October 29, 2020

Review : Critical Eleven


“I’ve burned my bridges. There’s no turning back. There’s only going forward, with you.” 

Apabila kau rajin berselancar di dunia maya, komentar yang-kini-telah-amat-sangat-menjemukan untuk didengar, “Reza Rahadian lagi, Reza Rahadian lagi,” rasa-rasanya kerap dijumpai. Entah kau menggemari Reza Rahadian atau justru tergabung dengan para netizen yang memandangnya sinis, sulit untuk menampik bahwa pemain film penggenggam empat Piala Citra dari kategori akting ini merupakan salah satu pelakon terbaik yang dimiliki oleh perfilman Indonesia. Dia senantiasa memberi effort lebih untuk peran-peran yang dimainkannya sekalipun sebatas tugas kecil atau malah sekadar numpang lewat. Energi positif yang dibawa Reza pun umumnya turut menular ke film maupun lawan mainnya sehingga tidak mengherankan namanya menjadi komoditi panas di kalangan para produser. Tiga lawan main yang ‘naik kelas’ seusai dipasangkan dengannya antara lain Bunga Citra Lestari, Acha Septriasa, serta Adinia Wirasti. Bersama nama terakhir, Reza telah tiga kali tandem. Uji coba pertama di film omnibus Jakarta Maghrib (segmen “Jalan Pintas”) dilalui dengan mulus yang membawa keduanya dipertemukan sekali lagi di Kapan Kawin?. Chemistry besar lengan berkuasa nan memancar diantara duo Reza-Adinia dalam film komedi romantis tersebut menciptakan mereka lantas dipercaya untuk menghidupkan abjad berjulukan Ale dan Anya dalam gelaran romansa cendekia balig cukup akal yang diekranisasi dari novel metropop laku manis rekaan Ika Natassa, Critical Eleven. Sebuah tugas yang kian menguatkan pernyataan bahwa Reza dan Adinia ialah dua pelakon jempolan di tanah air dikala ini.  

Istilah Critical Eleven berasal dari dunia penerbangan yang mempunyai makna 11 menit paling menentukan keselamatan penumpang yang terbagi pada 3 menit selepas take off dan 8 menit jelang landing. Istilah ini dialegorikan oleh film produksi kerja sama Starvision dan Legacy Pictures ke pertemuan dua insan manusia, Anya (Adinia Wirasti) dan Ale (Reza Rahadian). Terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing; Anya ialah seorang konsultan administrasi yang pekerjaannya menuntut ia kerap bepergian, sementara Ale ialah operation engineer di perusahaan kilang minyak, menciptakan keduanya tidak mempunyai waktu untuk memikirkan urusan asmara. Tapi yang namanya jodoh, hanya Tuhan yang tahu. Takdir mempertemukan Anya dengan Ale dalam penerbangan menuju Sydney. Tiga menit pertama memberi kesan manis bagi keduanya, dan delapan menit terakhir menggugah mereka untuk membawa pertemuan singkat ini ke korelasi lebih serius. Selepas kembali ke Indonesia, Anya dan Ale meresmikan korelasi mereka dalam ikatan pernikahan. Pasangan muda ini lantas tetapkan hijrah ke New York demi mengikuti pekerjaan Ale. Selayaknya kebanyakan pengantin gres di bulan-bulan pertama pernikahan, Anya dan Ale pun dilingkupi kebahagiaan meluap seakan-akan dunia hanya milik berdua. Namun sejalan dengan berlalunya waktu, terlebih sehabis Ale kembali ke kilang minyak dan Anya dinyatakan berbadan dua, percikan-percikan konflik mulai mengemuka yang perlahan tapi niscaya kian mengganas dan pada kesudahannya mengancam keutuhan rumah tangga mereka. 

Dalam menggelar kisah kasih Ale dan Anya, dua sutradara Monty Tiwa beserta Robert Ronny membaginya menjadi tiga babak yang masing-masing merepresentasikan tema utama dari Critical Eleven; cinta, duka, dan penerimaan. Melalui ‘cinta’ yang mengisi sepertiga awal durasi, si pembuat film mengajak penonton berkenalan dengan tokoh-tokoh krusial seraya mengetengahkan penceritaan pada bermekarannya bunga-bunga asmara dua abjad utama yang sebelumnya terus menguncup. Mengingat fokusnya, fase ini pun didominasi oleh rasa manis seiring tingginya intensitas kebersamaan antara Ale dengan Anya. Inilah tahapan dimana kesepakatan nikah masih manis-manisnya. Fase ini penting biar penonton sanggup mengenal, kemudian membentuk ikatan, dan kemudian bersorak pada dua protagonis utama alasannya ialah salah satu kunci kesuksesan dari suatu film romansa ialah seberapa jauh penonton menginvestasikan emosinya terhadap usaha para protagonis untuk memenangkan cinta. Beruntung bagi Critical Eleven, disamping mempunyai bangunan abjad memikat; Anya mewakili wanita sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan Ale ialah citra laki-laki pekerja keras yang romantis, ada pula chemistry intim dari dua pelakon utama yang menguarkan kesan besar lengan berkuasa keduanya ialah suami istri betulan sehingga gampang bagi penonton untuk terjerat baik kepada Anya maupun Ale. Seperti tengah mendengar dongeng percintaan dari sobat atau tetangga yang kita idolakan. Munculnya ketertarikan guna mengetahui kelanjutan kisah kasih Anya dengan Ale ini menunjukan bahwa Critical Eleven telah lepas landas secara mulus.

