July 4, 2020

Review : Doa – Doyok Otoy Ali Oncom: Cari Jodoh

“Jangankan bini, pacar aja lo belum punya.” 
“Gosipnya, lo kaga suka perempuan.” 
“Samber gledek. Aku ini pemilih.” 
“Pemilih yang kagak dipilih orang ya kagak jadi apa-apa juga.” 
Generasi muda jaman now, mungkin gres mengenal huruf tiga serangkai; Doyok, Otoy, dan Ali Oncom dari serial animasi bertajuk DOA (akronim dari tiga nama huruf utamanya) yang tayang di MNCTV semenjak beberapa bulan silam. Tapi bagi generasi yang lebih sepuh, mereka bertiga telah dikenal sedari dipublikasikan secara terpisah dalam kolom Lembergar (Lembaran Bergambar) di harian Pos Kota. Karakteristik ketiganya yang merepresentasikan sebagian warga ibukota negara, bisa disederhanakan sebagai berikut; Doyok yakni perantau dari Jawa dengan fatwa kritis serta hobi nyinyir, Otoy yang berasal dari Sunda kerap menjadi sasaran bulan-bulanan mertuanya yang galak, dan Ali Oncom yang anak Betawi orisinil seringkali berangan-angan mempunyai segudang uang. Meski tak berada di satu jalur pengisahan dalam komik stripnya, mereka lantas dipertemukan satu sama lain di serial animasi DOA yang kemudian berlanjut diejawantahkan ke versi live action dengan judul DOA (Doyok, Otoy, Ali Oncom): Cari Jodoh. Seperti tertera dalam subjudulnya, film yang disutradarai oleh Anggy Umbara (Comic 8, Insya Allah Sah! 2) ini menyoroti perihal sepak terjang ketiga huruf tituler dalam misi pencarian jodoh untuk Doyok (Fedi Nuril) yang masih betah melajang di usia memasuki kepala empat. 
Status Doyok sebagai bujangan ini menciptakan khawatir kedua sahabatnya, Otoy (Pandji Pragiwaksono) dan Ali Oncom (Dwi Sasono), yang masing-masing telah mempunyai pasangan. Otoy telah menikah dengan Elly (Nirina Zubir) yang dimanfaatkannya sebagai sumber penghasilan di kala beliau sibuk bermalas-malasan, sementara Ali Oncom gemar menarik hati janda-janda di kampung sekalipun telah menjalin relasi dengan Yuli (Jihane Almira). Kepribadian Doyok yang cenderung polos, kaku, dan bodoh menyulitkannya untuk mendekati wanita sehingga Otoy beserta Ali Oncom pun berinisiatif mencarikan jodoh untuk Doyok melalui situs perkencanan berjulukan Minder. Dari situs ini, Doyok berkesempatan untuk menjalani kencan dengan seorang wanita berjulukan Ayu (Laura Basuki). Menengok parasnya yang rupawan dan perilaku Ayu yang sangat erat terhadap Doyok, misi pencarian jodoh bagi sang sobat tampaknya telah berjalan sukses. Akan tetapi, ketika sebuah diam-diam mengerikan mengenai Ayu terungkap, Doyok, Otoy, beserta Ali Oncom pun tetapkan untuk melanjutkan pencarian. Sebuah pencarian yang lantas membawa Doyok pada pertemuan dengan seorang pegawai kecamatan berjulukan Suci (Titi Kamal). Keduanya terlihat saling jatuh hati satu sama lain, terlebih mereka dipersatukan oleh minat yang sama. Jika ada penghalang diantara mereka, maka itu yakni Pak Camat (Tarzan) yang juga menaruh hati kepada Suci. 


Sejujurnya, ada kalanya saya cukup bisa menikmati DOA: Cari Jodoh. Saat Anggy Umbara beserta Fico Fachriza yang bertanggung jawab dalam penulisan skrip bermain-main dengan humor membumi, pada ketika itulah derai tawa bisa meluncur dari mulut. Dalam catatan saya, beberapa guyonan yang bisa mengenai sasaran secara sempurna bersumber dari ribut-ribut kecil antara Elly yang banyak omong bukan main dengan Otoy yang enggan ngapa-ngapain, imajinasi Doyok beserta Otoy dalam membayangkan kehidupan bergelimangan harta, Ali Oncom yang menebar pesona (baca: gombalan) kepada janda kampung setempat, hingga kecanggungan Doyok ketika diperkenalkan kepada Suci untuk pertama kali. Rentetan momen ini terasa lucu, setidaknya bagi saya, karena mencerminkan keseharian masyarakat kelas bawah secara apa adanya tanpa dibuat-dibuat. Untuk sesaat – berkaca pula pada bahan sumbernya yang gemar melontarkan komentar sosial – saya menerka pendekatan semacam inilah yang akan diaplikasikan oleh Anggy dalam DOA: Cari Jodoh. Pendekatan yang sedikit banyak mengingatkan diri ini pada Get Married (2007) instruksi Hanung Bramantyo. Tapi ketika Anggy mencelupkan lebih banyak momen musikal yang kian repetitif seiring berjalannya waktu usai kejar-kejaran dibalik jemuran ala film India yang bekerjsama cukup lucu dan bermain-main dengan guyonan absurd yang melibatkan alat kelamin, pada ketika itulah saya menyadari bahwa Anggy enggan untuk mencelotehkan film ini di jalur membumi. 
DOA: Cari Jodoh tak bisa melepaskan diri dari ciri khas sang sutradara yang melibatkan kata bombastis yang untuk sekali ini terasa salah tempat. Memasuki babak kedua yang semakin menjauh dari semangat merakyat yang diperkenalkan di belasan menit awal, kelucuan beserta daya cengkramnya perlahan mulai mengendur. Saya jadinya benar-benar kesulitan untuk mengikuti film ini terhitung semenjak munculnya adegan mengenai lomba debat tingkat kecamatan yang menghadirkan cameo dari Anggy sebagai Manoj Punjabi (sang produser) dan sabung argumen digantikan oleh sabung rap. Level absurditasnya semakin tak terkontrol dan DOA: Cari Jodoh secara resmi telah keluar dari jalurnya begitu menapaki titik puncak yang seolah berasal dari film berbeda. Pada akhirnya, saya pun mendeteksi adanya kekecewaan besar yang menggelayuti diri ketika melihat momen puncak dari film alasannya yakni potensi DOA: Cari Jodoh sudah disia-siakan begitu saja. Padahal pemain ansambelnya telah menunjukkan performa maksimal (khususnya Dwi Sasono dengan tawa khasnya, Nirina Zubir dengan keceriwisannya, Laura Basuki dengan kesediannya tampil memalukan, serta Titi Kamal dengan gerak bibir uniknya), dan bahan penceritaannya memungkinkan untuk dikembangkan sebagai komedi satir yang menggelitik. Seandainya saja film tetap setia berada di jalur ibarat dilewatinya pada babak pertama, bukan mustahil DOA: Cari Jodoh akan tersaji lebih memikat.

Acceptable (2,5/5)