October 23, 2020

Review : Danur


“Namaku Risa. Dan saya dapat melihat apa yang kalian sebut… hantu.” 

Setidaknya ada tiga alasan utama disodorkan oleh Danur produksi Pichouse Films (anak dari MD Pictures) yang cukup ampuh untuk menggelitik kepenasaran khalayak ramai biar menyimaknya di layar lebar. Pertama, topik obrolannya didasarkan pada buku terkenal bertajuk Gerbang Dialog Danur yang konon kabarnya berbasis pengalaman kasatmata dari seorang musisi indigo berjulukan Risa Saraswati. Kedua, pelakon utamanya yakni aktris muda dengan basis penggemar terhitung masif, Prilly Latuconsina, yang secara kualitas akting pun terhitung mumpuni ibarat ditunjukkannya melalui Surat Untukmu dan Hangout, beserta Shareefa Daanish yang disinyalir bakal menjadi Ratu Horror sejak Rumah Dara. Dan ketiga, promosi yang dikreasi MD Pictures terbilang gencar sekaligus jitu karena memanfaatkan unsur mistis yang amat dipercayai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dengan ketiga alasan tersebut – ditambah adanya keterlibatan Awi Suryadi (Badoet, Street Society) di dingklik penyutradaraan – Danur terang menguarkan aura menjanjikan di permukaan sehingga tidak mengherankan apabila ekspektasi membumbung. Pertanyaannya, apakah Danur mampu memenuhi segala potensi yang dipunyainya? 

Danur memperkenalkan penonton kepada gadis cilik berusia 8 tahun berjulukan Risa (Asha Kenyeri Bermudez). Mengingat kedua orang tuanya sibuk bekerja, Risa kerap dititipkan di rumah sang nenek utamanya kala libur sekolah. Risa yang kesepian karena tidak mempunyai sobat sebaya untuk diajak bermain, melontarkan pengharapan di hari ulang tahunnya. Hanya membutuhkan waktu sekejap saja bagi Risa untuk menantikan pengharapannya terwujud. Tiga bocah berdarah Belanda; Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew), dan Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh), seketika tiba menemani Risa bermain hari demi hari. Sang ibu, Elly (Kinaryosih), melihat adanya kejanggalan dalam diri putrinya terlebih ia tidak pernah dapat melihat secara eksklusif wujud teman-teman gres Risa. Meminta sumbangan kepada orang pintar, terungkap fakta bahwa Peter dan kedua saudaranya merupakan makhluk halus. Tidak ingin putrinya celaka, Elly pun membawa Risa pergi hingga kemudian Risa (Prilly Latuconsina) kembali menjejakkan kaki di rumah sang nenek usai beberapa tahun berselang bersama adiknya, Riri (Sandrinna Michelle Skornicki), demi merawat sang nenek. Serentetan kejadian janggal pun sekali lagi menyambut Risa terutama sesudah mereka kedatangan perawat misterius, Asih (Shareefa Daanish), yang kentara menyimpan kegiatan terselubung dibalik kedatangannya.

Harus diakui, langkah Danur dimulai secara meyakinkan. Daya sentaknya di menit-menit awal acapkali bersumber pada bangunan atmosfirnya yang cukup efektif dalam menjadikan kegelisahan di dingklik penonton. Beberapa momen yang sempat membuat jantung ini berdebar-debar antara lain dikala Risa bermain piano untuk memanggil kawan-kawan hantunya, kamera mencermati sudut-sudut rumah gedongan sunyi senyapnya sang nenek yang dilengkapi dengan pernak pernik dari zaman Belanda, serta kemunculan pertama Asih yang gemar sekali menawarkan tatapan mengerikan kepada Risa. Memperoleh sambutan yang cukup menggelisahkan semacam ini, hati terang berbahagia karena sedikit banyak memperlihatkan bahwa film telah berada di jalur yang semestinya. Melayangkan ingatan pada film horor terdahulu Awi, Badoet, yang juga banyak memanfaatkan atmosfir untuk membangkitkan bulu roma. Begitu keyakinan telah terkumpul – dan Danur sudah memperoleh dogma dari penonton – film justru perlahan tapi niscaya terus mengendur intensitasnya seiring berjalannya durasi. Rasa takut yang tadinya telah mendekat, malah mendadak berbalik arah dan kian menjauh hingga kesudahannya tidak lagi tampak di paruh akhir. Dalam catatan saya, kesalahan terbesar dari Danur yakni keputusannya untuk mengeksploitasi penampakan habis-habisan yang seketika menyulap Danur tak ubahnya film horor generik. 

Alih-alih menaruh perhatian pada perkembangan huruf demi terbentuknya ikatan antara penonton dengan Risa maupun penonton dengan Peter, film lebih banyak menghabiskan waktunya untuk sekadar memikirkan trik menakut-nakuti penonton. Akibatnya, greget dalam alunan dongeng pun tiada dapat dideteksi karena kita tidak pernah sekalipun terhubung kemudian menaruh kepedulian kepada barisan karakternya. Sementara teror yang digeber nyaris saban menit, mula-mula sih berhasil saja karena Danur juga mempunyai Shareefa Daanish yang dapat dikata hero dalam urusan membuat lisan yang bikin bergidik ngeri. Namun ibarat halnya menyantap makanan dalam porsi berlebih, lama-lama kejenuhan tidak lagi terhindarkan sekalipun cita rasanya amat lezat. Terhitung sedari makin gemarnya Asih mejeng dengan banyak sekali pose di banyak sekali lokasi, film telah kehabisan tenaganya dan membuatnya cukup sulit untuk benar-benar dapat dinikmati. Kalaupun dapat dinikmati, itu disebabkan adanya serentetan unintentional comedy. Terornya berujung menggelikan yang mengundang derai tawa ketimbang menyeramkan yang mengundang pekik ngeri. Dengan naskah dan pengarahan yang begitu lemah, jajaran pemain yang sejatinya telah bermain baik ibarat Prilly Latuconsina maupun Shareefa Daanish urung menghadirkan atraksi akting yang maksimal. Tanpa adanya satupun sokongan kuat, potensi besar yang dipunyai Danur pun berakhir sia-sia belaka. Sungguh sangat disayangkan.

Note : Danur mempunyai adegan aksesori di sela-sela bergulirnya credit title. Jangan keburu-buru beranjak!

Acceptable (2.5/5)