October 19, 2020

Review : Danur 3: Sunyaruri


“Mungkin pertemanan kami semenjak awal memang hanya sebuah celaka.”

Didasarkan pada rangkaian novel laku rekaan Risa Saraswati yang konon kabarnya merupakan novelisasi dari pengalaman konkret si penulis indigo ketika bersinggungan dengan alam seberang, Danur bermetamorfosis salah satu franchise tontonan horor paling menguntungkan dalam sejarah sinema tanah air. Dimulai dari jilid pertama yang berhasil membukukan 2,7 juta penonton, MD Pictures bersama Pichouse Films selaku rumah produksi kembali merasakan kesuksesan melalui sekuelnya bertajuk Danur 2: Maddah (2018) yang mencetak 2,5 juta penonton serta film sempalannya, Asih (2018), yang masih sanggup menorehkan angka sebesar 1,7 juta penonton sekalipun tanpa sokongan si huruf inti yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Menilik pencapaian di tangga box office yang tergolong impresif dari seri ke seri, tentu tak mengherankan jikalau pihak rumah produksi lantas memberi lampu hijau secara seketika bagi penggarapan jilid ketiga yang tercatat sebagai babak pamungkas bagi seri induk dalam versi novelnya. Selepas mengulik pergulatan batin Risa kala mendapati dirinya bisa berkomunikasi dengan makhluk halus di film pembuka, kemudian membahas soal upaya si protagonis dalam memperoleh penerimaan dari anggota keluarganya yang merasa terganggu di film kedua, saya yang tidak pernah mengikuti bahan sumbernya pun bertanya-tanya. Apa yang akan diulas oleh Danur 3: Sunyaruri yang dipersiapkan menjadi seri epilog ini? Tak jauh berbeda dari sang predesesor, ternyata duduk kasus yang diajukan kali ini masih berkisar pada relasi serba rumit yang terjalin diantara Risa dengan kawan-kawan gaibnya.

Yang menciptakan hati Risa (Prilly Latuconsina) mengalami kegalauan dalam Danur 3: Sunyaruri adalah keinginannya untuk menjalani kehidupan yang normal. Berkawan bersahabat dengan manusia-manusia yang usianya sebaya, alih-alih sekumpulan bocah keturunan Belanda dari dimensi lain. Melalui babak perkenalan serta voice over yang dihantarkan oleh si protagonis, penonton diberi klarifikasi mengenai relasi antara Risa dengan teman-teman hantunya yang terdiri dari Peter, Janshen, William, Hendrick, dan Hans, yang tidak lagi hangat. Ketimbang mendapatkan permintaan kelima hantu ini untuk bermain bersama, Risa lebih menentukan untuk berkumpul bersama kekasihnya, Dimas (Rizky Nazar), yang berprofesi sebagai penyiar radio beserta rekan-rekan kerjanya menyerupai Clara (Steffi Zamora), Raina (Syifa Hadju), Anton (Umay Shahab), dan Erick (Chicco Kurniawan). Tidak ingin Risa semakin menjauh, Peter cs pun terus berupaya mendekati sahabat manusianya ini yang justru menunjukkan efek sebaliknya. Risa memutuskan untuk menutup mata batinnya karena enggan diusik oleh bocah-bocah hantu tersebut. Mengira duduk kasus akan selesai begitu saja, nyatanya Risa malah mendapati kecacatan demi kecacatan selepas tak lagi bisa melihat hantu. Matanya mengalami kebengkakan parah tanpa diketahui penyebabnya, beberapa halaman dalam naskah bukunya mendadak raib, dan hujan terus mengguyur rumahnya tanpa henti. Pada mulanya, Risa tidak menganggap tiga hal ini sebagai masalah genting hingga kemudian ia menyadari bahwa dirinya masih bisa mencium bacin danur (baca: bacin bau dari mayat) di sekelilingnya sekalipun gerbang komunikasi dengan alam lain telah ditutup.


