October 19, 2020

Review : Cinta Suci Zahrana


Apa kabar perawan tua? Kelapa itu semakin bau tanah semakin kental santannya. Maka banggalah menjadi perawan tua.” – Sukarman 

Cinta Suci Zahrana yakni film Idulfitri terbaik tahun ini… kalau dinilai dari trailer. Dari keempat film Indonesia yang dilempar ke pasaran menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri, Cinta Suci Zahrana menjadi satu-satunya yang memiliki trailer paling ‘bener’. Fungsinya terjalankan dengan baik. Tapi sayang sekali, Sinemart, kualitas dari sebuah film tidak dinilai dari penampilan trailer-nya, sebagus apapun kemasannya. Setelah Ayat-Ayat Cinta, film-film pembiasaan dari novel karangan Habiburrahman El Shirazy – atau yang bersahabat disapa Kang Abik – kian usang kian memprihatinkan. Puncaknya, ketika dia tetapkan untuk turun ke lapangan demi membesut Dalam Mihrab Cinta yang ah… sudahlah, tak usah dibahas. Anda tentu sudah tahu betapa konyolnya film tersebut. Entah alasannya yakni memang suatu kesengajaan karena paham betul penonton akan mengolok-olok hasil selesai film ini, atau murni alasannya yakni sebuah kecelakaan – hanya sutradara dan Tuhan yang tahu, Chaerul Umam yang juga menangani dwilogi pembangun jiwa, Ketika Cinta Bertasbih, tetapkan untuk membawa Cinta Suci Zahrana ke ranah komedi. Setidaknya, itu yang berhasil saya tangkap. 
Tidak menyerupai Ayat-Ayat Cinta, dwilogi Ketika Cinta Bertasbih, maupun Dalam Mihrab Cinta, petualangan cinta dosen muda berjulukan Zahrana (Meyda Sefira) ini tidak dibalut dalam jalinan kisah yang mendayu-dayu, dan nuansa romantis yang berlebihan. Chaerul Umam mencoba untuk melaksanakan pendekatan baru, menerjemahkan novel Kang Abik menjadi sebuah film yang penuh dengan kegembiraan, keceriaan, dan kekonyolan yang menciptakan gedung bioskop dipenuhi dengan riuh tawa penonton yang nyaris tiada henti sepanjang film. Terserah Anda mengartikan ini sebagai sebuah evaluasi yang positif atau negatif. Yang jelas, saya sangat menikmati setiap detik yang berjalan tatkala menyaksikan film ini. Ini yakni film Indonesia pertama yang menciptakan saya tertawa terbahak-bahak sampai-sampai mengeluarkan air mata – atau kalau Anda ingin saya menuliskannya dalam bahasa yang lebay, ngakak kejengkang – di tahun 2012. Naskah olahan almarhum Misbach Yusa Biran menuntut film untuk bertutur dengan lebih santai dan realistis. Konflik yang dihadapi oleh Zahrana, begitu juga dengan sejumlah tokoh yang hadir dalam kehidupan Zahrana, sanggup kita jumpai dengan gampang di kehidupan nyata. Beberapa dari Anda tentu sudah pernah dihadapkan pada pertanyaan, “kapan nikah?” atau “sudah punya calon belum?”. Pertanyaan sederhana tapi nyelekit inilah yang menjadi dasar kisah Cinta Suci Zahrana.  
Jalan kisah Cinta Suci Zahrana masih mengulik seputar perjodohan dan lamar-melamar. Zahrana yang telah berusia 34 tahun tidak kunjung dipersunting oleh lelaki. Bukan tidak ada yang mau dengan Rana – sapaan bersahabat Zahrana, akan tetapi perempuan yang gres saja kembali dari Beijing berkat prestasinya yang moncer dalam bidang akademis ini belum menemukan yang pas di hati *halah*. Hal ini menciptakan kedua orang bau tanah Rana cemas. Harapan terakhir ayah Zahrana yang sakit-sakitan, Munajat (Amoroso Katamsi), yakni ingin segera melihat putri semata wayangnya ini segera naik ke pelaminan. Atasan Rana, Sukarman (Rahman Yacob), melamar Rana. Dengan alasan tidak menyukai tabiat dari Sukarman, Rana menampik lamaran. Konsekuensi yang diterima, dia kehilangan pekerjaan dan menerima teror SMS yang tiada berkesudahan. Melihat kondisi sang ayah yang kian kritis, Rana pun meminta proteksi seorang ustadzah untuk mencarikannya jodoh. Rana dijodohkan dengan seorang penjual kerupuk keliling, Rachmad (Kholidi Asadil Alam). Di ketika janji nikah hendak dilangsungkan, hadir Hasan (Miller Khan), seorang mahasiswa tingkat selesai yang pernah dibimbing Rana ketika mengerjakan skripsi. Jika Anda sudah hafal dengan cara bertutur Kang Abik, maka Anda tentu sudah sanggup menebak bagaimana penyelesaian cinta segibanyak antara Rana dengan para laki-laki yang mengejarnya. Ada tokoh yang kudu dijadikan ‘tumbal’ demi terwujudnya selesai kisah yang bahagia. Yang menjadi pertanyaan, siapakah dia? Jeng jeng! Film pun ditutup dengan obrolan menggelikan yang menciptakan saya ingin bergelantungan di dalam bioskop. “Mas, bolehkah saya menciummu?” “Tapi saya malu, dik.” “Tapi kan kita sudah menikah, sudah halal, dan kita sendirian.” Setelah obrolan ini, Rana dan suaminya berjalan menjauhi kamera, menuju Candi Prambanan. Penonton tidak dibiarkan tahu, apakah mereka kesannya berciuman atau tidak. Meh.

Poor