July 2, 2020

Review : Danur 2: Maddah


“Apa yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.” 

Pada kuartal pertama tahun lalu, Danur yang diubahsuaikan dari buku bertajuk sama rekaan Risa Sarasvati dilepas ke jaringan-jaringan bioskop tanah air. Guliran kisah yang didasarkan pada pengalaman konkret Risa kala bersentuhan dengan dunia mistik tersebut, nyatanya berhasil mengumpulkan 2,7 juta penonton sekaligus membangkitkan kembali tren film horror di perfilman Indonesia. Tidak mengherankan bergotong-royong mengingat bahan sumbernya laku manis di pasaran, pelakon utamanya ialah Prilly Latuconsina yang telah membentuk basis penggemar cukup besar, dan film instruksi Awi Suryadi ini sendiri tergolong mempunyai teknis penggarapan cukup baik. Satu hal yang lantas membuat saya terganggu sehingga Danur tidak pernah benar-benar meninggalkan kesan mendalam ialah trik menakut-nakutinya yang kelewat receh. Penggunaan skoring musik dan kemunculan si hantu terasa serampangan yang justru bikin sebal alih-alih ketakutan. Pokoknya penonton kaget, maka sudah selesai kasus (duh!). Gagal memperoleh pengalaman menonton sesuai pengharapan inilah yang lantas membuat saya kurang bersemangat untuk menonton jilid keduanya yang bertajuk Danur 2: Maddah. Namun rasa ingin tau yang telah meredup itu perlahan mulai bangun usai menengok bahan promosinya (baca: trailer) yang tampak menjanjikan sampai-sampai satu pertanyaan pun terbentuk: apa mungkin si pembuat film telah berguru dari kesalahan sehingga sekuelnya ini bisa tersaji lebih baik? 

Dalam Danur 2: Maddah, teror yang dialami oleh Risa (Prilly Latuconsina) tidak lagi berlangsung di rumah sang nenek yang sekarang dikisahkan telah berpulang ke Yang Maha Satu. Kali ini, Risa mencium amis danur tatkala bertandang ke rumah Tante Tina (Sophia Latjuba) dan Om Ahmad (Bucek) yang dikisahkan gres saja pindah ke Bandung. Semenjak kedua orang tuanya dinas ke luar negeri, Risa beserta adiknya, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki), memang kerap mampir ke rumah kerabat mereka ini demi membunuh sepi. Yaaa, sekalian hitung-hitung menjaga tali silaturahmi. Namun ketenangan Risa mulai terusik tatkala sepupunya, Angki (Shawn Adrian), menaruh kecurigaan ada sesuatu yang tidak beres di rumah mereka apalagi ayahnya mulai bertingkah tidak masuk akal termasuk menanam bunga sedap malam di pekarangan rumah. Risa bisa mencicipi itu, tapi anehnya, ia tidak bisa melihat apapun. Justru ia melihat Om Ahmad pergi berduaan bersama wanita lain. Siapa dia? Apa ia ada keterkaitannya dengan semua keganjilan yang terjadi di rumah? Benarkah Om Ahmad selingkuh? Demi mengetahui kebenaran di baliknya, Risa pun mulai mengorek gosip mengenai si wanita misterius ini. Akan tetapi upayanya untuk mendapat gosip senantiasa mengalami kendala alasannya ialah sebuah kekuatan jahat yang entah darimana asalnya tiba-tiba memancar berpengaruh di rumah kerabatnya ini dan tidak segan-segan melukai para penghuni rumah.

Menjawab pertanyaan yang tertinggal di penghujung paragraf pertama, saya bisa menyampaikan bahwa Danur 2: Maddah ialah sebuah sekuel yang baik. Tidak ada tipu-tipu dalam bahan promosinya. Dibandingkan dengan instalmen pertama yang terbilang berisik namun hampa, seri kedua ini mempunyai daya cekam yang lebih kuat. Kentara terlihat, si pembuat film telah mempelajari kesalahan-kesalahan apa saja yang telah mereka perbuat dari film terdahulu dan berusaha untuk memperbaikinya di sini. Ucapkan selamat tinggal kepada iringan musik yang memekakkan indera pendengaran serta hantu bencong tampil yang tiap beberapa detik sekali memberi ‘cilukba’ kepada penonton. Sekali ini, Awi Suryadi menyampaikan sensitivitasnya dalam menangani film horor dengan lebih bersabar dalam membangun teror setapak demi setapak (bukan lagi asal ‘jrengggg!’ tanpa relevansi yang jelas) dan banyak mengandalkan atmosfer yang mengusik rasa nyaman. Pilihan ini mungkin akan terasa asing bagi penonton yang doyan dikageti dengan bejibun penampakan sekalipun tanpa makna, namun pilihan ini harus diakui sempurna alasannya ialah sejumlah jump scare di Danur 2: Maddah justru terasa cukup efektif. Memang sih tak sepenuhnya mulus – ada beberapa yang kemunculannya kurang dibutuhkan kecuali semata-mata demi membuat penonton terlonjak dari dingklik bioskop – tapi paling tidak, terornya tak hingga kelewat repetitif dan berakhir menggelikan menyerupai film pertama yang seketika meruntuhkan rasa takut. 

Danur 2: Maddah juga mempunyai satu dua adegan yang menggoreskan kesan baik seusai menontonnya di layar lebar. Salah satu paling membekas ialah sesosok hantu wanita yang bersuka cita mengikuti lantunan dzikir Tante Tina. Ngeri nggak sih bayangin kita lagi berdzikir kemudian di depan kita ternyata ada makhluk halus yang bergoyang-goyang mendengar dzikir kita? Kalau bagi saya sih, creepy as hell! Kemampuan Awi dalam membuat rasa ngeri ini mendapat sokongan manis dari sinematografi yang menguarkan nuansa “ada sesuatu tak beres di sekitarmu”, rias wajah yang membuat kita enggan berlama-lama menatap wajah si hantu, dan performa ciamik dari Prilly Latuconsina yang kian menegaskan bahwa ia ialah salah satu aktris muda berbakat ketika ini. Di tangannya, kita bisa mencicipi kegundahan hati Risa kemudian menyematkan setitik simpati kepada karakternya. Yang kemudian menghalangi Prilly untuk berkembang lebih jauh dan menghalangi pula kengerian untuk mencapai level maksimal ialah naskah yang sungguh tipis. Karakterisasi untuk Risa, Riri, Tante Tina, Om Ahmad, Angki, apalagi hantu-hantu sobat Risa (masih dibentuk bertanya-tanya dengan bantuan mereka pada penceritaan), berjalan di daerah dan cenderung ‘satu nada’. Kita tidak pernah benar-benar mengenal mereka maupun membentuk ikatan emosi dengan mereka. Maka ketika satu dua abjad tertimpa bencana, rasa was-was urung hadir yang sedikit banyak menurunkan intensitas. Andai saja Danur 2: Maddah ini berkenan memperhatikan sisi naskah lebih mendalam lagi – tak sebatas trik menakut-nakuti sekalipun ini perlu juga – bukan mustahil film akan tersaji lebih mencengkram dan mencekam alasannya ialah potensinya sendiri terpampang nyata.



Acceptable (3/5)