Menengok pada bahan pengisahan yang diajukan, Danur 3: Sunyaruri sejatinya mempunyai potensi besar untuk tersaji sebagai gelaran horor yang menggigit. Pada menit-menit awal, Awi Suryadi yang masih nyaman menduduki dingklik penyutradaraan seolah mengisyaratkan bahwa babak pamungkas ini akan mengoyak-ngoyak emosi penonton. Hubungan Risa dengan Peter cs diperlihatkan merenggang, Peter cs pun seolah dirundung sepi sekaligus luka karena merasa diabaikan. Ditunjang oleh permainan kamera dan tata artistik yang menunjukkan atmosfer creepy, Danur 3: Sunyaruri memang memulai langkahnya secara meyakinkan. Tak ada lagi iringan musik memekakkan telinga, tak ada lagi memedi yang menampakkan diri secara sesuka hati, dan Awi pun seolah berusaha untuk memaparkan kisah dengan hati-hati di sini. Penonton diajak melihat Risa berproses dari semula enggan bersentuhan dengan dunia gaib, kemudian merasakan kelegaan untuk sesaat, hingga kesannya menyadari bahwa ‘kehidupan normal’ bukanlah untuk dirinya. Dia merasa sunyi tanpa kehadiran dari Peter, Janshen, William, Hendrick, dan Hans yang alasannya ialah suatu hal namanya harus selalu disebut lengkap secara berurutan di film… berulang kali. Penampilan prima dari Prilly Latuconsina – dimana kali ini ia tampil sedikit berbeda dengan riasan mata nanah – memungkinkan bagi kita untuk bersimpati sekaligus sebal kepada sang huruf utama. Bersimpati alasannya ialah kita mengetahui ada beban tersendiri dalam menjalani kehidupan sebagai seorang indigo, sementara sebal alasannya ialah kita melihat ia telah menempuh cara yang salah untuk mengenyahkan Peter beserta kawanannya. Terlampau kasar.

Berkaca pada komposisi serba baik yang diusungnya, saya sempat optimis Danur 3: Sunyaruri akan menjadi seri terbaik sekaligus epilog yang memuaskan bagi franchise. Tapi sesudah film berjalan selama kurang lebih 30 menit, satu demi satu duduk kasus mengemuka yang dimulai dari: plot berjalan di tempat. Kondisi hujan deras tak berkesudahan dan mata nanah mengakibatkan Risa sulit untuk bepergian sehingga latar penceritaan pun urung berekspansi. Ini sesungguhnya bukan suatu problematika apabila si pembuat film sanggup mengakalinya dengan teror kreatif maupun narasi berisi. Dalam masalah Danur 3: Sunyaruri, penonton nyaris tak mendapati apapun kecuali adegan Risa berkeliling rumah, kemudian diserang hantu, membuka laptop, kemudian diserang hantu, yang terkesan repetitif. Memang ada satu momen cukup mencekam di pertengahan durasi yang melibatkan ember – ini dan adegan di panggung pada awal durasi ialah momen terbaik dalam film – tapi adegan tersebut sayangnya tak dimanfaatkan untuk menghantarkan film ke situasi lebih intens. Apa yang dijumpai oleh penonton selanjutnya ialah Risa yang masih saja berputar-putar di rumah tanpa ada kejadian berarti sehingga kau tidak akan ketinggalan apapun apabila memutuskan untuk rehat sejenak ke toilet. Laju pengisahan yang berlangsung cenderung datar-datar saja bahkan ada kalanya membosankan alasannya ialah tak juga dibarengi trik menakut-nakuti mumpuni ini tentu menciptakan saya gemas bukan kepalang mengingat Awi beserta Lele Laila selaku penulis skenario sesungguhnya mempunyai modal mencukupi untuk menunjukkan detak lebih kencang pada film.


Barisan huruf pendukung yang meliputi Clara, Raina, Anton, dan Erick dibiarkan begitu saja, sementara Dimas dan adik Risa, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki), pun tak diberi banyak kesempatan untuk berkontribusi. Berhubung film hendak bercerita mengenai upaya Risa untuk menjalin pertemanan dengan insan sebaya, maka terasa sangat janggal dikala film membatasi interaksi antara Risa dengan karakter-karakter lain. Kita hanya pernah melihatnya melaksanakan video call dengan Dimas, sedangkan bersama empat huruf lain, mereka sebatas dipertemukan di satu pesta ulang tahun. Lantas dimana letak upayanya? Apa fungsi keberadaan mereka selain demi meriuhkan suasana untuk sesaat? Saya justru melihat, Risa sangat menikmati kesendiriannya. Dia tak tampak peduli dengan Riri, ia juga tak menaruh minat pada Peter cs. Maksud saya, persahabatan antara si protagonis dengan kawan-kawan hantunya ini pun tak pernah dieksplorasi mendalam kecuali melalui satu dua kilas balik dan voice over. Itulah mengapa dikala Danur 3: Sunyaruri mengedepankan suatu momen emosional, saya tak merasakan apapun. Karena saya tak pernah merasakan adanya relasi pertemanan yang lapang dada diantara mereka. Disamping itu, kehadiran momen ini dilangsungkan sempurna sesudah sebuah twist sangat menggelikan yang menciptakan saya lagi-lagi berujar, “hamba lelah dengan semua ini.” Tanpa ada aba-aba, tanpa diberi petunjuk memadai (hanya melalui satu adegan berkenaan dengan toilet, duh!), sebuah adegan bersifat “pengungkapan misteri” muncul. Ketimbang memedulikan motif sang villain yang amburadulnya melebihi kamar saya, saya justru lebih ingin tau dengan motif si pembuat film dalam menghadirkan adegan yang sungguh mengganggu ini. Mengapa harus ada? Whyyy???

Acceptable (2,5/5)