July 2, 2020

Review : Crazy Rich Asians


“I’m not leaving because I’m scared or because I think I’m not enough, because maybe for the first time in my life I know I am. I just love Nick so much, I don’t want him to lose his mom again.” 
Setidaknya ada tiga kali saya beruraian air mata selama menonton Crazy Rich Asians. Bukan, bukan disebabkan filmnya yang teramat mendayu-dayu atau merobek hati menyerupai Us and Them (2018) yang baru-baru ini saya tonton (damn that movie!), melainkan karena Crazy Rich Asians ialah sebuah film yang sangat indah. Saya tahu saya telah dibentuk jatuh hati oleh film yang didasarkan pada novel laku berjudul sama rekaan Kevin Kwan ini sedari menit pertamanya yang menggebrak. Memberi kita sedikit banyak citra mengenai karakter-karakter menyerupai apa yang akan kita temui di sepanjang durasi. Rasa cinta yang telah tumbuh semenjak dini ini semakin menguat, dan semakin menguat, seiring mengalunnya durasi. Meski saya mempunyai ‘obsesi’ tersendiri terhadap film bergenre komedi romantis – jangan kaget, saya pun bisa menikmati yang dilabeli jelek – saya sejatinya menaruh sedikit pengharapan terhadap film Hollywood pertama berlatar dunia modern yang menempatkan pemain berdarah Asia sebagai pelakon utama semenjak The Joy Luck Club (1993) ini. Dua faktor pemicunya ialah karya-karya sang sutradara, Jon M. Chu (Step Up 2, Justin Bieber: Never Say Never), acapkali hit-and-miss, dan premis yang diajukannya kurang menggugah selera mengingat intinya ini ialah interpretasi lain dari formula Cinderella story. Ekspektasi dan prasangka bahwa Crazy Rich Asians sebatas jualan mimpi babu secara perlahan tapi niscaya mulai terbungkam tatkala film menguarkan pesona sekaligus jati dirinya yang sesungguhnya. I just can’t help falling in love with this movie! 

Ya bagaimana mungkin kau tidak jatuh hati dengan film ini sementara huruf utamanya sendiri sangat gampang untuk diberikan dukungan? Rachel Chu (Constance Wu) ialah sesosok protagonis yang bisa jadi belum pernah, atau sangat jarang, kau temui di film percintaan. Dia tidak dideskripsikan sebagai wanita lemah tanpa daya yang harapan terbesarnya ialah menikahi seorang prince charming. Tidak. Dia bukan pula seseorang dengan kehidupan personal yang awut-awutan sehingga membutuhkan seorang lelaki untuk menyelamatkannya atau menyadarkannya bahwa ia mempunyai arti. Tidak. Rachel memang tidak digambarkan berasal dari kalangan berduit, tetapi ia ialah wanita berdikari dengan otak cerdas yang sudah mempunyai segala hal. Pekerjaannya sebagai dosen ekonomi berlangsung lancar, relasinya dengan sang ibu baik-baik saja bahkan cenderung hangat, dan korelasi asmaranya dengan sang kekasih, Nick Young (Henry Golding), hanya tinggal menunggu restu dari keluarga Nick. Kesempatannya untuk memperoleh restu sekaligus berkenalan lebih jauh dengan keluarga Nick kesannya tiba tatkala Nick mengajaknya menghadiri pesta komitmen nikah sepupunya di Singapura. Dalam penerbangan lintas benua di kelas utama, Rachel mendapati fakta mengejutkan mengenai latar belakang kekasihnya. Tapi kebenaran sesungguhnya yang lebih mengejutkan gres terungkap seusai Rachel bereuni dengan teman baiknya, Goh Peik Lin (Awkwafina), yang menyatakan bahwa seluruh properti di Singapura berada dibawah kepemilikan keluarga Young. Itu artinya, Nick bukan semata-mata berasal dari keluarga kaya melainkan keluarga kaya tujuh turunan!
  

