July 15, 2020

Review : Detective Conan: Zero The Enforcer


“You get really serious when it comes to Mori Kogoro, don’t you? Or rather, is it for Ran?” 
Ada ketidakpuasan yang menggelayuti diri pasca menonton seri kedua puluh satu dari versi layar lebar Detective Conan, Crimson Love Letter (2017). Penyebabnya, permainan Karuta (kartu bergambar khas Jepang) yang menjadi fondasi utama untuk perkara di instalmen ini hanya bisa dipahami daya tariknya oleh masyarakat Jepang beserta mereka yang menaruh perhatian khusus terhadap budaya Jepang. Diluar kelompok tersebut, ada kemungkinan terjangkit kejenuhan maupun kebingungan selama menontonnya. Sungguh disayangkan, mengingat beberapa seri terakhir dalam rangkaian film Detective Conan terus mengalami eskalasi dari sisi perkara yang semakin usang semakin mencengkram terlebih dikala Conan Edogawa dihadapkan pada musuh bebuyutannya: Organisasi Jubah Hitam. Selepas tersandung di Crimson Love Letter yang menciptakan saya bolak-balik menguap seraya melirik ke jam tangan tersebut, cap dagang ini jadinya kembali mengasyikkan buat diikuti dalam jilid kedua puluh dua yang memakai subjudul Zero the Enforcer. Menghembuskan gosip berkenaan dengan terorisme, konspirasi politik, hingga kejahatan siber, Zero the Enforcer tak saja mampu merebut atensi sedari awal berkat narasinya yang menggugah selera tetapi juga bisa bangun tegak di jajaran instalmen terbaik dalam rangkaian film Detective Conan

Kasus yang mesti dihadapi oleh si bocah jenius ‘jelmaan’ detektif Sekolah Menengan Atas Shinichi Kudo, Conan Edogawa (disuarakan oleh Minami Takayama), dalam Zero the Enforcer ialah pengeboman sebuah resor sekaligus sentra konvensi anyar, Edge of Ocean, yang terletak di Tokyo Bay hanya beberapa hari jelang diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi. Meski tidak ada korban jiwa dari kalangan sipil, perkara yang menewaskan sejumlah anggota kepolisian ini secara mengejutkan menyeret Kogoro Mori (Rikiya Koyama) sebagai tersangka sehabis sidik jarinya ditemukan di TKP. Mengingat Kogoro tidak becus nyaris dalam hal apapun, termasuk mengutak-atik laptop miliknya sendiri yang konon menjadi kawasan lain ditemukannya barang bukti, Conan terang tidak percaya begitu saja. Lagipula, apa motif yang melatarbelakangi perbuatan Kogoro tersebut sampai-sampai beliau nekat mempertaruhkan reputasinya? Dibantu oleh Klub Detektif Cilik dalam menyelidiki perkara ini, terutama Ai Haibara (Megumi Hayashibara), sebuah petunjuk kecil mengarahkan Conan pada Toru Amuro (Toru Furuya) yang diketahui sedang berada di TKP dikala pengeboman terjadi. Belum sempat Conan mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan keterlibatan Toru, sederet problem lain yang tak kalah pelik bermunculan ibarat tubuh antariksa Amerika, NAZU, yang diretas, Kogoro yang dijatuhi dakwaan, hingga bahaya peledakan terhadap Biro Keamanan Jepang. 

