October 20, 2020

Review : Deadpool


You’re probably thinking “This is a superhero movie, but that guy in the suit just turned that other guy into a fucking kebab.” Surprise, this is a different kind of superhero story.” 


Deadpool yaitu harapan. Setidaknya, begitulah maknanya bagi Ryan Reynolds yang karir keaktorannya terombang ambing paska memerankan superhero berkostum animasi dengan warna hijau, Green Lantern, dan bagi 20th Century Fox yang gres saja dicerca habis-habisan oleh, well, hampir seluruh penduduk dunia berkat luar biasa amburadulnya Fantastic Four. Terdapat potensi besar pada superhero bermulut kurang bimbing ini untuk dikembangkan menjadi suatu franchise, kemudian dikawinkan dengan Marvel Universe kepunyaan Fox (oh ya, bukan Marvel Cinematic Universe tentu saja, melainkan X-Men Universe). Terdengar sedikit terlalu ambisius memang jikalau menengok jejak rekam siapa-siapa di balik proyek ini, namun impian itu akan dengan sendirinya muncul usai menyaksikan kegilaan semacam apa yang sanggup ditawarkan oleh Deadpool. Ya, menyasar pasar penonton dewasa, Deadpool memang tanpa tedeng aling-aling mengobral sederet kebrutalan dan kesintingan namun tetap banyak menyimpan gelak tawa plus sisi manis yang mungkin sebelumnya tidak pernah kau bayangkan sanggup muncul dari sebuah film superhero dengan materi dasar komik Marvel. 

Tidak membutuhkan waktu usang bagi Deadpool untuk membetot perhatian penonton sebab kenakalannya telah tampak pada opening credit yang nyeleneh (alih-alih menginformasikan nama-nama jajaran pemain dan kru, Deadpool justru memberi semacam archetypes pada posisi tertentu, menyerupai ‘studio owned tool’ untuk sutradara). Bahkan sehabis ketaknormalan ini, kita eksklusif disambut kegilaan lain ketika Deadpool (Ryan Reynolds) yang semula memberi saran sesat kepada seorang supir taksi eksklusif terjun ke jalan bebas kendala dan secara membabi buta menghabisi sekelompok pelaku tindak kriminal – atau ya, mungkin itu awalnya kita kira. Tim Miller menghindari metode konvensional dalam bertutur dengan tidak terlebih dahulu mengungkap asal muasal si aksara utama maupun sederet aksara yang dihadapinya pada permulaan film. Seketika, apa yang kita simak di layar yaitu seorang laki-laki berkostum ala ninja dengan dominasi warna merah dan hitam yang sungguh banyak omong mendadak membuat kekacauan besar. Kekacauan pemberi kesenangan karena penonton disuguhi pemandangan baku tembak, baku hantam, ledakan-ledakan hingga penggal memenggal berdaya humor plus berintensitas cukup tinggi. 

Begitu Deadpool berhadapan eksklusif dengan aksara yang dicarinya, Francis (Ed Skrein), alur dongeng lantas ditarik ke belakang dan mempersilahkan penonton mengenal lebih dalam aksara superhero yang lebih sempurna disebut antihero ini. Sosok di belakang topeng dan kostum ketat Deadpool yaitu Wade Wilson, seorang tentara bayaran yang menjalani hari-harinya di New York City dengan mencoba melindungi gadis-gadis remaja dari para penguntit. Kehidupannya yang seolah tanpa arah dan buram perlahan tapi pasti mulai berwarna ketika Wade berjumpa dengan Vanessa (Morena Baccarin). Kehidupan percintaan mereka baik-baik saja, sekalipun Wade tak pernah benar-benar mengungkapkan isi hatinya, hingga Wade didiagnosa mengidap kanker. Memperoleh proposal menggiurkan dari seorang laki-laki misterius yang menyampaikan penyakit mematikan tersebut sanggup diobati, Wade pun pergi tanpa pamit meninggalkan Vanessa. Wade yang berharap banyak sanggup kembali ke pelukan Vanessa dalam keadaan sehat justru berakhir sebagai korban dari percobaan ilmiah yang dilakukan oleh Francis hingga nyaris terbunuh. Akan tetapi, what doesn’t kill makes you stronger, dan persis menyerupai itulah yang terjadi pada Wade. Menjadi sosok yang sulit dilukai, Wade pun bermetamorfosis sebagai Deadpool guna menuntut balas ke Francis dan kroni-kroninya yang dianggapnya bertanggung jawab atas kehancuran hidupnya. 

