July 2, 2020

Review : Dilan 1991


“Kalau saya jadi presiden yang harus mengasihi seluruh rakyatnya, maaf saya niscaya tidak bisa. Karena saya cuma mengasihi Milea.”

Siapa sih yang tidak mengetahui pasangan fiktif Dilan dan Milea dari film bertajuk Dilan 1990 (2018)? Terlepas dari kau menyukainya atau tidak menggemarinya, rasa-rasanya sulit untuk menyangkal bahwa dua sejoli ini merupakan fenomena tersendiri dalam perfilman tanah air. Mereka tak ubahnya Galih dan Ratna, atau Cinta dan Rangga, bagi generasi pemuja gawai. Ada alasan tersendiri mengapa film yang disadur dari novel laku manis bertajuk Dilan: Dia ialah Dilanku Tahun 1990 rekaan Pidi Baiq ini bisa mendatangkan 6 juta penonton untuk berduyun-duyun memenuhi gedung bioskop. Bukan hanya alasannya materi sumbernya telah membentuk basis penggemar yang loyal, tetapi juga alasannya rayu-rayuan si abjad tituler kepada Milea bisa meluluhkan hati banyak wanita dari aneka macam lapisan usia maupun tingkatan sosial (!). Bagi wanita muda, cara Dilan merayu dianggap merepresentasikan korelasi asmara yang ideal. Sementara bagi wanita di tingkatan usia lebih dewasa, hal ini kerap dijadikan ajang nostalgia ke masa-masa berpacaran di Sekolah Menengan Atas yang manis. Ditunjang pula oleh penampilan berkarisma dari Iqbaal Ramadhan, wanita mana yang tidak klepek-klepek begitu mendengar sang panglima tempur melancarkan jurus ngegombalnya? Saya saja terkadang tersenyum-senyum gemas sekalipun menjumpai setumpuk kelemahan dari Dilan 1990 diluar faktor akting pemain yang memang merupakan kekuatan utama film. Satu hal yang paling mengusik diri ini selama menontonnya ialah ketiadaan konflik yang kuat untuk menopang narasi sehingga tak jarang film menjadikan rasa jenuh.

Selama durasi mengalun, saya hanya menyimak sepasang merpati saling bercumbu rayu ditengah-tengah plot yang nyaris kosong. “Apa yang ingin disampaikan oleh film ini melalui kisah kasih Dilan (Iqbaal Ramadhan) dengan Milea (Vanesha Prescilla)?” ialah satu pertanyaan yang saya lontarkan seusai menyaksikannya. Mendengar keluhan saya, seorang mitra baik pun menyahut, “tenang saja, kau bakal mendapati konflik di buku kedua kok,” yang seketika menciptakan antisipasi terhadap Dilan 1991 tetap berada dalam posisi tinggi. Dan benar saja, ada problematika yang mencuat di jilid kedua terkait korelasi percintaan Dilan dan Milea yang gres seumur jagung. Penyebab utamanya ialah Milea yang dirundung rasa khawatir karena nyawa kekasihnya akan terus terancam apabila Dilan kekeuh mempertahankan posisinya sebagai anggota geng motor. Terlebih lagi, sekelompok orang tak dikenal pernah menyerang Dilan tatkala beliau sedang bersantai di warung langganannya. Bukankah itu amat mengerikan? Makara wajar-wajar saja bila kemudian Milea merajuk kemudian meminta Dilan untuk menghentikan kegiatan sampingannya ini. Dia sudah didepak dari sekolah jawaban berantem, beliau sudah babak belur alasannya diserang suatu oknum, dan Milea tidak ingin Dilan menanggung konsekuensi lebih besar karena menentukan untuk membalas dendam kepada mereka yang telah melukainya. Sayangnya, kekhawatiran Milea yang berujung pada larangan justru diabaikan begitu saja oleh Dilan sehingga korelasi mereka yang mulanya manis-manis saja seketika berkembang menjadi masam. Kehadiran Yugo (Jerome Kurnia), anak dari sepupu jauh ayah Milea, pun kian memperkeruh keadaan.


