October 20, 2020

Review : Detective Conan: Crimson Love Letter


Selepas The Darkest Nightmare yang merupakan salah satu seri terbaik dalam rangkaian film layar lebar Detective Conan, antisipasi terhadap jilid ke-21 yang diberi tajuk Crimson Love Letter pun seketika meninggi. Terlebih, dua aksara kesayangan para penggemar; Heiji Hattori dan Kazuha Toyama, yang terakhir kali menampakkan diri dalam Private Eye in the Distant Sea (2013) akan mempunyai andil besar dalam penceritaan bukan sebatas numpang lewat untuk memeriahkan suasana. Terdengar menggoda, bukan? Tingginya antisipasi terhadap Crimson Love Letter aba-aba Kobun Shizuno (yang juga menyutradarai enam jilid terakhir) sanggup dibuktikan melalui besarnya raihan pundi-pundi uang yang diperoleh selama masa pemutaran di bioskop-bioskop Jepang. Mengantongi $59 juta dalam 9 pekan, Crimson Love Letter tercatat sebagai seri film dari Detective Conan dengan pendapatan tertinggi melibas pencapaian jilid sebelumnya. Berkaca dari respon memuaskan yang diperolehnya ini, satu pertanyaan lantas terbentuk: apakah hype sedemikian berpengaruh yang melingkungi instalmen ke-21 ini berbanding lurus dengan kualitas penceritaan yang diusungnya?

Dalam Crimson Love Letter, Conan Edogawa (disuarakan oleh Minami Takayama) bersama keluarga Mori dan teman-temannya di klub Detektif Cilik bertolak ke Kyoto untuk menghadiri pertandingan Karuta, kartu berisi puisi-puisi tradisional Jepang, memperebutkan Piala Satsuki yang tengah dihelat di Nichiuri TV. Tatkala gladi higienis sedang berlangsung, pihak stasiun televisi mendapatkan kabar mengenai bahaya bom yang disusul oleh sederetan ledakan-ledakan. Ledakan tersebut memerangkap Heiji Hattori (Ryo Horikawa) dan Kazuha Toyama (Yuko Miyamura) di dalam gedung sekaligus melukai pergelangan tangan salah satu finalis, Mikiko Hiramoto (Riho Yoshioka). Berbekal kemampuan serta peralatan canggih yang dimilikinya, Conan berhasil menyelamatkan kedua sahabatnya tanpa sedikitpun meninggalkan luka. Berakhir? Tentu saja belum. Dari sini, pengisahan bercabang menjadi tiga. Pertama, menyoroti perkara pembunuhan yang menimpa pemenang Piala Satsuki tahun sebelumnya. Kedua, kehadiran seorang wanita berjulukan Momiji Ooka (Satsuki Yukino) yang secara tiba-tiba mengaku sebagai tunangan Heiji. Dan ketiga, upaya keras Kazuha yang menggantikan posisi Mikiko untuk memenangkan Piala Satsuki alasannya ialah keberlangsungan klub Karuta di sekolahnya dan Heiji menjadi taruhannya.

Yang perlu dipersiapkan sebelum menyaksikan Crimson Love Letter ialah membekali diri dengan pengetahuan mengenai Karuta – saran saya, tonton film Jepang berjudul Chihayafuru – alasannya ialah si pembuat film tidak memperlihatkan klasifikasi komprehensif terkait permainan tradisional ini berikut tata cara bermainnya. Keputusan yang terang beresiko alasannya ialah penonton yang tidak tahu menahu mengenai Karuta bisa jadi akan dibentuk kebingungan serta mengalami kesulitan untuk menaruh atensi lebih terhadap pergerakan kisah apalagi basis dilema dalam film bersumber dari permainan ini. Tatkala penonton telah ‘tersesat’ sedari awal, mengikuti langkah selanjutnya dari Crimson Love Letter tidak akan berlangsung gampang – bahkan mereka yang paham pun belum tentu bakal lancar-lancar saja. Pemicunya, tuturan yang terlampau berbelit-belit bahkan untuk standar film Detective Conan. Pembagian kisah menjadi beberapa cabang seringkali berasa tumpang tindih dan dimunculkannya setumpuk tersangka tanpa urgensi yang konkret kian menjadikan segalanya terlalu rumit untuk dicerna. Ya, ada berbagai nama yang harus kau hafalkan, saudara-saudara! Dengan perkara yang gotong royong juga tidaklah seru-seru amat (well, bisa jadi alasannya ialah kurang erat dengan intrik di dalam dunia Karuta), menyaksikan film lebih sering digerakkan oleh percakapan-percakapan tentu memberi pengalaman kurang menyenangkan. 

Anehnya, Crimson Love Letter justru memperlihatkan gregetnya ketika penceritaan menaruh fokusnya kepada relasi tanpa status yang naik turun antara Heiji dan Kazuha. Ketimbang menaruh ketertarikan terhadap perkara menjemukan yang diusut oleh Conan beserta Heiji, keingintahuan lebih besar malah berkisar pada identitas Momiji Ooka. Siapakah dia? Mengapa beliau benar-benar sangat yakin bahwa dirinya ialah tunangan dari Heiji? Penonton tentu tidak lantas memperoleh jawabannya dengan mudah. Dari pertanyaan-pertanyaan ini, Kobun Shizuno kemudian mengembangkannya menjadi satu dua cabang konflik; Momiji menantang Kazuha bertarung di Piala Satsuki dengan Heiji sebagai taruhannya yang memacu Kazuha untuk berlatih Karuta habis-habisan dibantu oleh ibu Heiji, Shizuka (Masako Katsuki), kemudian Ran Mori (Wakana Yamazaki) tanpa sengaja melihat sebuah foto di dompet Momiji yang menjadi bukti otentik atas pernyataan Momiji mengenai statusnya di sisi Heiji. Nah lho! Dengan pekatnya kelakar-kelakar lucu yang menghiasi disana sini, ditambah pula bisa dijumpainya elemen romansa di beberapa titik dan adanya intensitas dibalik persaingan sengit antara Kazuha dengan Momiji, konflik yang melingkungi Kazuha-Heiji ini pun menjadi nyawa bagi Crimson Love Letter. Kalau sudah begitu, tentu sah-sah saja dong jikalau saya kemudian lebih menentukan menyebut Crimson Love Letter sebagai film komedi romantis ketimbang film detektif?

Note : Ada post-credits scene di penghujung film dengan durasi cukup panjang.

Acceptable (3/5)