October 17, 2020

Review : Doctor Strange


“You think you know how the world works. You think this material universe is all there is. What if I told you the reality you know is one of many?” 

Dengan pustaka film kepunyaan Marvel Studios telah mempunyai sejumlah koleksi terhitung sangat impresif semacam Iron Man 2, Captain America: Winter Soldier, hingga The Avengers, sejatinya sudah cukup sulit membayangkan langkah apa selanjutnya yang bakal mereka tempuh guna mempertahankan posisi sebagai penghasil penyesuaian film komik terkemuka di dunia ketika ini. Di kala pesimistis mulai mengusik, serentetan kejutan satu demi satu menyeruak berwujud Guardians of the Galaxy yang berjasa mempopulerkan kembali tembang-tembang dari kala 60-70’an, Ant-Man mencuplik elemen heist movie, hingga paling anyar, Doctor Strange, yang menguatkan kembali keyakinan bahwa studio ini tidak akan menciptakan film buruk… setidaknya dalam waktu dekat. Tajuk utama dari film keempat belas dalam rangkaian Marvel Cinematic Universe ini sendiri telah berteriak cukup lantang untuk menggambarkan menyerupai apa tontonan yang bakal kita dikonsumsi, yaitu strange (aneh) – meski kata “strange” disini merujuk pada nama belakang si abjad utama, bukan berfungsi sebagai kata sifat. Akan terdengar cenderung hiperbolis memang menyebut Doctor Strange sebagai sebuah “the strangest mainstream movie I’ve ever seen!”, tapi memang begitulah adanya. Mendobrak segala batasan-batasan yang ada, film kode Scott Derrickson ini membawamu menjelajahi dunia imajinasi yang boleh jadi tak pernah kau bayangkan akan bisa dicicipi di film superhero sebelumnya. 

Sebagai sebuah origin story, Doctor Strange memang tidak membawa banyak pembaharuan dari sektor plot. Polanya serupa tapi tak sama dengan film-film Marvel Studios terdahulu, utamanya Iron Man, mengingat abjad Dokter Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) yaitu seorang jenius kaya nan angkuh menyerupai halnya Tony Stark. Arogansi Strange terbentuk karena beliau mempunyai kecerdasan diatas rata-rata yang berkontribusi dalam melesatkan karirnya menjadi salah satu dokter seorang hebat bedah syaraf paling berpengaruh. Akan tetapi, segala kesempurnaan dalam hidup Strange seketika terenggut ketika kedua tangannya tidak bisa lagi berfungsi secara semestinya pasca beliau mengalami kecelakaan kendaraan beroda empat hebat. Jangankan untuk berakrobatik di ruang operasi, sekadar mencukur jambang saja kesulitan bukan main. Berbulan-bulan memburu santunan dari dunia medis modern guna memulihkan tangannya namun tak satupun membawa hasil, pencarian Strange lantas membawanya ke Nepal sehabis memperoleh informasi dari mantan penderita paraplegia (kelumpuhan syaraf di bab bawah tubuh) yang sekarang telah bisa berjalan. Konon di sebuah kawasan berjulukan Kamar-Taj, tersimpan keajaiban dan kekuatan sulit terjabarkan yang memungkinkan para penghuninya menembus dimensi ruang serta waktu. Terbiasa memakai nalar sebagai solusi, nalar berpikir Strange pun terusik hingga kemudian pemilik kawasan keramat tersebut, The Ancient One (Tilda Swinton), menunjukkan apa yang bisa diperbuatnya apabila beliau bisa menguasai ilmu-ilmu mistis. 
Doctor Strange itu aneh, memang benar. Tapi bukan aneh dalam makna peyorasi, melainkan justru sebaliknya dimana kau akan disuguhi pertunjukkan visual sinting yang akan membuatmu mengucap syukur alasannya yaitu teknologi telah berkembang pesat cukup umur ini. Tidak sekadar ingin pamer kecanggihan imbas khusus buat gaya-gayaan kepada penonton – tanpa ada sedikitpun signifikansi terhadap pergerakan plot film itu sendiri menyerupai sering dilakukan oleh lebih banyak didominasi film blockbuster – penerapan keajaiban teknologi dalam Doctor Strange dilakukan sebagai medium buat bercerita. Ada kebutuhan mendesak dibaliknya yaitu demi memvisualisasikan konsep dimensi lain (seperti Dimensi Cermin), keberadaan multisemesta, serta unsur magis yang bisa digapai dari pembelajaran soal mystic arts menyerupai dimaui sang kreator, Steve Ditko. Mendeskripsikan menyerupai apa kreativitas visualisasinya dalam bentuk untaian kata-kata tidak juga gampang sehingga penggunaan acuan film Inception kode Christopher Nolan pun tak terelakkan. Ini berlaku untuk Dimensi Cermin dengan gravitasi jungkir balik, bangunan-bangunan pencakar langit yang terlipat-lipat kolam kertas origami, hingga pergantian tanpa henti struktur kota. Sedangkan ketika jiwa raga Strange diboyong The Ancient One menjelajahi dimensi lain, Scott Derrickson mengaplikasikan visual bergaya psychedelic yang akan turut memberimu ketakjuban sekaligus kecemasan di ketika bersamaan hasil dari rasa sangat mengganggu yang ditimbulkan oleh visual tersebut. 

