November 27, 2020

Review : Cinderella


“Have courage and be kind.” 

Popularitas Cinderella tak perlu lagi dipertanyakan. Everybody knows Cinderella. Who did not grow up with the story with the wicked stepsisters and the glass slipper?… unless you live under a rock, of course. Dibanding rekan-rekannya sesama putri penghuni negeri dongeng, kisah hidupnya yang pilu namun sarat akan keajaiban terbilang paling sering dikulik oleh para sineas perfilman dunia entah dalam wujud penceritaan ulang atau sekadar dimanfaatkan sebagai template untuk membangun guliran kisah anyar. Ya, sejak profilnya melesat tinggi berkat film animasi klasik buatan Disney, Cinderella, berturut-turut versi lain bermunculan tanpa terkendali kolam cendawan di isu terkini penghujan. Dengan tren ‘modern retelling of fairytales’ tengah menghinggapi Hollywood gampang untuk menerka bahwa dongeng warisan dari Charles Perrault ini akan turut terkena imbasnya… dan memang tidak perlu menunggu waktu usang bagi kita untuk melihatnya divisualisasikan ke dalam bahasa gambar berbentuk live-action. Bagusnya, ketimbang neko-neko merombak ulang seluruh komponen penceritaan yang telah begitu familiar, Kenneth Branagh (Hamlet, Thor) malah sebisa mungkin setia pada sumber orisinil seraya mencoba kembali mengingatkan penonton kenapa Cinderella versi Disney banyak dicintai penonton. 

Tidak gampang menjalani hidup sebagai seorang Ella (Lily James). Kebahagiannya terus menerus direnggut secara perlahan dari kehilangan ibunda tercinta, mangkatnya sang ayah, sampai diperlakukan semena-mena selayaknya pembantu oleh ibu tirinya, Lady Tremaine (Cate Blanchett), dan kedua putrinya yang, errr… bodoh. Tanpa mempunyai teman yang sanggup diajak membuatkan derita, Ella melarikan diri sejenak dari kepenatan hidupnya ke hutan dengan menunggangi seekor kuda. Pelariannya ini mempertemukan Ella dengan Prince Charming yang memperkenalkan dirinya sebagai Kit (Richard Madden). Terpesona oleh kecantikan, keberanian, dan kesopanan Ella – disebutnya sebagai “gadis desa yang jujur” – Kit pun menitahkan pasukan kerajaan untuk mengundang seluruh wanita dari bermacam-macam lapisan sosial guna menghadiri Pesta Dansa dengan harapan bertemu kembali dengan Ella. Kabar membahagiakan ini menyebar secara cepat ke seluruh penjuru, termasuk ke indera pendengaran Lady Tremaine yang berencana memanfaatkan pesta tersebut untuk berburu menantu kaya bagi kedua putrinya yang tidak bisa diharapkan. And you already know the rest of the story, rite? 

