October 21, 2020

Review : City Of Jade


Melalui film dokumenter bertajuk City of Jade, sutradara Taiwan berdarah Myanmar, Midi Z, menghamparkan potret realistis, buram, sekaligus personal mengenai kehidupan para penambang kerikil giok ilegal di suatu tempat yang kerap disebut Kota Giok. Tidak ibarat karyanya terdahulu, Jade Miners, yang lebih banyak menaruh perhatian terhadap siklus kehidupan para penambang dengan gaya bertutur kurang dekat bagi penonton kebanyakan – hanya mengandalkan 20 shots selama rentang durasi 100 menit, City of Jade secara spesifik menempatkan saudara pria sang sutradara, Zhao De-chin, sebagai subjek dan adanya dinamika dalam penuturan menciptakan film akan lebih gampang terhubung ke khalayak luas. Terlebih, kulikan Midi Z disini terhitung sangat menarik alasannya ialah bukan semata-mata mempergunjingkan soal situasi politik dari tanah kelahirannya yang sarat akan intrik berlarut-larut tetapi juga membahas bagaimana impak besarnya terhadap kehidupan masyarakat Myanmar atau dalam hal ini, keluarganya sendiri.  

Pertanyaan utama yang diajukan film adalah, “apa yang sebetulnya dialami Zhao De-chin ketika dirinya tidak memperlihatkan kabar apapun pada keluarga selama dua puluh tahun lebih?.” Ya, City of Jade semacam sarana rekonsiliasi Midi Z dengan saudaranya, Zhao De-chin, yang telah menghilang dari kehidupannya selama menahun tanpa pernah sekalipun merespon ratusan surat yang dilayangkan oleh sang adik. Selepas Zhao De-chin yang ternyata diketahui mendekam dibalik jeruji besi karena mempergunakan obat-obatan terlarang dibebaskan pada tahun 2010, si pembuat film menghampirinya untuk memperoleh jawaban. Hal pertama yang diketahui Midi Z dari saudaranya tersebut ialah keinginannya untuk melanjutkan pencarian kerikil giok di wilayah konflik Kachin, Myanmar. Konon, perseteruan tak berkesudahan antara pemerintah dengan KIA (Kachin Independence Army) menjadikan perusahaan-perusahaan besar berhenti beroperasi di tambang kerikil giok bernama Kota Giok. ‘Kosongnya kekuasaan’ ini dimanfaatkan para pengejar mimpi untuk mengeksploitasi area tersebut. 
Salah satunya ialah Zhao De-chin. Midi Z pun mau tak mau kudu rela menempuh perjalanan jauh menaiki kereta dari Mandalay menuju Kachin demi mengikuti ambisi kakaknya. Terhitung sejak keduanya berada di atas kereta, gosip lebih mendetail dinarasikan oleh si pembuat film terkait bagaimana ia sama sekali kabur soal usaha hidup sang abang di masa-masa menghilangnya dan nelangsanya hari-hari yang harus dijalani oleh Midi Z beserta keluarga sepeninggal Zhao De-chin terlebih situasi politik Myanmar yang tidak aman menyulitkan mereka menerima penghidupan layak. Keingintahuan pada kebenaran yang ditutup rapat-rapat si subjek menjadi fondasi utama ketertarikan mengikuti City of Jade. Well, Zhao De-chin bukannya sepenuhnya enggan untuk buka lisan kala masa kemudian kelamnya diungkit-ungkit, hanya saja pengakuannya bersifat umum ibarat kecanduan Opium hasil dari pemakaian intensif guna menghempaskan stres pekerjaan dan ketiadaan hiburan (begitu pula dengan para penambang lainnya). Dia emoh berbincang perihal hal-hal yang telah menjurus ranah sangat langsung sehingga lambat laun penonton turut digelayuti rasa ingin tau sejenis dengan pertanyaan utama yang disodorkan Midi Z. 
Penggunaan alat rekam seadanya menjadi semacam blessing in disguise bagi City of Jade. Kesannya teramat kasar, memang, tapi relevan dengan subjek maupun topik yang diperbincangkan mengenai kemiskinan, kekacauan politik, obat-obatan terlarang hingga pupusnya harapan. Memberikan kedalaman rasa yang diperlukan oleh film. Tidak berasa palsu – mengonfirmasi bahwa film sepanjang 99 menit ini tidak dibuat dari skrip, dan kesederhanaannya memperkuat sisi realistisnya. Penonton serasa benar-benar dilibatkan ke dalam film; seperti berada di posisi Midi Z atau setidaknya menemaninya dalam perjalanan ini. Ada momen dibuat terhenyak mendengar penuturan dari Zhao De-chin soal masa kemudian berikut pekerjaan yang dilakoninya guna menyambung hidup, terenyuh melihat salah seorang pekerja menelpon istrinya kemudian memperoleh kabar sejumlah uang yang kudu didapat untuk melunasi beberapa tagihan, hingga berdebar-debar begitu kamera menyoroti upaya beberapa pekerja ilegal melarikan diri dari tangkapan prajurit KIA yang secara terpola menjalankan operasi di area penambangan.

Exceeds Expectations (3,5/5)