October 20, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Django Unchained


“Django. The D is silent.” – Django

Setelah pengulitan kepala, kebakaran bioskop yang meneror, dan Hitler yang dibunuh lebih dini, kegilaan macam apalagi yang akan hadir dalam film terbaru Quentin Tarantino, Django Unchained? Tentunya, akan tetap ada kesintingan, dan umumnya, akan semakin bertambah parah dari film ke film. Hanya dengan memeriksa premis – atau lebih panjang lagi, sinopsis – kita telah mengetahui bahwa sutradara dengan IQ mencapai 160 ini masih belum akan ‘bertobat’ dan segera membawa kita ke dunianya yang unik serta sarat akan darah dan kekerasan. Bukan sebuah diam-diam lagi kalau Quentin Tarantino – atau kita panggil saja, QT – sangat menggemari cult movie, B-movie, serta tentunya spaghetti western. Inilah yang kerap kali menjadi sumber ide di setiap karyanya. Dalam Django Unchained, sesudah sebelumnya berlatih terlebih dahulu dalam Inglourious Basterds, sutradara penghasil Pulp Fiction dan dwilogi Kill Bill ini jadinya resmi menapaki genre western. Tentu bukan QT namanya kalau ‘bermain aman’ atau hanya sekadar mengikuti elemen yang telah ditetapkan sebelumnya, banyak sekali bumbu-bumbu yang menyentak pun ditambahkan guna menambah cita rasa karyanya. Untuk sekali ini, spaghetti western dikawinkan dengan blaxploitation dalam sebuah kisah koboi yang berlangsung di selatan dengan latar masa perbudakan di Amerika. Nah lho! 

Memulai kisah di sebuah kawasan di Texas pada tahun 1858, penonton segera diperkenalkan kepada Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Kala ditanya mengenai profesi dijalaninya, Dr. Schultz akan senantiasa menjawab bahwa beliau yakni seorang dokter gigi – ini sekaligus diperkuat hiasan gigi di atas kereta kuda miliknya. Tapi pada kenyataannya, beliau telah ‘pensiun dini’ dan menetapkan untuk beralih profesi sebagai bounty hunter (pemburu bayaran) dengan iming-iming bayaran yang menggiurkan. Demi mencapai sasaran berikutnya yang sama sekali tidak beliau ketahui bagaimana tampilan fisiknya, Dr. Schultz meminta dukungan Django. Sebelumnya, beliau terlebih dahulu membeli Django dan melepas status budak yang disandangnya. Seiring berjalannya waktu, korelasi diantara mereka berdua pun semakin bersahabat sampai Dr. Schultz mengangkat Django sebagai rekanannya dalam berburu. Pun demikian, sejatinya Django mempunyai misi lain, yakni menemukan istrinya yang terpisah darinya, Broomhilda von Shaft (Kerry Washington). Dalam upayanya untuk membalas kecerdikan karena telah banyak mendapatkan bantuan, Schultz bersedia untuk menolong Django merebut kembali sang istri yang ketika ini dimiliki oleh seorang tuan tanah kejam yang terobsesi dengan pertarungan ‘Mandingo’, Calvin Candie (Leonardo DiCaprio). 
Apakah ini yakni semua hidangan yang lezat? Oh dear, percayalah, Django Unchained yakni sebuah mahakarya lainnya dari seorang Quentin Tarantino. Meski materi dasar serta tampilan luarnya seolah mengisyaratkan bahwa ini yakni sajian ‘kaki lima’ yang sederhana, tapi di bawah penanganan koki QT, sebuah kesederhanaan bisa disulap menjadi sebuah keistimewaan. Tidak ada yang biasa-biasa saja ketika sebuah ide dongeng keluar dari kepalanya untuk kemudian dituangkan ke dalam bentuk skrip dan diwujudkan dalam bahasa gambar. Coba saja Anda bayangkan, spaghetti western dikombinasikan dengan blaxploitation untuk sebuah kisah koboi yang berlatar d selatan pada masa perbudakan? Huh? Seorang koboi berkulit hitam berpasangan dengan seorang pembunuh asal Jerman? Double Huh? Ini akan menjadi sesuatu yang dipergunjingkan serta penuh dengan cibiran apabila ditangani oleh sutradara lain, namun di bawah aba-aba seorang maestro jenius macam QT? Ini terperinci sesuatu yang patut dinanti-nantikan. Menjadi semakin menarik ketika sahabat kental Robert Rodriguez ini menuturkan bahwa salah satu sumber inspirasinya untuk film ini yakni Django (1966) garapan Sergio Corbucci. Bahkan, sang pemain film Django, Franco Nero, turut tampil cameo. 

