October 28, 2020

Review : Dear Nathan

“Saya seneng, kau ngomong pakai saya kamu. Berasa kayak orang pacaran beneran.” 

Baru beberapa hari kemudian diri ini berjingkat-jingkat kegirangan karena mendapati film percintaan remaja buatan dalam negeri yang kualitasnya melampaui semenjana dalam Galih dan Ratna, tanpa disangka-sangka kegirangan tersebut bakal terpicu lagi oleh Dear Nathan. Berbeda halnya dengan Galih dan Ratna yang materi sumbernya amat meyakinkan – pijakannya ialah film romantis klasik, maka Dear Nathan yang mempergunakan novel teenlit laku manis rekaan Erisca Febriani hasil kompilasi dari tulisannya di situs Wattpad sebagai referensi utama boleh dibilang agak meragukan. Meragukan dalam arti naga-naganya film akan susah dinikmati penonton yang bukan berasal dari pangsa pasar utamanya atau dengan kata lain remaja usia belasan yang masih mengenakan seragam sekolah. Ya, telah menjadi diam-diam umum bahwa film romantis khusus remaja Indonesia cukup umur ini acapkali memiliki kecenderungan mengalienasi penonton diluar pangsa pasar utamanya sampai-sampai munculnya perilaku meremehkan terhadap Dear Nathan pun amat bisa dipahami. Ditemani skeptisisme kala melangkahkan kaki memasuki gedung bioskop demi menyaksikan Dear Nathan, sebuah tamparan kecil mendarat ke diri ini begitu lampu bioskop dinyalakan membuktikan pertunjukkan telah usai. Rupanya, Dear Nathan bukanlah film menye-menye kosong nan menyebalkan menyerupai disangkakan dan malah justru sebaliknya, ini ialah tontonan yang manis, lucu, dan cukup emosional. Dear Nathan pun bolehlah diajak bergabung ke dalam kelompok ‘film percintaan remaja buatan sineas Indonesia yang yummy buat ditonton’ yang anggotanya terhitung sedikit itu. 

Dear Nathan ialah kisah asmara antara seorang siswa berandalan dengan seorang siswi taat aturan. Si pemuda ialah Nathan (Jefri Nichol) yang tersohor di sekolahnya karena kerap bikin onar, sedangkan si cewek ialah siswi gres yang berusaha mengukir prestasi, Salma (Amanda Rawles). Perjumpaan keduanya dimulai tatkala Salma telat tiba ke sekolah dan Nathan membantunya menyelinap masuk demi menghindarkan Salma dari hukuman. Sikap Salma yang berbeda terhadap Nathan (menurut Nathan, Salma melihatnya sebagai manusia) menciptakan berandalan sekolah ini jatuh hati. Dia berusaha menaklukkan hati si murid gres bahkan secara terang-terangan menyatakan rasa cintanya. Hanya saja, sulit bagi Salma untuk benar-benar menentukan pilihan hatinya. Di satu sisi, ia ingin menghindar dari duduk masalah yang kerap bersanding erat bersama Nathan. Namun di sisi lain, ia pun tidak bisa menyangkal bahwa dirinya menaruh perasaan pada Nathan. Kebimbangan Salma kian menjadi-jadi ketika sang ketua OSIS, Aldo (Rayn Wijaya), turut memberi perhatian lebih terhadapnya. Apakah ia akan menetapkan pilihannya ke Nathan yang jelas-jelas penuh duduk masalah atau malah Aldo yang di permukaan tampak memiliki ‘boyfriend material’? Dalam kebimbangannya, serentetan bencana mendorong Salma untuk lebih erat pada Nathan yang membuatnya bisa melihat sosok Nathan dari sudut pandang berbeda dan perlahan tapi niscaya kian memperkuat percikan-percikan asmara diantara mereka. 

Berkaca pada sinopsis, materi kisah Dear Nathan sejatinya klise. Entah sudah berapa kali film percintaan remaja mengusung tuturan soal kisah kasih antara si nakal dengan si rajin berlatar masa-masa SMA. Tengok saja daerah Asia yang sejak popularitas serial Meteor Garden mengangkasa, berderet-deret film berjalur romantis mempergunakan template senada. Salah satu yang terbaru dan meninggalkan kesan mendalam di hati ialah Our Times (2015). Memboyong materi kisah yang tidak lagi abnormal di indera pendengaran semacam ini cenderung beresiko. Apabila si pembuat film kurang mahir bercerita, film akan berakhir kolam epigon. Butuh kecakapan dalam mengolahnya semoga meninggalkan cecapan rasa berpengaruh di akhir, membuatnya terasa segar sekaligus memposisikannya menjulang diantara film-film sejenis. Dan beruntunglah bagi Dear Nathan, tim yang solid menyokongnya dari aneka macam lini sehingga bisa meninggalkan cecapan rasa berpengaruh di selesai sekalipun materi obrolannya tidak lagi baru. Indra Gunawan yang sebelumnya mengobrak-abrik emosi penonton melalui Hijrah Cinta yang kurang menerima sorotan, menempati dingklik penyutradaraan. Dia bertugas mengejawantahkan skenario racikan Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Talak 3) dan Gea Rexy ke dalam bahasa gambar. Dalam Dear Nathan, Indra mempertegas bahwa sosoknya sudah saatnya diperhitungkan. Keterampilannya menggulirkan penceritaan di Dear Nathan paling kentara mencolok di 30 menit awal yang mengasyikkan sekaligus menit-menit jelang film tutup durasi yang bukan saja emosional tetapi juga manis. Sikap penuh keragu-raguan seketika terhempas hanya beberapa ketika usai film memulai langkah pertamanya.

