July 5, 2020

Review : Doctor Sleep


“When I was a kid, there was a place, a dark place. They closed it down, and let it rot. But the things that live there, they come back.”

Sebagai seseorang yang menggemari genre horor, saya sangat menyukai The Shining (1980). Bagi saya, film garapan Stanley Kubrick tersebut terhitung layak untuk berdiri tegak pada posisi puncak dalam daftar “film horor paling menakutkan yang pernah dibuat sepanjang masa”. Memang betul Stephen King sebagai pereka versi novelnya mengaku kurang sreg dengan interpretasi Kubrick. Alasannya, sang sutradara terlampau banyak melaksanakan improvisasi sehingga menciptakan versi layar lebarnya lebih layak disebut “terinspirasi” ketimbang “adaptasi” dari buku milik King. Akan tetapi, kalau kita bersedia meniadakan komparasi dan semata-mata memandangnya sebagai sajian seram, The Shining berhasil. Secara perlahan tapi pasti, film akan “menelanmu” hidup-hidup melalui kombinasi narasi, akting, serta trik menakut-nakuti yang ciamik. Ada banyak adegan ikonik di sini (seperti bocah kembar, banjir darah, hingga “here’s Johnny!”) yang masih membekas hingga sekarang, dan sempat pula beberapa kali bergentayangan dalam mimpi sesaat sehabis menontonnya. Hiii… Menilik legacy cukup jago yang ditinggalkan olehnya, saya terang sempat dirundung keraguan begitu mendengar adanya perihal sekuel berdasar novel kelanjutan bertajuk Doctor Sleep yang masih ditulis oleh King dan dirilis pada tahun 2013 silam. Yang kemudian menciptakan saya optimis yaitu faktor sutradara. Sebagai pengganti Kubrick, pihak Warner Bros memercayakan ekranisasi novel ini untuk ditangani oleh Mike Flanagan. Seorang sutradara dengan jejak rekam gilang gemilang yang filmografinya meliputi serial menakutkan bertajuk The Haunting of Hill House (2018) dan beberapa film horor kece semacam Oculus (2013), Hush (2016), serta Gerald’s Game (2017) yang juga disadur dari prosa gubahan King. Terdengar menjanjikan, bukan?

Guliran penceritaan Doctor Sleep sendiri dimulai pada tahun 1980 selepas bencana di Hotel Overlook yang menewaskan Jack Torrance. Guna melanjutkan hidup, istri Jack, Wendy (Alex Essoe), pun tetapkan untuk pindah ke Florida bersama putra semata wayangnya, Danny (Roger Dale Floyd). Tanpa sepengetahuan Wendy, Danny mengalami stress berat atas rentetan bencana yang terjadi di Hotel Overlook. Kemampuan supranatural (disebut sebagai “shining”) yang dipunyainya memungkinkan ia untuk senantiasa dikunjungi oleh lelembut keji dari hotel tersebut. Satu-satunya penolong bagi sang bocah yaitu arwah dari Dick Hallorann (Carl Lumbly) yang mengajarinya dalam memperlihatkan perlawanan dikala si hantu tiba meneror. Mengetahui cara bertahan dari serangan dan memiliki mentor ibarat Dick nyatanya tak menjamin Danny (saat remaja diperankan oleh Ewan McGregor) sanggup hidup tenang sentosa. Protagonis kita yang lantas menentukan untuk dipanggil Dan ini rupanya mengalami stress berat berkepanjangan yang menjerumuskannya ke alkohol yang dimanfaatkannya untuk menekan shining. Hidup penuh ketidakpastian selama bertahun-tahun sebagai alkoholik, Dan jadinya nekat mengambil satu tindakan dengan berpindah ke suatu kota kecil dimana ia mencoba untuk sembuh. Perkenalannya dengan Billy (Cliff Curtis) yang mengajaknya mengikuti Alcohol Anonymous – organisasi mantan pecandu alkohol – menciptakan hidupnya berangsur-angsur berubah. Saat Dan menerka ini yaitu jalan yang dibutuhkannya untuk berdamai dengan trauma, takdir justru mempertemukannya dengan gadis berusia 13 tahun yang juga dikaruniai shining, Abra (Kyliegh Curran). Kepada Dan, Abra meminta pertolongan untuk diselamatkan dari incaran Rose the Hat (Rebecca Ferguson) beserta kelompoknya yang memburu orang-orang dengan kemampuan khusus ini guna “disantap” hidup-hidup.


