October 21, 2020

Review : Cinta Brontosaurus

“Memang, kalau cinta butuh alasan, Bang?” – Edgar

Cinta memang tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas hingga kapanpun. Selalu saja ada sisi yang menarik untuk dikulik meski sejatinya apa yang dibicarakan tidak terlampau jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Raditya Dika – serta ribuan penulis lainnya di luar sana – melihat potensi yang besar apabila menggarap kisah yang berkaitan dengan percintaan. Lebih mengasyikkan lagi… jikalau itu menurut pengalaman pribadi. Di periode dikala ‘menggalau’ – terutama dalam urusan asmara – seolah telah menjadi makanan pokok sehari-hari, maka tidak ada yang lebih tepat lagi dari menyajikan sebuah sajian dimana di dalamnya terkandung elemen-elemen ibarat jatuh cinta, penolakan, patah hati, dan memenangkan hati pasangan, kepada publik (atau dalam hal ini, penonton muda). Segala hal yang berkaitan dengan suka sedih dan pahit bagus kehidupan percintaan ini Dika coba tuangkan dalam film teranyarnya, Cinta Brontosaurus

Yang menjadi pertanyaan sekarang, akankah Cinta Brontosaurus bisa menebus kesalahan Dika sebelumnya di Kambing Jantan? Well… jikalau Anda masih ingat, film perdana dari Dika tersebut mendapatkan resepsi yang bermacam-macam dari penikmat film, meski ditilik dari perolehan angka penonton tergolong sesuai harapan. Saya pribadi pun tak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan kala menyaksikannya, cenderung dingin dan kelewat bertele-tele. Maka dikala Cinta Brontosaurus hadir, dan belakangan laku bagus di pasaran, saya tidak terlampau tergugah untuk mencicipinya sekalipun ada nama Fajar Nugros – yang sebelumnya membuat saya terkesima dengan gaya tuturnya yang unik melalui Cinta di Saku Celana – di belakang kemudi. Seolah tidak ada lagi kepercayaan kepada Dika. Akan tetapi, sehabis mencicipinya langsung, ternyata Cinta Brontosaurus tidaklah seburuk ibarat yang saya duga. Sama sekali tidak jelek malah. Memang ini bukan sebuah lompatan yang jauh dari film sebelumnya, namun yang jelas… ini lompatan yang sangat baik. It’s just simply a lot of fun
Dengan durasi yang membentang hingga mencapai sekitar 100 menit, ada banyak kesenangan yang bisa didapat. Dika tidak memancing ‘hiruk pikuk’ berupa ledakan tawa dengan memanfaatkan lawakan slapstick yang kerap kali dipakai oleh film lawak kebanyakan. Bangunan komedi dibuat oleh situasi yang terjadi di sekitar serta celetukan-celetukan yang dilontarkan oleh para tokoh. Jelas, yang menjadi obyek ‘ledekan’ di sini yaitu sang tokoh utama (pria) yang kerap kali dirundung kesialan kala merajut cinta. Ini akan menjadi sesuatu yang lucu dan mengena bagi mereka yang (a). menggemari guyonan khas Dika, (b). arif balig cukup akal usia belasan atau awal 20-an, dan (c). senantiasa menggalau ihwal cinta (atau dalam hal ini, mengalami insiden serupa). Selain ketiga tipe itu, bisa jadi tuturan film hanya berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan. Pun demikian, film tidak melulu menggunjing perihal cinta semata, gambaran film horor nasional yang telah benar-benar ternoda pun turut disinggung. Anda yang mengikuti perkembangan film nasional tentu tahu kan betapa para dedemit di Indonesia ini telah dieksploitasi sedemikian rupa hingga melewati batas kededemitan? Menjadi kian tak masuk akal dan mulai menjurus ke arah ‘absurdisme’. 

Dan berbicara mengenai absurd… maka film yang untuk urusan naskah digarap eksklusif oleh Raditya Dika ini pun bisa dibilang menggagas problem cinta yang ‘aneh’ – dan bisa jadi, abstrak – atau memang sengaja dibuat demikian demi memberi daya tarik terhadap guliran kisah. Setelah serangkaian patah hati yang diterima, dimulai semenjak masih duduk di dingklik SD, Dika pun membuat konsep bergotong-royong cinta sanggup kadaluarsa. Demi mengembalikan kepercayaan Dika kepada cinta, sang agen, Kosasih (Soleh Solihun), pun memperkenalkan Dika kepada sejumlah perempuan. Dan dari sinilah aneka macam hal yang unik, aneh, dan tidak masuk logika itu mulai menyeruak. Lihat saja sobat kencan Dika; tante girang, wanita yang gemar mengawetkan apapun yang dicintainya, hingga wanita yang hendak melahirkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang cocok, hingga sang tokoh utama berkenalan dengan Jessica (Eriska Rein) melalui sebuah percakapan yang menggelikan (dan tentunya, aneh) di restoran Jepang. Kala mereka melaksanakan kencan pun, lokasi yang dipilih juga sama tidak biasanya; atap pom bensin. Mungkin ada sejumlah penonton yang melancarkan kritik atau protes, akan tetapi… mau tak mau kudu diakui, adegan ini sanggup membekas di ingatan. Sebuah adegan ikonik yang bisa jadi akan masih tetap diingat di tahun-tahun mendatang. 
Ditilik dari segi penceritaan, Cinta Brontosaurus memang sejatinya tidak menunjukkan sesuatu yang benar-benar segar. Yang menimbulkan film menjadi menarik untuk disimak yaitu guyonan dari Raditya Dika yang berkarakter (hingga terkadang menjadikannya ‘segmented’), upaya Fajar Nugros dalam menerjemahkan goresan pena dari Dika hingga menghasilkan bahasa gambar yang menggoda, tembang-tembang dari HiVi! yang menyatu dengan tepat bersama roh film, serta penampilan dari jajaran pemainnya; sebut saja Soleh Solihun, Ronny P. Tjandra, Pamela Bowie, dan Meriam Bellina, yang senantiasa mencuri perhatian. Adalah sebuah keputusan yang tepat bagi Dika untuk tidak sepenuhnya patuh dengan versi novel serta tak mengatakan porsi berlebih untuk drama (yang mana justru berakhir fatal di Kambing Jantan). Memang pada hasilnya tidak setiap orang bisa mendapatkan gaya bercanda Dika, namun yang jelas, Cinta Brontosaurus yaitu sebuah peningkatan yang memuaskan dari film sebelumnya. Sajian yang menghibur, menyenangkan, serta (sedikit banyak) romantis berhasil dihidangkan.

Acceptable