Unggul banyak dari sisi tampilan, Doctor Strange tidak kemudian berakhir sebagai tontonan style over substance. Walau plotnya kagak istimewa-istimewa amat – keluhan terbesar yaitu polanya seirama dengan beberapa film Marvel sebelum ini – Scott Derrickson dan penulis skenario C. Robert Cargill tetap mampu membentuk guliran pengisahan yang renyah buat dikudap serta gampang dinikmati. Hentakan telah dimulai sedari menit pertama ketika The Ancient One memburu mantan muridnya yang membelot, Kaecilius (Mads Mikkelsen), dalam sebuah adegan kejar mengejar penuh energi dengan sebelumnya penonton terlebih dahulu diberi pemandangan mengejutkan terkait pemenggalan kepala (seriously, didn’t see that one coming!). Nada film yang terbentuk agam suram di permulaan lantas berlanjut, menggelayuti hari-hari Strange usai kecelakaan mencederai parah kedua tangannya. Mencapai titik ini sempat muncul tanda tanya besar apakah Marvel Studios mencoba merevolusi cara bertutur mereka melalui tone yang lebih kelam, hingga si titular character menjejakkan kaki di Kathmandu, Nepal, dan diantar Karl Mordo (Chiwetel Ejiofor) menuju Kamar-Taj dimana humor-humor one-liner pemicu gelak tawa mulai berhamburan satu demi satu mencerahkan suasana. Alih-alih mendistraksi, pembubuhannya mulus menyatu bersama plot dan turut mengeskalasi level excitement dari film. 

Tentu, salah satu kunci keberhasilan dari tersampaikannya serentetan kelakar lucu yaitu performa jitu para pelakonnya terutama Benedict Cumberbatch yang kiprahnya disini sedikit banyak mengingatkan pada Sherlock. Ya, kejelian dalam kasting pemain merupakan satu dari sejumlah keunggulan utama yang dipunyai Marvel Studios. Doctor Strange bisa jadi tidak akan sememikat ini apabila tidak memperoleh sokongan mengagumkan dari ensemble cast-nya yang kompak bermain bagus. Benedict Cumberbatch, sang punggawa departemen akting, menyuntikkan jiwa bagi sosok Strange. Terkadang beliau sungguh menyebalkan sampai-sampai kita berharap tidak mempunyai rekan kerja menyerupai dia, terkadang beliau memberi keceriaan di tengah-tengah suasana serba kaku maupun tegang melalui celetukan-celetukan konyolnya, terkadang beliau tampak cerdas nan berwibawa sehingga kita memahami mengapa The Ancient One memberi kepercayaan besar padanya, dan terkadang pula beliau terlihat sebagai sosok ringkih yang membutuhkan pelukan hangat dari kita. Kepiawaian Cumberbatch berolah-alih mempermainkan rasa sesuai kebutuhan menciptakan penonton tidak kesulitan untuk menginvestasikan emosi. Begitu pula Tilda Swinton yang karismatik (salah satu momen terbaiknya ada di adegan balkon), Chiwetel Ejiofor yang sikapnya dipenuhi ambiguitas, Mads Mikkelsen yang menguarkan aroma mengancam, Benedict Wong sebagai pustakawan Kamar-Taj senantiasa mencuri perhatian di setiap kemunculannya, dan Rachel McAdams dengan jatah tampil terbatas sebagai rekan kerja Strange berkontribusi memaksimalkan akting Cumberbatch tiap kali keduanya bersinggungan. Mereka yaitu senjata bagi Doctor Strange untuk memenuhi potensinya disamping hamparan visual mengagumkan beserta penuturan mengasyikkan.

Outstanding (4/5)

Note : Dua adegan bonus terselip masing-masing di pertengahan dan penghujung credit title. Sebaiknya bertahanlah hingga film benar-benar habis alasannya yaitu keduanya teramat sayang buat dilewatkan.