Kemampuan saya untuk memperlihatkan pemberian terhadap si protagonis utama sedari menit-menit awal inilah yang menciptakan saya mengurungkan niat untuk memutar bola mata selepas mendengar premis klise seputar “kekasihku ternyata kaya raya” yang diusung oleh Crazy Rich Asians. Ya, saya sudah terpikat dengan Rachel semenjak ia memperlihatkan kuliah game theory kemudian berlanjut dengan makan bersama Nick. Kekaguman saya pada huruf ini kian meninggi seusai ia memasuki kehidupan keluarga Young yang serba glamor. Tidak tampak kekikukan atau pernyataan “ini bukan duniaku!” yang biasanya muncul di film sejenis, Rachel malah terlihat begitu percaya diri dan bisa menempatkan diri dengan mudah. Dia tidak mencuri perhatian karena kenorakannya, ia mencuri perhatian semata-mata karena ketidakrelaan kaum borjuis mata duitan untuk mendapati kenyataan bahwa hati Nick telah direnggut oleh seseorang dari kalangan jelata. Menyadari ada kebencian menyerang dirinya dari banyak sekali penjuru termasuk ibu Nick, Eleanor (Michelle Yeoh) yang memandangnya rendah, Rachel tak gentar. Ketimbang memuaskan para pembencinya dengan isak tangis maupun melarikan diri, ia memperlihatkan perlawanan balik secara elegan yang memperlihatkan adanya karakteristik seorang pejuang dalam dirinya – takut atau pengecut terperinci tidak berada di dalam kamusnya – dan ia pun menegaskan bahwa ia mempunyai integritas. Rachel kesannya menentukan untuk mundur teratur tatkala serangan kepadanya telah dianggapnya tidak lagi sehat karena telah menginjak-injak identitasnya sebagai seorang imigran berdarah Tionghoa serta harga diri dari seseorang yang amat dicintainya: sang ibu. Dalam satu adegan Peik Lin berujar, “kamu mempunyai integritas. Itulah kenapa saya menghormatimu.” Saya pun mengangguk-angguk oke karena sebagaimana Peik Lin, saya pun menaruh respek terhadap Rachel. 
Sosok Rachel dimainkan dengan sangat baik oleh Constance Wu (saya juga menyukai aktingnya di sitkom Fresh Off The Boat) yang membentuk chemistry meyakinkan bersama Henry Golding. Keduanya memberi kesan meyakinkan bahwa Rachel-Nick memang tengah dimabuk asmara. Bukan melalui untaian kata-kata romantis melainkan melalui tatapan, gestur, hingga perilaku diantara satu sama lain. Ada perasaan senang menyaksikan mereka bersama sehingga memunculkan keinginan untuk melihat mereka dipersatukan di penghujung durasi. Kita mungkin telah mengetahui kemana muara dari kisah cinta ini, tapi prosesnya yang penuh lika-liku disertai lakonan apik dari jajaran pemain menciptakan perjalanan sederhana ini tetap terasa sangat menyenangkan untuk diikuti. Disamping dua pelakon utama, kunci lain yang membawa Crazy Rich Asians ke kelas lebih tinggi ialah performa para pelakon pendukung. Awkwafina bersama Ken Jeong sebagai ayahnya dan Nico Santos sebagai sepupu Nick kerap mencuri perhatian dengan selorohan mereka yang ngasal nan kocak tapi suka bener, kemudian Gemma Chan sebagai bidadari turun dari kayangan Astrid Leong yang memberi kekuatan pada Rachel untuk bertahan dari serangan para pembenci sekaligus menyediakan subplot mengenai kekuatan perempuan, dan tentu saja Michelle Yeoh sebagai ibunda Nick yang rela melaksanakan apapun untuk kebahagiaan putranya di masa depan. Dengan wibawanya dan air mukanya yang berbicara, Yeoh mencuat di setiap kemunculannya yang menciptakan kita bisa memahami mengapa Eleanor disegani oleh banyak orang. Kita hormat kepadanya, kita takut kepadanya, kita benci kepadanya, tetapi di waktu bersamaan, kita pun mengasihinya. Melalui adegan bermain mahjong yang menciptakan saya bercucuran air mata, saya bisa memahami alasan dibalik kebenciannya terhadap Rachel. Alasannya logis yang justru menciptakan diri ini mengemukakan beberapa teori yang diawali dengan kalimat, “jangan-jangan bekerjsama Eleanor ini…” 