Nada penceritaan film yang mula-mula cerah ceria ini pelan-pelan bertransformasi menjadi kelabu begitu memasuki fase ‘duka’. Seperti halnya perjalanan udara yang sewaktu-waktu menjumpai turbulensi, kehidupan kesepakatan nikah pun tak akan terbebas dari guncangan. Seberapa besar impak yang diberikannya – sanggup terus melaju atau justru terjun bebas – bergantung kepada penanganan dua pilot rumah tangga. Anya dan Ale dihadapkan pada bencana besar di usia kesepakatan nikah yang terbilang masih dini. Tentu saja, keduanya mengalami keterkejutan amat besar. Yang lantas amat disayangkan, keduanya menentukan menyikapi murung tersebut dengan caranya masing-masing alih-alih saling menguatkan yang justru merenggangkan korelasi mereka. Dari sinilah, momen-momen emosional dalam Critical Eleven mulai menguat. Adegan di rumah sakit yang memperlihatkan Anya merajuk minta pulang di pelukan Ale, dan adegan kelanjutannya yang sebaiknya tidak diungkapkan dalam ulasan ini, sungguh merobek hati. Bisa dikatakan, ini ialah salah satu momen paling emosional yang pernah ada di film Indonesia. Kedekatan dengan abjad yang telah kita bentuk di fase sebelumnya, memperlihatkan hasilnya di fase ini. Kita menaruh tenggang rasa terhadap problematika yang mendadak menyergap kehidupan kesepakatan nikah pasutri ini. Berharap-harap cemas – terlebih jikalau kau belum pernah membaca materi sumbernya – mengenai apa yang selanjutnya memasuki kehidupan mereka. Satu tanya mengemuka, akankah kebahagiaan menyerupai di awal mula sanggup kembali dirasakan oleh Anya dan Ale? 

Tanya ini bukannya tanpa alasan. Penonton sanggup mencicipi perubahan atmosfer dalam chemistry Adinia Wirasti dengan Reza Rahadian sejak konflik besar memasuki arena penceritaan. Kehangatan telah tiada, tergantikan oleh rasa dingin. Mereka sanggup ciptakan kecanggungan mengusik ketenangan ketika Anya dan Ale berada di satu ruangan, menyerupai dikala mereka makan malam bersama. So close yet so far. Pertanda api asmara di kehidupan kesepakatan nikah mereka telah meredup dengan sangat cepat. Emosi penonton terus dihajar habis-habisan hingga kemudian Critical Eleven memasuki tahapan ‘penerimaan’ yang dibutuhkan bisa memperlihatkan solusi memuaskan terhadap dinginnya korelasi Anya dengan Ale. Monty dan Robert turut menghembuskan kehangatan di titik ini kala kedua orang renta Ale yang dimainkan secara mengesankan oleh Slamet Rahardjo dan Widyawati kesudahannya menentukan untuk turun tangan. Fase ini mempersilahkan penonton cendekia balig cukup akal untuk berkontemplasi mengenai makna dari suatu korelasi sekaligus mempersembahkan satu momen emas ketika ibu Ale berbincang empat mata bersama Anya. Apabila kau pernah mencicipi kehilangan dan mencicipi telah menemukan keluarga gres yang menerimamu dengan tangan terbuka, dialog yang melibatkan dua aktris terbaik berbeda generasi ini akan menciptakan hatimu berdesir kemudian tanpa tersadar meneteskan air mata. Ya, bahkan hingga jelang pendaratan, Critical Eleven masih berhasil menyentuh hati-hati yang sensitif. Inilah sebuah balada ihwal cinta, duka, serta penerimaan yang dikemas manis, hangat, sekaligus emosional dengan pertolongan performa sangat apik dari dua pelakon utamanya. Ciamik!

Outstanding (4/5)