Tentara bayaran? Kanker? Kekasih yang ditinggalkan? Balas dendam? Terdengar menyerupai materi dongeng yang hanya sanggup disampaikan dengan mimik muka serius tanpa ada sunggingan senyum sedikitpun. Terlebih lagi, superhero movie? Tapi hey, kau sudah melewati dua paragraf yang sedikit banyak mendeskripsikan nada film sebelum mengetahui inti dongeng dari Deadpool sehingga tentu saja antisipasi terhadap film ini tidak sedikitpun melibatkan kata kelam. Miller pun lebih menentukan untuk bersuka cita ketimbang bermuram durja. Selama kurang lebih 107 menit, penonton diseret memasuki pesta balas dendam Deadpool yang di dalamnya mengandung adegan seksualitas cukup pekat, kekerasan tanpa ampun yang sanggup jadi akan membuat para pembenci darah merasa ngilu – walau tak sesadis Kick Ass dan Kingsman: The Secret Service – serta humor-humor pembangkang pula sangat lucu yang penuh rujukan ke budaya populer. Whoa, pop culture? Yup. Dari serentetan banyolan-banyolan yang menghiasi Deadpool (percayalah, sangat banyak!), juaranya memang terletak ketika duo penulis skrip, Paul Wernick dan Rhett Reese, bermain-main di arena ini. Banyak yang dijadikan target sekalipun, bagi saya, kekocakan paling greget yaitu setiap kali sindiran-sindiran terhadap X-Men dilancarkan. Cenderung segmented, betul, tapi jikalau kau memahami materi lawakannya, pasti ledakan tawa tidak sanggup dihindari. 

Apakah Deadpool hanya soal kegilaan, kegilaan, dan kegilaan menyerupai terjabarkan di sebagian besar ulasan ini? Tidak juga. Meski porsinya hanya sekelumit, ada suntikan romansa yang tersampaikan cukup manis (dan menyentuh!) dalam film sehingga salah satu materi promosi Deadpool yang menjualnya sebagai film romansa penyambut Valentine nggak bohong-bohong banget. Dan ada pula iringan lagu-lagu tembang 80’an yang secara asing begitu mendongkrak mood film, menyerupai pernah dilakukan tetangga (ehem, Marvel Studio) untuk Guardians of the Galaxy. Lalu, bagaimana soal British villain, bala pinjaman dari superhero lain, serta (tentunya) Ryan Reynolds? Apabila diuraikan satu persatu akan membuat ulasan ini semakin tak terkontrol panjangnya, jadi hanya satu kata sanggup diucapkan: bagus. Oh, kecuali Ryan Reynolds. He’s amazing! Tidak banyak yang menyadari memang bahwa ia yaitu pemain film bertalenta – sampai-sampai dijadikan target tembak dalam joke – tetapi setidaknya berkat Deadpool, kesannya Reynolds yang karirnya nyaris karam sanggup kembali berdiri sekaligus menyatakan keras-keras kepada dunia bahwa ia seharusnya lebih diperhitungkan. Tanpa performa gemilangnya, tingkat keasyikkan Deadpool mungkin tidak akan setinggi ini. Yaaa… memang tidak lantas menyebabkan Deadpool sebagai film superhero terbaik sih, tetapi tetap tidak sanggup dipungkiri bahwa ini yaitu tontonan yang sangat, sangat menghibur. Kurang lebih, menyerupai versi sedikit lebih kurang bimbing dari Kick Ass

Silahkan tersenyum, Fox. 

Note : Jangan terburu-buru melenggang keluar dari studio sebab ada dua post-credit scene di penghujung film. Benar-benar penghujung.

Outstanding (4/5)