Selaiknya sang predesesor, Doctor Sleep pun tak bergegas dalam mengutarakan narasinya. Usai adegan pembuka menghentak yang menghadapkan Danny cilik pada musuh besarnya dan True Knot – kelompok bentukan Rosie – memanipulasi seorang bocah polos, film menurunkan intensitasnya. Tujuan Flanagan yaitu mengajak penonton berkenalan secara intim dengan jajaran huruf utamanya yang terbagi ke dalam tiga poros: 1) Dan yang berupaya untuk menaklukkan sisi gelapnya dengan bergabung bersama satu komunitas dan memulai hidup gres di satu kota kecil, 2) Abra yang pencarian jati dirinya menghadapkan ia pada marabahaya, dan 3) Rosie yang berusaha untuk melacak keberadaan Abra yang dinilainya memiliki kekuatan diatas rata-rata. Selama kurang lebih 30 menit, narasi berpindah-pindah dari satu titik ke titik lain yang sempat menciptakan diri ini terusik sehingga melontarkan satu tanya, “selain Dan, siapa bergotong-royong karakter-karakter ini? Adakah urgensinya pada penceritaan?”. Mesti diakui, babak introduksi yang diterapkannya memang cukup menguji kesabaran. Jika kemudian ada penonton yang melontarkan keluhan karena jenuh atau mengantuk, saya sama sekali tidak heran. Tapi selepas menit-menit pelan yang ditujukan untuk memberi kita pemahaman mengenai latar belakang para huruf (dalam tempo yang agak terlalu panjang), Doctor Sleep secara perlahan mulai memperlihatkan taringnya terhitung sedari berlangsungnya satu adegan pembunuhan yang benar-benar mengusik kenyamanan. True Knot menghabisi satu bocah dengan kemampuan shining (Jacob Tremblay) yang jejaknya tanpa sengaja terendus oleh Abra. Pada titik ini, saya mulai memahami keterkaitan dari tiga dongeng yang tadinya terkesan berdiri secara acak dan tidak memiliki kekerabatan antar satu dengan yang lain.

Pertautan tiga poros narasi ini dibarengi dengan daya cekam yang turut mengalami eskalasi. Berbeda dengan pendekatan Kubrick yang cukup sering mendayagunakan jumpscares untuk memantik ketakutan ditengah-tengah suasana serba sunyi, Flanagan mengarahkan Doctor Sleep cenderung ke ranah laga kolam tontonan superhero dimana agresi kerap dijumpai. Tidak hingga eksplosif berdentum-dentum, tentu saja, tapi kita bisa melihat adanya pertarungan berkelahi kekuatan antara dua-tiga huruf dengan tampilan visual cukup imajinatif dan membangkitkan gairah. Satu momen paling membekas dalam film yaitu ketika Rosie lantas memanfaatkan kelebihannya untuk “menyambangi” lokasi Abra tanpa pernah menyadari bahwa si bocah telah menyiapkan perangkap. Saya terkesan pada penggambaran perjalanan yang dilalui oleh Rosie, saya bersemangat dalam menanti duel dua huruf ini, dan saya juga merasa ngeri kala melihat apa yang bisa diperbuat oleh Abra. Ngeri? Ya, meski Flanagan membawa Doctor Sleep ke arah yang lebih gegap gempita, elemen horor sama sekali tidak memudar di sini. Kengerian yang dihembuskan oleh film bersumber dari atmosfer bernada muram, tindakan True Knot dalam menyedot “uap” dari para pemilik shining yang didahului dengan siksaan keji, sederet rujukan ke film pertama (tonton The Shining dulu untuk bisa mendapat ikatan emosinya), serta sosok Rosie the Hat yang tidak segan-segan untuk berbuat apapun guna memenuhi ambisinya. Dimainkan dengan sangat cemerlang oleh Rebecca Ferguson, kehadiran Rosie senantiasa membawa diri ini pada rasa tidak nyaman dan kecurigaan. Ada jiwa bengis dibalik rupa anggun dan ramah yang ditunjukkannya ke publik. Dia memang sempat kewalahan dalam menghalau kekuatan Abra, tapi bukankah itu malah menjadikannya sebagai villain yang semakin sulit diterka? Siapa tahu apa yang dipersiapkannya untuk membalas dendam.


Disamping Ferguson, Doctor Sleep turut berjaya berkat sokongan akting apik dari Ewan McGregor dan pendatang gres Kyliegh Curran. Karakter Dan dilakonkan secara simpatik oleh McGregor yang merangkul penonton untuk menemani perjalanan spiritualnya dalam menemukan kedamaian diri dan closure atas problematika hidupnya. Chemistry yang dibentuknya bersama Curran pun memunculkan kesan meyakinkan lebih dari sekadar kekerabatan mentor bersama anak didiknya. Terdeteksi pula, korelasi dua insan terbuang yang saling memahami satu sama lain. Tanpa disanding McGregor, Curran juga tampil besar lengan berkuasa sebagai Abra yang ternyata tidak digambarkan sebatas “korban lemah tanpa daya”. Ada perlawanan, ada tekad bulat, dan pada jadinya ada penerimaan yang membawa kita pada sebuah konklusi menghangatkan hati.
  

Outstanding (4/5)