October 25, 2020

Review : Cinta Di Saku Celana


Gua ga minta hal-hal yang gila dari lo. Gua cuma minta lo nyopet cinta.” – Ahmad

Cinta di Saku Celana beranjak dari dongeng pendek berjudul Cinta di Saku Belakang Celana yang berada dalam kumpulan cerpen “I Didn’t Lose My Heart, I Sold It on eBay” yang ditulis oleh sang sutradara, Fajar Nugros. Setelah berbulan-bulan lamanya masyarakat dijejali dengan film romantis cengeng yang menyebabkan penyakit mematikan sebagai musuh utama, alhasil hadir sebuah film komedi romantis dari penulis naskah Tendangan Dari Langit dan pembesut Queen Bee yang tidak disangka-sangka sangat menghibur. Filmnya sendiri terbilang cukup absurd, rasanya hampir tidak mungkin benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Akan tetapi, mengesampingkan plotnya yang ajaib, Fajar Nugros masih tetap mampu menghadirkan sebuah film yang tidak hanya manis, tetapi juga lucu dan menghibur. Tidak dengan cara yang saru, kasar, maupun menjijikan, namun lebih kepada situasi dan dialog. Salut untuk Ben Sihombing selaku penulis naskah. Ketepatan Fajar Nugros dalam menentukan pemain ialah kunci kesuksesan dari film ini. Sejumlah pemain andal tumpek blek disini. Mulai dari Donny Alamsyah, Joanna Alexandra, Ramon Y Tungka, Gading Marten, Dion Wiyoko, Endhita, sampai Lukman Sardi. Dan saya masih belum menyebutkan Luna Maya, Yati Surachman, Agus Kuncoro dan Masayu Anastasia yang nongol tak lebih dari satu menit namun sukses mencuri perhatian. 

Yang menjadi protagonis utama dalam Cinta di Saku Celana ialah Donny Alamsyah. Dia berperan sebagai Ahmad, petugas di kantor pos, yang ingin mencicipi cinta. Tumbuh besar sebagai yatim piatu di panti asuhan, dengan Ibu Panti Asuhan (Vita Ramona) bermuka datar tanpa ekspresi, Ahmad belum pernah mencicipi nikmatnya cinta. Dalam konteks ini, kekasih. Ahmad kalah telak dengan sahabatnya, Gifar (Dion Wiyoko), yang dengan gampang menaklukkan hati para wanita, walaupun saya sama sekali tidak yakin cara-cara Gifar menggaet perempuan akan berjalan dengan mulus apabila diterapkan di luar film. Sebenarnya ada satu gadis yang menciptakan Ahmad klepek-klepek setiap kali memandangnya. Gadis tersebut berjulukan Bening (Joanna Alexandra). Mereka berdua kerap bertemu di gerbong KRL. Hanya saja, tak ada keberanian dalam diri Ahmad untuk mengajak berkenalan Bening. Dan selama kurang lebih satu tahun, alih-alih berusaha untuk pedekate, Ahmad hanya memandanginya saja. Lucunya, Bening pun seakan tidak merasa kalau nyaris setiap hari ada seorang laki-laki bertubuh tegap berwajah sangar yang selalu mengamatinya. Kalau Anda ialah Bening mungkin sudah ngeri duluan dan ogah naik KRL lagi, kali ya? 

Atas saran dari Ibu Panti Asuhan dan Gifar, Ahmad menciptakan semacam surat cinta untuk Bening. Dasar sial, alasannya ialah kecopetan surat itu pun raib. Rasa percaya diri Ahmad pun runtuh. Segalanya menjadi kian abstrak tatkala Ahmad berkenalan dengan pencopet kelas teri berjulukan Gubeng (Ramon Y Tungka). Masa-masa saat Ahmad dan Gubeng bersama ialah yang paling saya suka dari film ini. Chemistry yang terjalin diantara mereka terasa asyik dan kompak. Ramon Y Tungka pun membawakan dialognya dalam Boso Suroboyoan asli, bukan Bahasa Indonesia yang sok-sok dibentuk medhok, dan ini membuatnya terasa segar dan lucu. Tujuan Ahmad berkenalan dengan Gubeng ialah meminta sumbangan untuk mencuri cinta Bening. Nah lho, malah minta sumbangan copet. Cinta yang diidam-idamkan oleh sang tokoh utama pun tak semakin mendekat, malah menjadi semakin jauh dan memusingkan. Bening nampak jatuh hati pada Gubeng terutama sesudah diselamatkan dari sebuah insiden tawuran antar pelajar sekolah di stasiun. Ketika Gubeng menghilang, Bening jatuh ke pelukan ke Roy (Gading Marten), pemilik Laundry sekaligus gembong narkoba.  

Tak ibarat film komedi romantis kebanyakan yang cenderung berjalan dengan alur yang linear dan gampang dipahami, Fajar Nugros mengajak para penontonnya untuk berfilosofis serta bermain-main dengan simbol dan metafora yang ditebarnya di nyaris penjuru film demi memperlihatkan klarifikasi mengenai cinta. Inilah yang menciptakan Cinta di Saku Celana menjadi terasa abstrak bagi yang tidak terbiasa dengan film semacam ini. Akan tetapi, dengan segala macam simbol yang bermunculan dimana-mana, tidak lantas menciptakan film ini menjadi berat dan memusingkan. Seperti yang telah saya tulis di awal resensi, ini ialah sebuah film yang menghibur. Terasa segar dengan pendekatan yang terbilang gres untuk film komedi romantis buatan sineas lokal, dan menyenangkan dengan visual yang bagus serta jajaran pemainnya yang berakting lepas. Selain nama-nama yang telah saya sebutkan sebelumnya, Cinta di Saku Celana masih mempunyai Imey Liem, Pricillia Tanamal, Eko Kristianto, Baim, dan Vita Ramona yang hanya menerima porsi tampil sedikit namun mampu meninggalkan kesan yang cukup dalam. Jangan lupakan pula Tya Subiakto dan Khikmawan Sentosa selaku penata musik dan penata bunyi yang turut memperlihatkan sumbangsih dalam menyukseskan film ini. Pujian pun patut disematkan kepada Slank yang telah bersedia membawakan lagu tema yang mampu menciptakan film menjadi terasa lebih hidup. Secara keseluruhan, meski masih jauh dari sempurna, Cinta di Saku Celana sukses menjalankan misinya dalam menghadirkan sebuah tontonan komedi romantis yang berbeda dari yang sudah-sudah. Judulnya mungkin terdengar cheesy, posternya pun tak menggugah selera, bahkan plotnya sendiri pun ajaib, akan tetapi sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta kepada film ini terutama dengan jajaran pemainnya yang tampil menghibur. Sebuah film di masa liburan yang sangat menyenangkan.

Acceptable