Coba tanyakan pada dirimu sendiri, kapan terakhir dibentuk terperangah – atau setidaknya mencicipi sensasi magis – oleh sebuah film yang guliran penceritaannya didasarkan pada dongeng klasik? Well, bila diperkenankan menentukan film animasi, maka jawabannya gampang saja… Frozen. Tapi memperbincangkan live-action, membutuhkan waktu cukup usang untuk memikirkannya sampai ingatan terhenti ke delapan tahun silam pada Enchanted. Dekonstruksi Disney terhadap sederet film keluarga klasik memang semakin usang terasa dipaksakan sampai menciptakan kepercayaan pada mereka sedikit meluntur, namun ini tidak berlaku pada Cinderella yang secara sukses meyakinkanku bahwa Disney belum sepenuhnya kehilangan sentuhan magisnya. Karena ya, tidak peduli seberapa sering mendengar dongeng ini dikumandangkan, Cinderella versi Kenneth Branagh masih ampuh menjeratku dengan segala pesona yang dimilikinya. Menghidupkan kembali sisi anak kecil dari setiap penonton remaja yang berjingkrak-jingkrak penuh kegembiraan dalam duduk antengnya karena segenap imajinasi pada dunia dongeng yang didiami oleh sang putri dan pangeran impiannya dihamparkan dengan visualisasi yang sangat charming, luar biasa cantik, dan melenakan mata oleh Branagh sampai menciptakan kita berkata, “it’s pure magic!”
Mungkin ini terlalu dini untuk mencetuskan prediksi (atau semacamnya), namun terang sangat keterlaluan apabila Oscars tidak bersedia memperlihatkan setidaknya nominasi bagi Cinderella untuk kategori desain produksi, pengaruh khusus, dan kostum. Ketiga departemen ini memberi polesan tepat pada film yang menunjukan bahwa kemajuan teknologi memang seharusnya dirayakan. Lihatlah bagaimana kinerja tim-tim ini memberi citra menakjubkan pada keajaiban negeri dongeng; dari lanskap kerajaan yang membuai, transformasi labu beserta hewan-hewan mungil menjadi kereta kencana bersepuh emas dan pengawal Cinderella (begitu pula sebaliknya dalam sebuah adegan yang menciptakan jantungmu berpacu keras!), detil-detil ornamen yang menghiasi rumah Ella, alun-alun maupun istana, sampai paling penting… kostum dan sepatu kaca. It’s time for agree to disagree – atau mungkin menyebutku kelewat hiperbolis – tapi adegan pesta dansa akan menciptakan matamu terbelalak berkat parade busana-busana pesta mengagumkan utamanya gaun biru berkilau Cinderella yang aduhai cantiknya tiada tara. 
Tentu saja segala keindahan dan kemewahan ini akan berasa hampa tanpa pertolongan memadai dari sektor lakon maupun naratif. Lily James ialah pilihan bijaksana untuk membawakan kiprah sebagai Cinderella. Paras eloknya yang sedikit banyak mengingatkan pada Kate Winslet muda berbanding lurus dengan kemampuan berlakonnya yang yah, simply stunning. Karakter Ella yang sekali ini sedikit lebih kompleks dibanding biasanya dihantarkannya secara menawan sehingga gampang bagi penonton untuk terpikat kepada sosoknya. Chemistry-nya bersama Richard Madden pun terajut indah pula meyakinkan yang menciptakan kita gemas penuh ketidaksabaran untuk melihat keduanya dipersatukan di pelaminan. Tapi bila dipaksa menentukan jawaranya, hati ini tertambat pada performa luar biasa dari Cate Blanchett dan Helena Bonham Carter (berperan sebagai The Fairy Godmother). Meski hanya disediakan slot tampil terbatas, Helena Bonham Carter sanggup mencuri perhatian sedemikian rupa dengan kiprah komikalnya yang membawa keceriaan di tengah-tengah murung namun tetap memancarkan aura keibuan cukup kuat. Sedangkan Cate Blanchett… ah, beliau memperlihatkan betapa piala Oscars memang layak digenggamnya. Dibalik segala keanggunan yang menyertai Lady Tremaine, tersimpan keangkuhan, kebengisan, dan (ini yang tak tampak di versi lain) kerapuhan. Blanchett seolah tidak perlu berusaha keras untuk terlihat cuek mengintimidasi di satu momen, namun tak berdaya membutuhkan belas kasih pada momen lain. 

Dan, Chris Weitz yang mengemban kiprah meracik ulang dongeng ini mempertemukan elemen klasik dan modern secara tepat tanpa harus bertindak kurang asuh dengan mengacak-acak komponen penceritaan orisinil (seperti yang dilakukan oleh, errrMaleficent, misalnya). Sentuhan anyar yang dibubuhkan seperlunya saja disana sini malah cenderung memperkuat penceritaan ketika cinta yang tumbuh diantara Cinderella dan Prince Charming berasa lebih manis alasannya ialah mengulik soal unconditional love yang menyentil juga mengenai ijab kabul para pangeran atas dasar keterpaksaan… atau katakanlah, politik dan beberapa abjad utama memperoleh penggalian lebih mendalam khususnya sosok Cinderella yang sekali ini tidak lagi digambarkan sebagai one-dimensional character yang lemahnya tidak ketulungan melainkan lebih berwarna (dan kuat, tentunya) karena juga mempunyai kecerdasan serta keberanian diatas tingkah lakunya yang santun menuruti amanat dari sang ibunda – sekaligus menjadi pesan moral utama dari film – “have courage and be kind.” Berkat kecermatan Weitz dalam meramu naskah yang lantas berpadu mahir bersama pengarahan besar lengan berkuasa Branagh, kejelian departemen teknis, serta kegemilangan para pelakon inilah yang menempatkan Cinderella di kasta terhormat diantara penyesuaian film klasik lain dari Disney (maupun studio-studio lain). Setidaknya, Cinderella masih mempunyai satu resep penting yang dihentikan tertinggal dan menjadi alasan utama mengapa versi animasi milik Disney bisa menyandang status klasik, unsur magis. Inilah yang akan membuatmu berkata, “yak, harus nonton lagi!”, hanya sesaat sehabis lampu bioskop dinyalakan. 

Note : Jangan terlambat memasuki gedung bioskop alasannya ialah sebelum hidangan utama disajikan, kau akan memperoleh hidangan pembuka yang imut menggemaskan melalui Frozen Fever.

Outstanding