Selain film ini mempunyai barisan huruf menarik dengan lakonan apik, visual sangat bagus (Oh, adegan komitmen nikah di gereja yang disulap menjadi sawah itu warbiyasak bikin hati bergetar!) dan formasi lagu pengiring yang efektif menyokong adegan, faktor lain yang menyebabkan saya terjebak pesona Crazy Rich Asians ialah narasinya yang mengikat. Di permukaan, film ini memang tampak formulaik karena mengaplikasikan template cerita Cinderella pada guliran pengisahannya dan seolah hanya ingin pamer keglamoran pada visualnya. Saya pun tak bisa menyalahkan karena template ini pun masih berfungsi dengan baik asalkan dihukum secara sempurna dan bagaimanapun juga, Crazy Rich Asians diniatkan sebagai produk komersil. Akan tetapi kalau kita berkenan untuk melihatnya lebih dalam, film ini menyimpan subteks bagus mengenai kultur keluarga Tionghoa. Beberapa diantaranya mencakup melestarikan tradisi lewat masakan supaya generasi mendatang tak melupakan akar mereka, seni bermain mahjong yang tak saja menguji kemampuan dalam mengatur seni administrasi tetapi juga berkomunikasi, hingga eratnya korelasi seorang ibu dengan anak-anaknya. Sebuah materi dialog positif yang sangat amat jarang kita jumpai di sinema Hollywood yang kerap kali merepresentasikan ras Mongoloid secara negatif dan berada di posisi terpinggirkan. Subteks ini memungkinkan masyarakat luar khususnya dari peradaban Barat menerima pemahaman mengenai kultur Tionghoa secara spesifik (dan Asia secara umum), serta memungkinkan masyarakat Asia untuk berbangga diri berkat penggambaran yang positif sekaligus merasuk ke dalam guliran pengisahan berkat problematikanya yang familiar tak semata-mata hanya dialami kalangan borjuis. Terdengar berat? Tak perlu risau. 
Keputusan untuk mengawinkannya dengan template cerita Cinderella memungkinkan narasi untuk tetap gampang dikudap sehingga kita pun bisa dibentuk terbahak-bahak mendengar humornya yang tak jarang bermain tumpuan (kata seorang kawan, “semakin Cina dirimu, semakin keras tawamu”), tersenyam-senyum melihat interaksi menggemaskan dua sejoli utama, hingga menyeka air mata haru menyaksikan keindahan satu dua momen yang berkaitan dengan lamaran beserta komitmen nikah dan kehangatan yang dipancarkan melalui narasi mengenai pentingnya keluarga. Sungguh, saya menikmati sekali setiap menit yang digulirkan oleh Crazy Rich Asians sampai-sampai muncul keinginan untuk menontonnya lagi selepas lampu bioskop dinyalakan. Tahun 2018 ini memang cukup ramai dengan film komedi romantis jempolan, tapi sejauh ini, Crazy Rich Asians berada di posisi paling unggul dan saya pun tak keberatan untuk menyebutnya sebagai salah satu film komedi romantis terbaik yang pernah dibuat. Sangat, sangat indah dan menyenangkan. Selepas menontonnya kau akan diingatkan bahwa harta yang tak ternilai harganya bukanlah emas atau setumpuk uang melainkan cinta kasih yang nrimo dan tanpa pamrih dari ibu. Dari keluarga. Selama kau mempunyai itu, maka kau sudah kaya raya. 

Info layanan masyarakat : Ada adegan pemanis di sela-sela end credit. Bertahanlah. 

Outstanding (4,5/5)