October 20, 2020

Review : Comic 8: Casino Kings Part 2


Kala melempar Comic 8: Casino Kings ke pasaran, Falcon Pictures mengambil suatu keputusan beresiko. Memecah jilid ini menjadi dua bagian. Tak ingin mencurangi penonton, sedari awal gosip mengenai pembagian ini telah dikabarkan ke khalayak ramai termasuk menyematkan komplemen ‘Part 1’ dan ‘Part 2’ di materi promosi. Akan tetapi bukan mencurangi atau tidak mencurangi yang menjadi pokok permasalahan, melainkan apakah Casino Kings benar-benar butuh untuk dibagi ke dua film berbeda. Faktor bisnis memang tidak bisa dielakkan lagi yaitu pertimbangan utama yang mendasari keputusan Falcon, namun bila film tidak memiliki materi sangat berpengaruh supaya sanggup dipisahkan bukankah justru akan mencederai film itu sendiri (atau katakanlah, franchise) di kemudian hari? Terlebih lagi, perlu dicatat, Casino Kings bukanlah seri pamungkas yang lebih cocok mendapat treatment semacam ini. Keputusan memecah Casino Kings ke dalam dua seri, memang pada kesannya menunjukkan dampak terhadap faktor kesenangan yang tidak pernah benar-benar bisa mencapai level maksimalnya. 

Melanjutkan apa yang tertinggal di penghujung Part 1 – bila kau melewatkannya atau mungkin lupa, tidak perlu risau alasannya ada recap sebelum opening title – kedelapan komika yang terdiri atas Arie Kriting, Babe Cabiita, Bintang Timur, Ernest Prakasa, Fico Fachriza, Ge Pamungkas, Kemal Palevi, dan Mongol Stress, sekarang menghadapi permainan hidup atau mati di hutan belantara melawan persekutuan pasukan pembunuh berjulukan The Hunters. Sementara Ernest dan konco-konconya tersebut berjuang habis-habisan untuk bertahan hidup dari serangan The Hunters, sang atasan, Indro Warkop, pun turut terseret ke permainan rancangan bandar judi kelas kakap, The King (Sophia Latjuba), bersama biro Interpol, Chyntia (Prisia Nasution), dan seorang satpam gres (Ence Bagus) yang ndilalah sedang bersama Indro ketika para pesuruh The King menyergap kediaman Indro. Alih-alih kian merumitkan misi, pemboyongan Indro ke sarang The King tentunya membawa laba tersendiri bagi Indro maupun Chyntia yang memperoleh fasilitas untuk menyelamatkan para biro Comic 8 sekaligus meringkus The King secara langsung. 

Ya, menyerupai halnya Part 1, Comic 8: Casino Kings Part 2 pun kurang bisa menghadirkan kepuasan dari sisi kandungan hiburan. Sama sekali tidak kekurangan bahan, hanya saja seolah ada sesuatu yang hilang tatkala kita menonton dua seri ini. Tanggung. Saat menyimak potongan pertama, asupan humor cukup tinggi dan guliran pengisahan dengan metode penyampaian non-linear memang memunculkan daya tarik tersendiri sehingga ada sebersit cita-cita untuk mengikuti kegilaan menyerupai apa lagi yang akan dihadirkan oleh Anggy Umbara. Namun begitu penonton mulai sedikit banyak ‘menyatu’ ke film, segalanya berakhir yang meninggalkan perasaan ketidakpuasan karena ada ketidaktuntasan. “Lho, udah kelar?” mungkin verbal paling mendekati dalam mendeskripsikan perasaan ketika itu. Perasaan tak puas tersebut, sayangnya kembali menghiasi kala menyaksikan potongan kedua. Tak lagi berurusan dengan pemotongan tiba-tiba atau minimnya sekuens agresi menyerupai dijanjikan di materi promosi, Part 2 bermasalah dengan plot hampa dan banyolan-banyolan yang kuantitasnya mengalami penurunan dibanding jilid sebelumnya. 

Alhasil, Comic 8: Casino Kings Part 2 pun terasa agak kering alasannya penonton hanya menyaksikan baku hantam, ledakan-ledakan, dan sesekali tawa canda, tanpa ada tuturan menggigit yang nyaris kesemuanya telah terjlentrehkan di babak awal. Dengan demikian, Part 2 tidak ubahnya seri pelengkap saja supaya penonton sanggup mengetahui kisah utuh dari misi yang dijalankan para komika. Andai saja Falcon tidak membagi Casino Kings menjadi dua film – mengingat pula sejatinya plot diusung tidaklah kompleks-kompleks amat – maka bisa jadi hasil kesannya akan lebih greget, lebih enak buat dikudap, tanpa ada kesan ‘sesuatu hilang’ ketika menontonnya. Mungkinkah nantinya pihak pembuat film akan mengikuti langkah Maxima yang merilis ‘versi komplit’ dari 99 Cahaya di Langit Eropa tempo hari? Semoga saja. Karena Comic 8: Casino Kings intinya masih memilki amunisi mencukupi dalam memercikkan kesenangan. Bahkan Part 2 yang boleh dikata merupakan seri terlemah diantara seri Comic 8 sejauh ini pun tetap sanggup menghadirkan suka cita melalui parade agresi seru dengan highlight berada pada pertarungan Prisia melawan Hannah Al Rashid (Bella, asisten The King) dan humor-humor menggelitik yang kali ini penghantaran paling baik dipegang oleh Ence Bagus, Candil, Cak Lontong, serta Babe Cabiita. Cukup menyenangkan kok sebagai hiburan pelepas penat! 

Note : Tidak perlu terburu-buru meninggalkan gedung bioskop alasannya ada dua post-credits scene yang sangat layak untuk dinanti ketika closing credit bergulir. Keduanya memberi petunjuk penting bagi jilid berikutnya yang cukup saya nantikan kehadirannya berkat twist pemicu rasa ingin tau di ujung. 

Acceptable (3/5)