Membawa nada penceritaan yang cerah ceria kolam remaja-remaja yang tengah dimabuk asmara, Dear Nathan tidak ingin melenakan penonton sekadar dengan tangkapan gambar indah maupun formasi obrolan ala pujangga tanpa konteks jelas. Plot dan huruf pun dianggap penting. Penonton telah dikondisikan untuk menaruh kepedulian kepada kedua huruf utamanya sedari awal. Demi memperkuat karakteristik dari masing-masing tokoh, si pembuat film pun memanfaatkan barisan huruf pendukung. Keberadaan teman-teman sekolah Nathan maupun Salma bukan sekadar aksesori belaka. Begitu halnya dengan sosok keluarga. Dari mereka, kita bisa melihat Nathan dan Salma memakai aneka macam jenis kacamata dan memahami motivasi atas setiap tindak tanduknya. Ada dinamika tersendiri dalam sosok keduanya yang sedikit banyak membantu mereka terhindar dari huruf tipikal khas film sejenis. Kita terpikat pada Nathan yang bengal, kita terpikat pada Salma yang polos, dan hasil akhirnya, kita terpikat pada kisah asmara yang merekatkan keduanya. Kesanggupan kita untuk terhubung ke para huruf juga dipicu oleh bangunannya yang membumi. Sosok Nathan dan Salma ada di sekitar kita (atau malah diri kita!), kemudian konflik yang melingkungki keduanya pun gampang dijumpai. Ketika penonton sudah membentuk ikatan bersama huruf kunci, maka gampang saja bagi si pembuat film untuk membius kita dengan rentetan konflik yang menghadang para tokoh. Muncul kebahagiaan menyimak dua sejoli ini berduaan, muncul ketidakrelaan melihat jurang pemisah diantara mereka kian menganga lebar, dan muncul kehangatan menyaksikan salah satu dari mereka karenanya berkonsiliasi dengan masa lalu. Lebih dari sekadar film percintaan, Dear Nathan turut mengapungkan gosip mengenai perundungan, prasangka, dan keluarga disfungsional yang alih-alih mendistraksi malah kian memperdalam plot utama. 

Jalinan pengisahan yang telah dirangkai dengan begitu apiknya kian terangkat berkat barisan pemain yang suguhkan lakon solid. Jefri Nichol dan Amanda Rawles merupakan bukti konkret kejelian tim casting dalam menentukan pemain. Mereka tidak semata-mata cocok secara perawakan, tetapi juga sanggup untuk menghidupkan sosok Nathan dan Salma. Jefri Nichol melebur secara meyakinkan ke dalam jiwa Nathan, menciptakan penonton tetap sanggup jatuh hati kemudian bersimpati kepada Nathan. Gelegak emosinya di paruh selesai bersama Surya Saputra yang memerankan ayahanda Nathan menjadi salah satu bab terbaik dari film dan terbilang berhasil memaksa penonton untuk mengeluarkan sapu tangan dari saku celana demi mengusap bulir-bulir air mata. Performa Jefri Nichol bisa terasa maksimal – bahkan ia amat bersinar disini – karena disandingkan dengan lawan main yang juga klop. Disamping Surya Saputra, ada pula Ayu Dyah Pasha, Karina Suwandi, Diandra Agatha, Beby Tsabina, serta tentunya, Amanda Rawles yang jalin chemistry apik bersama Jefri Nichol. Seperti halnya Jefri Nichol, Amanda Rawles pun tampak effortless memerankan Salma. Dalam interpretasi kurang tepat, Salma berpotensi terperosok menjadi huruf menjengkelkan apalagi acapkali ia plin plan atas keputusannya. Namun Amanda Rawles berhasil melakonkannya dengan amat baik yang menciptakan Salma gampang untuk disukai (senyum-senyum canggungnya bikin gemes!) dan kita pun memahami kegamangan hatinya dalam menentukan pilihan. 
Melihat sokongan tidak main-main dari bermacam-macam departemen, tidak mengherankan jikalau pada karenanya Dear Nathan sanggup terhidang sebagai film percintaan remaja yang menyenangkan. Mendatangkan gelak tawa, mengundang sunggingan senyum dan menghadirkan kehangatan. Bagus!

Outstanding (4/5)