mengenai makna hidup yang sesungguhnya. 

Sebagai seseorang yang tumbuh besar bersama Winnie the Pooh dan kawan-kawan, menyaksikan Christopher Robin tak ubahnya sedang mengikuti sebuah reuni bersama sahabat masa kecil. Sebuah reuni yang menyenangkan alasannya saya berkesempatan untuk melepas rindu dengan kawanan penghuni Hundred Acre Wood, bernostalgia dengan masa-masa indah yang penuh gelak tawa, dan mendengarkan banyak dongeng menarik mengenai pengalaman hidup yang penuh suka duka. Mengingat selama beberapa tahun terakhir ini tidak disuguhi kisah petualangan kecil mereka, kerinduan yang sudah tak terbendung lagi ini rasanya dibayar tuntas oleh Christopher Robin. Sensasi yang diberikan oleh Marc Forster di sini boleh dibilang tidak jauh berbeda dari bahan sumbernya. Sisi magisnya masih bisa saya rasakan sedari film membawa kita menjejakkan kaki di Ashdown Forest, sumber pandangan gres A.A. Milne untuk mengkreasi Hundred Acre Wood yang sekali ini dimanfaatkan sebagai lokasi pengambilan gambar. Ada kebahagiaan tersendiri selama menyimak Pooh berinteraksi dengan konco-konconya termasuk Christopher yang sekarang kurang bersahabat, kemudian melihat Piglet, Tigger, beserta Eeyore bersatu padu dengan Pooh untuk menyelamatkan sahabat cukup umur mereka, dan menyaksikan kawanan ini tak berubah sedikitpun secara karakteristik sekalipun telah berpisah puluhan tahun dari Christopher. Pooh tetap beruang lugu yang perutnya gampang keroncongan, Piglet tetap si penakut berhati emas, Tigger tetap kelebihan energi dengan hobinya mantul kesana kemari memakai ekor, dan Eeyore yang menjadi aksara favorit saya di sini tetap memancarkan aura negatif ke segala penjuru. 
Kebersamaan karakter-karakter ini (sayangnya, Rabbit hanya muncul sebentar) membawa banyak kesenangan untuk film. Lebih-lebih, barisan pengisi suaranya ibarat Jim Cummings (telah bergabung dengan franchise Winnie the Pooh sedari penghujung abad 1980-an), Brad Garrett, serta Nick Mohammed pun bisa menawarkan nyawa dalam bunyi karakter-karakter yang mereka perankan. Penonton cilik yang sebelumnya tak mengenal mereka akan dibentuk terkekeh-kekeh menyaksikan tingkah polah konyol kawanan berwujud boneka binatang ini terutama Pooh yang seringkali bertindak ceroboh dan Tigger yang penuh semangat, sementara penonton cukup umur juga tidak akan mengalami kesulitan untuk tertawa berkat barisan dialognya yang amat menggelitik. Terselip filosofi hidup secara tanpa sengaja dibalik komentar polos Pooh terhadap apapun di sekitarnya (paling membekas berkenaan dengan ‘tidak melaksanakan apapun’), kemudian Eeyore dengan komentar muramnya yang sarat keluhan bakal sedikit banyak mengingatkan kita kepada, errr… diri sendiri yang tak jarang bersikap pesimis, gampang mengeluh, dan rajin banyak cincong dalam memandang kehidupan cukup umur ini. Alhasil, tidak terhitung berapa kali saya tertawa secara impulsif setiap kali Eeyore membuka lisan alasannya apa yang diucapkannya kolam sentilan sentilun kepada insan modern yang ibarat tak bisa membedakan antara realistis dengan pesimistis. Dia menjadi semacam antitesis bagi Pooh maupun Tigger yang mempunyai perspektif konkret untuk setiap kasus yang dihadapi.
 

Disamping para ‘hewan’ ini, Christopher Robin juga masih mempunyai aksara tituler yang lebih difungsikan untuk menangani momen dramatik. Ewan McGregor tunjukkan performa bagus cenderung depresif sebagai Christopher cukup umur yang telah menekan habis sisi kanak-kanaknya demi menjangkau ambisinya mencapai kejayaan dalam karir. Narasi seputar orang cukup umur yang telah melupakan masa kecilnya alasannya menganggapnya bertentangan dengan realita sejatinya bukan lagi hal gres dalam sinema Hollywood (salah satu yang terbayang yakni Hook (1991) milik Steven Spielberg), namun penyampaian Forster yang membubuhkan banyak hati ke dalam narasi membuatnya mampu untuk mempermainkan emosi. Diri ini merasa tersentuh, tersentil, kemudian diajak berkontemplasi untuk sesaat tatkala film mengajak kita untuk mengingat kembali ke masa kecil yang dipenuhi imajinasi konkret tanpa prasangka, mengingat lagi ke masa kecil yang membentuk kita sehingga berada di titik ini, mengingat lagi sahabat-sahabat baik yang kita tinggalkan dengan kesepakatan palsu berbunyi “aku tidak akan melupakan kalian”, mengingat lagi hal-hal yang menciptakan kita mencicipi kebahagiaan, mengingat lagi apa yang telah kita berikan untuk keluarga, hingga kesannya diajak untuk meninjau kembali pengorbanan-pengorbanan yang telah kita ambil demi tercapainya suatu mimpi. Mempunyai pembicaraan sedewasa serta sekompleks ini, tak ayal besar lengan berkuasa pada laju penceritaan Christopher Robin yang ada kalanya melambat dan bisa jadi memberi rasa jenuh pada penonton cilik. 

Untungnya, Forster sigap menyadari bahaya tesebut sehingga tak membutuhkan waktu usang baginya untuk memberi kompensasi berupa petualangan mengasyikkan bertabur humor segar yang berlangsung sedari protagonis utama kembali ke Hundred Acre Wood hingga ujung durasi. Selama itu pula kita bisa terbahak-bahak, menyeka air mata haru, hingga menawarkan pelukan kepada diri sendiri alasannya Christopher Robin yakni sebuah film yang bisa dideksripsikan dengan gampang memakai satu kata, yaitu indah.

Info layanan masyarakat : Terdapat sebuah adegan bonus di sela-sela end credit.

Outstanding (4/5)