Django Unchained tentu bukanlah sebuah film western biasa – atau mungkin lebih cocok disebut southern – terlebih dengan adanya plot mengenai perbudakan dan balas dendam di dalamnya. Durasi yang membentang panjang sampai 165 menit pun bukanlah sesuatu yang patut dirisaukan. QT is a master storyteller. Tidak sekalipun ditemukan momen-momen menjemukan yang sanggup mengakibatkan rasa kantuk yang teramat dahsyat. Justru, di balik tema utama yang mengesankan bahwa ini yakni sebuah film yang susah untuk dicerna, Django Unchained hadir sebagai sebuah sajian yang sangat menghibur. Perjalanan yang berlangsung nyaris mencapai 3 jam sama sekali tidak terasa. Dalam jalinan penceritaan yang sejatinya serba kelam dan mengiris hati, disisipi humor cerdas menggelitik – meski tetap gelap – serta sebuah presentasi yang sangat khas sang sutradara. Kadangkala, kejutan, yang sekalipun terkadang tidak penting, turut dimunculkan demi menjaga mood penonton. Salah satu contoh, dan teramat aku sukai, yakni sebuah keributan tidak penting menjelang penyergapan terhadap Django dan Schultz di malam hari. Perhatikan apa yang mereka permasalahkan, sungguh menggelikan. 
Mengingat ini yakni karya dari QT, maka tentu saja darah dan kekerasan dihentikan terlupakan. Itu yakni materi dasar terpenting yang haram hukumnya untuk disingkirkan begitu saja. Segala bentuk penyiksaan yang sebelumnya menghantui di Inglourious Basterds, kembali muncul di sini. Untuk sekali ini, tentu saja, yang menjadi korban yakni para budak. Kita melihat mereka dicambuk, dipasung, dilempar ke dalam sebuah kotak, ditandingkan dalam ‘Mandingo Fight’ yang keras nan brutal sampai dijadikan bulan-bulanan anjing. Memang segalanya tidak pernah ditampilkan secara eksplisit, akan tetapi tetap terasa ngilu. Gelaran darah pun mewarnai film ini. Yang menarik, darah ditampilkan dengan cantik, bergaya, dan sangat artistik. Favorit aku yakni Schultz menembak salah satu buruannya sampai darah menciprati bunga-bunga kapas. Oh, itu bagus sekali! Dan sekalipun sebagai sebuah ‘film koboi’ tak banyak adegan tembak-tembakan yang dimunculkan, sekali lagi aku berkata, tak usah risau. Tarantino telah mengompilasinya menjadi sebuah titik puncak yang sama menggetarkannya dengan adegan kebakaran bioskop di film sebelumnya. Konfrontasi simpulan yang berlangsung di meja makan berakhir menjadi pertumpahan darah. Benar-benar menegangkan. 

Saya pun harus memuji departemen akting yang sangat luar biasa dan patut mendapatkan sebuah ‘applause’ yang meriah. Jamie Foxx sebagai Django memang tampil baik, akan tetapi bintang bekerjsama dari film ini justru tiba dari Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, dan Samuel L. Jackson. Khusus untuk Waltz memang tidak mengherankan mengingat tugas Dr. King Schultz ditulis oleh QT untuknya sehingga tiada kesulitan berarti dalam memerankannya. Schultz itu Waltz banget! Bagaikan versi protagonis dari Colonel Hans Landa. Sementara DiCaprio dan Jackson, astaga, aku benar-benar membenci mereka. Sangat disayangkan mereka sama sekali tidak mendapatkan cinta dari juri Oscar. Keduanya sanggup tampil sangat menjengkelkan sampai penonton pun berharap mereka segera menemui ajal, terlebih untuk Jackson sebagai Stephen, budak kepercayaan Calvin Candie, yang menyeramkan, mengesalkan namun juga kerap menghadirkan tawa. Jangan lupakan pula cameo dari sang sutradara – dikomentari oleh banyak sekali rekan saya, “agak gendutan ya si QT” – yang sangat epik. Caranya menghilang dari layar itu lho… tak terlupakan. 

Django Unchained yakni sebuah mahakarya lainnya dari seorang maestro berjulukan Quentin Tarantino. Jelas, ini sebuah film yang penting. Sebuah homage untuk ‘cult movie’ serta ‘spaghetti western’ yang sangat mengesankan. Sejak awal film melalui sebuah opening credit yang sangat norak khas film jadul, Django Unchained telah mencuri perhatian. Menaikkan tensi secara perlahan-lahan, QT berhasil menyajikan sebuah kisah yang berpotensi menjadi sensitif dan menyayat hati menjadi sebuah gelaran yang jenaka, menegangkan, berkelas, serta tentunya, menghibur. Durasinya yang membentang panjang sampai mencapai nyaris 3 jam tidak menjadi dilema karena, ya, QT sangat lihai dalam mengolah kisah sehingga tidak pernah terasa membosankan. Dengan gugusan tembang dari koleksi sang nahkoda kapal yang luar biasa sehingga menciptakan aku segera memburu album soundtrack-nya usai menonton film ini, tata sinematografi dari Robert Richardson yang sangat cantik, sampai tata kostum dan rias yang meyakinkan, memang sudah sepatutnya Django Unchained mendapatkan banjir kebanggaan dan penghargaan – serta uang – alasannya ya, memang sudah sepatutnya. Quentin Tarantino dengan segala ide gilanya memang tidak pernah gagal memuaskan saya.

Outstanding