October 25, 2020

Review : Demi Ucok


“Keberhasilan perempuan Batak itu dinilai dari anaknya. Kalau anak kau lebih jago dari anak mami, gres kau boleh sombong.” – Mak Gondut 

Salah satu lagu anak nasional mempunyai penggalan lirik ibarat ini, “kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali…”. Hmmmm… tunggu sebentar, hanya memberi tak harap kembali, apakah lirik lagu ini sanggup dibuktikan kebenarannya? Seorang ibu nrimo memberi apapun kepada anaknya tanpa mengharapkan imbalan apapun? Jika meminjam istilah anak gahoel zaman sekarang, ‘ciyus, macacih, enelan’? Tidak juga. Seorang ibu pun tetaplah manusia, impian menerima jawaban dari sang anak tentu bersemayam dalam hati. Beberapa mengungkapkan secara langsung, beberapa lainnya dipendam untuk mengetes kepekaan si buah hati. Mak Gondut (Lina Marpaung) terpaksa menyampaikannya secara terang-terangan karena gemas melihat putri semata wayangnya, Gloria (Geraldine Sianturi), masih betah untuk melajang meski usianya hendak melangkah ke kepala tiga. Glo, begitu sapaan dekat Gloria selain Gorilla, emoh untuk menikah dengan berdalih, “Glo tak mau ibarat Emak. Kawin, lupa mimpi, and live boringly ever after.” Demi membujuk Glo untuk menikah, Mak Gondut mengiming-imingi suntikan dana sebesar Rp. 1 Milyar untuk proyek film kedua Glo yang jalan di tempat. 

Dalam kamus kehidupan Mak Gondut, ada tiga tujuan hidup perempuan Batak; menikah dengan laki-laki Batak, mempunyai anak Batak, dan mencari menantu Batak. Mak Gondut kian ceriwis dan pantang mengalah untuk menjodohkan Glo dengan laki-laki Batak usai dirinya divonis oleh dokter bahwa usianya hanya tersisa satu tahun. Maka, dalam sisa film yang hanya memakan durasi sekitar 79 menit ini, penonton akan menyaksikan perang idealisme antara seorang anak perempuan yang memerjuangkan mimpinya dengan sang ibu yang sebenarnya hanya ingin melihat putrinya hidup bahagia. Sammaria Simanjuntak yang mengawali karir film panjangnya melalui Cin(t)a yang indah dan terbilang berani mengapungkan permasalahan yang sensitif untuk sebagian kalangan, membawakan Demi Ucok secara ringan dan santai namun dihiasi dengan dialog-dialog cerdas, segar, jenaka, dan menohok. Sebagai pekerja film, maka sentilan perihal kondisi perfilman Indonesia dikala ini yang kacau pun kudu dimasukkan. Salah satu conton, simak saja percakapan yang terjadi antara Glo dengan produser film horror Indonesia yang diperankan oleh Joko Anwar dikala Glo mencoba untuk memberikan naskah buatannya: 
“Ini sudah halaman 14, hantunya mana ini?” 
“Kalau terlalu sering muncul, nanti suspense-nya hilang.” 
“Itu jikalau kau bikin film di barat. Film orang Indonesia itu tak ada yang mau mikir. Hantu itu muncul harus setiap dua menit sekali.” 

