October 21, 2020

Review : Cita-Citaku Setinggi Tanah

 “Rezeki itu nggak pernah pergi. Dia cuma menunggu waktu yang sempurna untuk kembali.”

Ada perasaan miris ketika saya bertandang ke salah satu bioskop di Semarang siang kemarin untuk menyaksikan Cita-Citaku Setinggi Tanah. Bagaimana tidak, hanya ada empat penonton yang menemani saya di dalam gedung bioskop menyaksikan film sepanjang 75 menit ini. Padahal dikala itu ialah hari pertama film ini dilempar ke pasaran. Apakah promosi kurang gencar sehingga publik belum menyadari keberadaannya atau publik telah benar-benar masa kolot dengan film Indonesia? Kemana perginya kalian yang selama ini berkoar-koar membutuhkan film buatan anak bangsa yang berkualitas? Seriously, It’s a good movie. Ini ialah waktu yang sempurna untuk mengambarkan kepedulian kalian. Bahkan, penjualan tiket untuk film ini seluruhnya akan didonasikan untuk belum dewasa penderita kanker. Niatan nrimo yang seharusnya menerima bantuan penuh dari masyarakat. Terlepas dari apakah kontribusi ini hanya dipergunakan sebagai alat untuk menarik perhatian penonton atau tidak, Cita-Citaku Setinggi Tanah tetaplah sebuah sajian yang sebaiknya tidak Anda lewatkan begitu saja. 
Film perdana buatan Eugene Panji ini tidak mencoba untuk menjadi sebuah film yang ambisius dengan mengapungkan permasalahan-permasalahan pelik nan memusingkan yang pada karenanya hanya menciptakan sang pembuat kebingungan dalam mengurai benang yang telah mengusut. Apa yang disoroti di sini sangatlah sederhana, ini ialah ‘everybody’s story’. Saya yakin, Anda pun pernah mengalaminya. Masih ingatkah Anda ketika duduk di dingklik sekolah dasar pernah ditanya oleh guru Bahasa Indonesia, “apa cita-citamu?”. Saat menerima pertanyaan menyerupai demikian, bagaimana Anda menjawabnya? Jawaban yang umum diterima dari bocah-bocah SD, menyerupai halnya yang diperlihatkan dalam segmen singkat mengenai “cita-citaku adalah…” di awal dan epilog film ini, tidak jauh-jauh dari profesi menyerupai dokter, pilot, penegak hukum, artis, pramugari hingga presiden. Semuanya tinggi-tinggi. Saat ada yang menawarkan tanggapan yang agak nyeleneh, konsekuensi yang diterima ialah cenderung ditertawakan. Lihat saja apa yang terjadi pada Agus (M Syihab Imam Muttaqin). Setelah ia mengemukakan cita-citanya untuk sanggup makan di restoran Padang, ledakan tawa dengan nada mengejek pun membahana. Bagi teman-temannya, mimpi Agus dianggap terlalu dangkal. 
Cita-cita yang dikemukakan secara verbal oleh para siswa di dalam kelas diminta oleh sang Guru Bahasa Indonesia untuk dituangkan ke dalam bentuk karangan pada simpulan semester. Tugas yang sekilas terlihat remeh temeh ini nyatanya menciptakan Agus dan ketiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana), Puji (Iqbal Zuhda), dan Mey (Dewi Wulandari), kelimpungan. Mereka menanggapinya dengan serius, seperti sedikit kesalahan dalam goresan pena sanggup memengaruhi kesempatan mereka dalam menggapai cita-cita. Ketika ketiga sahabat Agus asyik menggores kata-kata di atas kertas dengan melayangkan angan-angan, Agus menentukan pendekatan lain sehabis mendengar pesan yang tersirat dari seorang tetangga, “cita-cita bukan cuma untuk ditulis saja, tetapi diwujudkan.” Tanpa sepengetahuan keluarga dan teman-temannya, Agus banting tulang kesana kemari untuk menumpuk receh dalam celengan bambunya demi mencicipi nikmatnya masakan Padang. Menuntaskan kiprah sekolah bukan lagi menjadi tujuan akhirnya, melainkan berubah haluan menjadi bagaimana cara mewujudkan cita-citanya yang hanya setinggi tanah itu. 
Naskah hasil kreasi aliran Satriono yang beranjak dari sebuah premise yang sangat sederhana tidak berbelit-belit dalam memberikan kisah. Lancar dan mengalir apa adanya. Satriono dan Eugene Panji memasukkan aneka macam kesederhanaan, kejujuran, dan cinta kasih untuk film ini yang menciptakan Cita-Citaku Setinggi Tanah menjadi sebuah film yang sangat hangat dan membumi. Pesan moral dan sindiran-sindiran sosial disampaikan secara halus tanpa perlu dijabarkan dalam bentuk obrolan beratus-ratus kata namun tetap mengena di hati penonton. Kesederhanaan memang menjadi kunci utama dari film produksi Humanplus Production ini. Tidak hanya dari segi naskah, ditilik dari sisi teknis pun film ini sangatlah sederhana. Bisa jadi, sebab keterbatasan biaya. Bagusnya, menyadari bahwa sokongan dari sisi teknis tidaklah memadai, Eugene Panji dan tim memaksimalkan kinerja dari departemen lain yang hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Naskah buatan Satriono yang berbicara lantang berpadu manis dengan akting dari para pemainnya, khususnya para pemain film cilik pendatang baru, yang natural serta soundtrack yang ‘easy listening’ dan ditempatkan secara pas. Namun yang benar-benar menciptakan saya jatuh hati dengan film ini ialah alur dongeng dan para tokohnya yang merakyat yang sanggup saya jumpai dengan gampang dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini ialah kisah tetangga, keponakan, anak, cucu, sepupu, atau malah justru Anda sendiri. Ini bukan sebuah fantasi kehidupan, bukan juga sebuah halusinasi kehidupan, tapi ini sebuah realita kehidupan. Dekat sekali di hati. Maka saya sungguh menyayangkan bila film sebagus, sejujur, dan sehangat Cita-Citaku Setinggi Tanah ditanggapi cuek oleh masyarakat.

Exceeds Expectations