Disandingkan dengan judul-judul terdahulu, Zero the Enforcer mempunyai narasi yang paling kompleks tetapi tetap mengikat. Kobun Shizuno (The Darkest Nightmare, The Eleventh Striker) selaku sutradara membagi jalinan pengisahan ke dalam tiga cabang utama yang masing-masing mengupas perihal pengusutan perkara peledakan bom oleh Biro Keamanan Jepang, penyelidikan perkara Kogoro oleh pengacara lepasan Kyoko Tachibana (Aya Ueto), serta Toru Amuro yang terlibat dalam misi diam-diam bersama Yuya Kazami (Nobuo Tobita), seorang biro di Biro Keamanan Jepang. Penonton diminta untuk menaruh fokus penuh pada guliran kisah – menghafalkan satu demi satu aksara gres yang bermunculan kemudian mencari keterkaitannya dengan aksara lain – alasannya ialah Conan tidak dihadapkan pada satu problem tunggal sekalipun akarnya berasal dari pengeboman Edge of Ocean. Bahkan, jikalau kau belum pernah sekalipun mengikuti seri Detective Conan baik dari manga, anime, atau film, ada baiknya membekali diri dengan informasi yang diperoleh dari tiga medium tersebut terlebih dahulu demi lebih memahami fungsi dari keberadaan Toru Amuro yang memegang peranan krusial di instalmen ini. Motifnya yang masih dipertanyakan dan ambiguitasnya dalam mengambil posisi menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi Zero the Enforcer. Apakah beliau ialah seorang lawan bagi Conan? Atau justru seorang kawan? 
Yang juga menarik dari Zero the Enforcer sehingga narasinya yang njelimet tidak kesulitan dalam membetot atensi ialah pendekatan yang dipergunakan oleh Kobun Shizuno dalam melantunkan penceritaan. Alih-alih mengemasnya kolam tontonan detektif ibarat biasanya diterapkan, si pembuat film menentukan untuk menjlentrehkannya kolam drama pengadilan yang sempat menciptakan diri ini bertanya-tanya, “apakah ini berarti kita akan melihat tukar argumen di ruang sidang dengan Kogoro Mori sebagai taruhannya?”. Ada ketegangan yang bisa dirasakan, utamanya apabila kau tidak keberatan dijejali dengan dialog-dialog tangkas dari Kyoko Tachibana kemudian dari pihak penuntut kemudian dari Biro Keamanan Jepang yang tiba secara silih berganti. Ketegangan bisa pula dirasakan alasannya ialah tidak ada seorangpun (kecuali aksara protagonis inti, tentunya) yang mampu mendapatkan amanah oleh Conan, termasuk Kyoko yang berada di area abu-abu. Dia bisa saja berniat menyelamatkan Kogoro secara tulus, atau hanya demi publisitas, atau malah mempunyai maksud terselubung lainnya. Ini masih belum ditambah dengan kehadiran Toru yang kentara menyimpan jadwal tertentu. Mengalun secara perlahan tapi pasti, Zero the Enforcer terasa kian mendebarkan ketika Conan mulai mengungkap bertahap kebenaran dibalik perkara yang bersinggungan dengan terorisme, kejahatan siber, dan konspirasi politik ini. Saat kebenaran jadinya didapatkan, Zero the Enforcer mengeluarkan jurus andalan dari franchise ini berupa babak pamungkas berisi tabrak seru yang over-the-top

Antisipasi munculnya adegan ‘duel’ amat mengasyikkan antara kendaraan beroda empat dengan kereta listrik beserta kendaraan beroda empat meluncur dari ketinggian yang ibarat versi upgrade dari Countdown to Heaven (2001). Dan oh, jangan lupakan pula masih ada bubuhan sederet momen Ran-Shinichi yang sekali ini cukup emosional karena status Kogoro sebagai tersangka menciptakan Ran panik. Ada kemungkinan, beliau akan ditinggal pergi (lagi) oleh seseorang yang dicintainya. Sedih banget, nggak sih? Tapi tentu saja momen yang menyentuh hati ini tidak berlama-lama alasannya ialah masih harus menyebarkan dengan lawakan lucu dari Klub Detektif Cilik, kemudian narasi kompleks yang mengikat dan tabrak epilog yang seru. Menilik kombinasinya ini, bisalah kiranya saya menyebut Zero the Enforcer sebagai salah satu instalmen terbaik dalam rangkaian film Detective Conan.

Info layanan masyarakat : Jika kau penggemar franchise ini, tentu mengetahui kebiasaan menyimpan adegan bonus dan petunjuk film berikutnya di penghujung durasi, kan? Nah, Zero the Enforcer pun melakukannya. Bertahanlah alasannya ialah petunjuknya akan membuatmu kegirangan.

Outstanding (4/5)