Mereka yang menggilai film pertama alasannya kandungan dialog-dialog gombalnya yang melimpah, bisa jadi bakal mendengus kecewa apabila mengharapkan film kelanjutannya ini akan mengaplikasikan formula senada seirama. Memang benar kau masih akan menjumpainya di 15 menit pertama – dimana film melanjutkan penceritaan sempurna seusai linimasa di penghujung Dilan 1990 – yang menampilkan kemesraan Dilan dengan Milea pasca mereka meresmikan korelasi mereka. Ada adegan naik motor dibawah guyuran air hujan, adegan berciuman memakai tangan sebagai pengganti bibir, hingga adegan melepas rindu melalui ujung telepon masing-masing. Tapi tak menyerupai ‘sang kakak’ yang memunculkannya di sepanjang durasi mengingat fokusnya ialah proses pedekate Dilan kepada Milea, Dilan 1991 mereduksinya secara perlahan terhitung sedari Dilan menjadi korban pengeroyokan dan sang pujaan hati menyuarakan keberatannya mengenai keputusan Dilan untuk bertahan di geng motor. Ini bisa dipahami karena fokus film beralih ke masa berpacaran yang tak selamanya berbunga-bunga. Persoalan yang mulanya tak mempunyai impak signifikan pada pergerakan kisah, sekali ini sanggup kuat besar alasannya Dilan tak lagi sendiri. Satu tonjokan yang mendarat ke mukanya atau satu harapan untuk menyerang balik ke geng seberang bisa memicu konflik dengan pasangannya. Milea yang sebelumnya terlihat pasif sebagai abjad sentral dan sebatas diperlihatkan menyerupai gadis yang kesengsem bad boy, akibatnya diberi kesempatan untuk mengatakan sikapnya. Dia mengetahui apa yang dimauinya dari hubungannya dengan Dilan.

Dibandingkan dengan sang predesesor, Dilan 1991 jelas berada di tingkatan yang lebih unggul. Terdeteksinya konflik menciptakan Dilan 1991 terasa lebih mempunyai pergerakan, terasa lebih menggigit, dan terasa lebih emosional. Durasi yang merentang sepanjang 121 menit memang agak kepanjangan – bisa dipadatkan sekitar 10 menit utamanya di babak ketiga yang cenderung berlarut-larut – tapi paling tidak, film isyarat Fajar Bustomi beserta Pidi Baiq ini mempunyai sesuatu untuk disampaikan wacana toxic relationship yang dipicu oleh ego, nafsu, hingga terbatasnya ruang komunikasi. Menariknya, ini tak melulu bersumber dari dua abjad utama tetapi juga karakter-karakter pendukung semacam Yugo, Kang Adi (Refal Hady), serta guru Bahasa Indonesia berpikiran kotor, Pak Dedi (Ence Bagus), yang kesemuanya menginginkan timbal balik dari kekerabatan mereka dengan Milea. Perempuan polos ini menolak untuk menyerahkan cintanya kepada para lelaki berbahaya nan manipulatif ini seraya tetap berharap kekasihnya akan takluk pada keinginannya tanpa pernah menyadari bahwa korelasi yang terjalin diantara mereka pun sejatinya telah bertumbuh ke arah tidak sehat. Dilan menolak kebebasannya dikekang, sedangkan Milea berharap sang penggalan jiwa akan berkembang menjadi lelaki baik-baik yang taat aturan. Untuk sesaat, penonton mungkin mengira pilihan Dilan ini terkesan egois dan kekanak-kanakkan alasannya enggan mengikuti kemauan Milea untuk berubah ke arah positif. Namun satu hal yang perlu diingat, narasi ini dituturkan memakai perspektif Milea yang terbatas alih-alih serba tahu sehingga kita gres bisa memahami konflik ini secara utuh selepas menyaksikan jilid ketiga berjudul Milea yang direncanakan rilis di bioskop pada tahun depan. Kita bahkan belum diajak memafhumi motivasi Dilan yang sebegitu ngototnya untuk bertahan di geng motor.


Berhubung si pembuat film akan menyodorkan jawabannya di instalmen berikutnya, saya pun tak ambil pusing. Toh Dilan 1991 terhitung bisa untuk tersaji sebagai tontonan percintaan yang cukup memuaskan. Memang ada kalanya laju penceritaan terasa tersendat-sendat dan tata artistiknya pun masih gagap dalam menguarkan latar waktu secara meyakinkan jawaban product placement kelewat ngeyel (ehem, Loop dan Sari Roti belum ada di tahun 1991 yaaa), tapi Dilan 1991 tentu bukan berada di kelas sinetron menyerupai kerap dituduhkan oleh netizen banyaomong berkat performa jajaran para pemain yang mengesankan. Iqbaal Ramadhan tampak sudah nyaman dengan tugas yang dimainkannya, begitu pula dengan Vanesha Prescilla yang sekali lagi menandakan bahwa beliau ialah masa depan perfilman Indonesia. Keduanya mengatakan transisi meyakinkan dari mula-mula terlihat menyerupai sepasang kekasih yang dimabuk asmara, kemudian perlahan merenggang, hingga kemudian tampak bagaikan dua orang aneh yang sebelumnya tak pernah mempunyai ikatan antara satu dengan lain. Dari transisi akting ini, penonton sanggup mencicipi adanya perubahan emosi dalam jiwa Dilan-Milea yang meliputi kebahagiaan, kesedihan, kesepian, hingga ketidakrelaan. Beragam emosi yang juga sempat saya rasakan selama menonton Dilan 1991.

Note : Dilan 1991 mempunyai adegan bonus yang terletak di penghujung end credit. Makara bertahanlah hingga film benar-benar tuntas.

Exceeds Expectations (3,5/5)