Atau salah satu obrolan Gloria, “film Indonesia itu cuma butuh tiga hal; banci, hantu, dan susu.” Sammaria pun menghadirkan tokoh berjulukan Nikki (Saira Jihan) sebagai sahabat Glo yang menopang kebutuhan hidup dengan menjual dvd bajakan. Pada titik ini kita melihat posisi dilematis dvd bajakan; di satu sisi merugikan para pembuat film, namun di sisi lain menguntungkan sebagai lahan untuk memperoleh banyak acuan film dengan harga murah khususnya bagi sineas berkantong cekak. Tak hanya menyenggol kelamnya dunia perfilman, Sammaria pun asyik ‘curcol’ mengenai susila dan budayanya sendiri, Batak. Malahan, inilah yang menjadi kupasan utama dalam Demi Ucok. Pun begitu, Anda tak perlu khawatir tidak sanggup menikmati joke-joke yang dilontarkan alasannya ialah bagaimanapun, it’s everybody story. Tapi tentunya kelucuannya akan berlipat ganda apabila Anda memahami betul susila dan budaya Batak. 
Mengingat ini ialah film yang (katanya sih…) personal bagi Sammaria, maka beliau tidak terlalu kesulitan dalam menuturkan dongeng dan sanggup berbicara jujur apa adanya. Penonton pun digiring untuk memasuki ‘dunia Sammaria’ dengan pertolongan tokoh berjulukan Gloria. Beruntung apa yang dialami dan dirasakan oleh sang sutradara yang juga merangkap sebagai produser dan penulis skrip ini tidak berbeda jauh dengan pengalaman saya dan Anda. Seperti yang telah saya sebutkan di paragraf sebelumnya, ini ialah dongeng semua orang. Persoalan kita bersama. Diakui atau tidak, ibarat sekali atau hanya sekadar nyerempet, rasa-rasanya kita pun pernah berada dalam posisi Glo, terutama bagi yang telah mencicipi usia 20-an, rampung kuliah atau memasuki dunia kerja. Pertanyaan akan diawali dengan, “sudah punya pacar belum?”. Semakin lama, akan semakin merembet kemana-mana. Ketika di usia mapan tak juga menggandeng calon pendamping hidup, orang renta akan gusar dan mulai mencari isu mengenai pria/wanita yang masih menjomblo di arisan RT, PKK, pengajian, gereja, atau komunitas untuk dijodohkan dengan putra/putri mereka. Ini tak hanya dilakukan oleh emak-emak Batak, tetapi juga emak-emak dari suku lain, alasannya ialah ini dilema nasional. 

Sungguh membahagiakan di awal tahun 2013 kita sudah disambut oleh sebuah film Indonesia yang sangat layak untuk ditonton, Demi Ucok. Sammaria Simanjuntak mengapungkan sentilan untuk susila dan budaya Batak yang tergolong sensitif untuk dijamah serta kekacauan industri perfilman nasional dengan cara yang segar dan menyenangkan. Tidak ada kesempatan bagi Anda untuk mengerutkan dahi, hanya ada ledakan tawa tiada henti. Setidaknya, itulah yang saya alami. Sejak menit pertama hingga credit title mulai merayap, Sammaria menciptakan perut dan pipi saya terasa kencang menyaksikan tingkah polah Mak Gondut dan Gloria yang dimainkan secara natural nan apik oleh pendatang baru, Lina Marpaung dan Geraldine Sianturi. Chemistry yang terjalin diantara keduanya berpadu dengan manis, seakan-akan keduanya memang ibu dan anak betulan di luar layar. Kehadiran Saira Jihan, Sunny Soon (sebagai Acun, sahabat Glo yang bermimpi menjadi penyanyi), serta Nora Samosir semakin memarakkan suasana. Bagusnya lagi, Demi Ucok pun tak pernah jatuh ke dalam lubang kekonyolan dan slapstick yang berlebihan. Bahkan momen ber-drama ria yang seharusnya penuh dengan deraian air mata ditampilkan secukupnya saja tanpa didramatisasi berlebihan ibarat kebanyakan film Indonesia. 
Apakah Anda ialah seorang Batak atau bukan, tidak menjadi soal. Demi Ucok sekalipun kerap bermain-main dalam humor yang cakupannya terbilang ‘segmented’, tetap sanggup dinikmati oleh kalangan luas. Naskah bernas buatan Sammaria Simanjuntak tersampaikan dengan apik berkat pengarahannya yang lincah, akting serta chemistry bagus dari para pemain, serta departemen teknis (mulai dari tata artistik, musik, hingga sinematografi) dimanfaatkan secara sempurna guna. Jarang sekali saya sanggup tertawa puas menyaksikan sebuah film Indonesia di layar lebar. Saya bahkan tidak sanggup mengingat kapan terakhir kali mengalaminya. Ini benar-benar sebuah pengalaman yang menggembirakan. Bahkan, tidak cukup hanya hingga di sana, Demi Ucok pun menciptakan saya merindukan ibu yang telah berpulang setahun lalu. Apabila Anda mempunyai rencana untuk menyimak Demi Ucok di bioskop tapi tak ada teman, jangan ragu-ragu untuk mengajak ibunda. Pengalaman yang dihasilkan tentunya akan jauh berbeda. Siapa tahu seusai menonton akan saling berpelukan atau berupaya untuk memahami dunia masing-masing.

Outstanding