July 15, 2020

Review : Dilan 1990


“Milea, kau cantik. Tapi saya belum mencintaimu. Nggak tahu jikalau sore. Tunggu aja.” 

Pada kuartal awal tahun 2018 ini, khalayak ramai menjadi saksi atas lahirnya pasangan fiktif gres yang fenomenal dalam perfilman Indonesia selepas Cinta-Rangga (Ada Apa Dengan Cinta?, 2001), Tita-Adit (Eiffel… I’m in Love, 2003), dan Aisha-Fahri (Ayat-Ayat Cinta, 2008). Mereka ialah Milea-Dilan, huruf utama dalam film Dilan 1990 yang diekranisasi dari novel laku manis bertajuk Dilan: Dia ialah Dilanku Tahun 1990 rekaan Pidi Baiq. Seperti halnya ketiga film yang telah terlebih dahulu mencuri hati masyarakat Indonesia tersebut, Dilan 1990 pun sanggup membuat gelombang hype luar biasa besar yang kemudian mendorong publik yang didominasi oleh sampaumur usia belasan untuk rela mengantri panjang demi menyaksikan jalinan kisah asmara Milea dengan Dilan. Alhasil, rekor demi rekor terus diciptakan oleh Dilan 1990 yang berpotensi membawanya meraih predikat “film romantis terlaris sepanjang masa di Indonesia” (dengan catatan, sanggup melewati Habibie & Ainun yang merengkuh 4,5 juta penonton). Kesuksesan besar ini tentu pada hasilnya mendatangkan tanya: apa sih istimewanya Dilan 1990 sampai-sampai begitu diburu? Dari sisi bisnis, jawabannya gampang saja yakni ketepatan taktik promosi. Sedangkan dinilai dari filmnya itu sendiri, Dilan 1990 terhitung berhasil berubah menjadi sebagai film percintaan yang manis sekalipun bagi saya langsung tidak betul-betul mengesankan.  

Dalam Dilan 1990, kita mengikuti narasi Milea (Vanesha Prescilla) mengenai seseorang yang telah merebut hatinya semasa mengenakan seragam putih abu-abu di Bandung pada tahun 1990. Orang tersebut ialah Dilan (Iqbaal Ramadhan), ‘panglima tempur’ di sebuah geng motor dan murid berandalan di sekolahnya. Mereka berdua, tentu saja, tidak lantas saling jatuh cinta ketika pertama kali berjumpa. Milea telah mempunyai seorang kekasih di Jakarta berjulukan Beni (Brandon Salim) dan rekam jejak Dilan sebagai tukang bikin onar membuat Milea agak ragu-ragu kala didekati Dilan. Terlebih, Dilan juga bukan satu-satunya pria yang menaruh rasa padanya alasannya ialah ada pula Nandan (Debo Andrios), sang ketua kelas, dan Kang Adi (Refal Hady), sang guru les privat. Yang kemudian perlahan tapi niscaya membuat hati Milea luluh terhadap Dilan ialah tekad berpengaruh yang ditunjukkan oleh Dilan untuk mendapat Milea. Tidak ada hadiah-hadiah mahal yang diberikan kepada sang pujaan hati melainkan sebatas lontaran kata-kata puitis dengan penyampaian yang bisa dibilang unik, menyerupai disisipkan pada buku teka-teki silang atau ‘dipaketkan’ bersama tukang pijat. Berbagai upaya Dilan untuk menggaet Milea ini hasilnya menunjukkan titik jelas pasca Milea mendapat perlakuan menyakitkan dari Beni sehingga membuat Milea mempunyai ketegasan untuk lebih menentukan Dilan dan meninggalkan Beni.
Diejawantahkan oleh Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ke dalam bahasa gambar, Dilan 1990 bisa tersaji sebagai tontonan percintaan yang sejatinya cukup manis. Generasi sosial media yang menjadi pangsa pasar utamanya, terutama penonton perempuan, bakal meleleh tiap kali sosok Dilan meluncurkan rayuan-rayuan mautnya kepada Milea, sementara mereka yang telah berusia lanjut (eh, maksud saya, di atas 25 tahun) akan tersenyum-senyum gemas alasannya ialah apa yang dialami oleh Dilan dan Milea sedikit banyak mengingatkan pada masa sampaumur dimana berpacaran tampak menyerupai hal terindah yang bisa dilakukan. Pada dasarnya, sepanjang durasi mengalun, penonton sebatas menyaksikan upaya si panglima tempur dalam merebut hati wanita yang ditaksirnya melalui untaian kata-kata puitis namun receh dan gaya pendekatan yang agak-agak nyeleneh. Tidak lebih dari itu. Kalaupun ada konflik menyerupai Beni yang geram mendapati kekasihnya mendua, kehadiran Kang Adi, pertikaian antara Dilan dengan gurunya, hingga Anhar (Giulio Parengkuan) yang melecehkan Milea, hanya dipergunakan sebagai selingan semata tanpa pernah benar-benar memperoleh kesempatan untuk dikembangkan lebih lanjut. Itulah mengapa bagi saya Dilan 1990 terasa kurang menggigit sekalipun sulit disangkal bahwa film ini memang manis. Ketiadaan fluktuasi dalam jalinan pengisahan menjadikan film sempat berada dalam tahapan melelahkan utamanya begitu menginjak pertengahan durasi. 
Yang lantas menghindarkan film ini dari terperosok ke dalam jurang lebih dalam dan tetap terasa lezat untuk dinikmati disamping pengarahan dari duo sutradara yang bisa menjaga ritme penceritaan ialah performa jajaran pemainnya. Kredit terbesar tentu sudah sepatutnya disematkan kepada Iqbaal Ramadhan beserta Vanesha Prescilla yang bisa tampil meyakinkan sebagai pasangan menggemaskan berjulukan Dilan dan Milea. Iqbaal berhasil menandakan bahwa ia bukanlah pilihan yang keliru dalam melakonkan sang panglima tempur. Tengok saja gayanya yang tengil sedikit urakan, gombalan-gombalan yang kerap meluncur begitu saja dari mulutnya, sorot mata tajamnya, dan interaksinya bersama Vanesha yang kadang kikuk. Penonton pria sampaumur akan terinspirasi, sedangkan penonton wanita akan dibuatnya berulang kali salah tingkah. Ya, salah tingkah menyerupai Vanesha Prescilla tiap kali berada di sisi Iqbaal. Di tangan aktris pendatang gres ini, sosok Milea terasa sangat hidup. Sikapnya yang malu-malu kucing, kepolosannya, serta auranya yang menenangkan. Dia menunjukkan alasan mengapa Milea bisa diperebutkan oleh banyak laki-laki. Chemistry yang dirangkainya bersama Iqbaal berada dalam level sangat baik sehingga penonton pun sanggup meyakini bahwa mereka berdua ialah muda-mudi yang tengah dimabuk cinta.

Acceptable (3/5)