October 21, 2020

Review : Don’t Breathe


Cenderung kesulitan menjumpai film horor yang terpatri besar lengan berkuasa di ingatan tahun lalu, eh tidak dinyana-nyana pecinta genre ini dimanjakan sekali di 2016 dengan bertebarannya film angker berkesan mendalam. Hampir setiap bulan terwakili oleh satu judul film – kebanyakan diantaranya enggan menyambangi bioskop tanah air kecuali The Conjuring 2 beserta Lights Out – dan khusus bulan Agustus, menghadirkan Don’t Breathe instruksi Fede Alvarez yang sebelumnya memberi kita ‘pesta darah’ kala mengkreasi ulang The Evil Dead. Bertolak belakang dengan debut film panjangnya, Don’t Breathe tidak meneror penonton lewat kekerasan berlevel tinggi yang memerahkan layar sekaligus bikin ngilu melainkan nuansa klaustrofobik sangat mengganggu bertabur ketegangan yang mengalami eskalasi di setiap menitnya. Ya, daya cekam hebat yaitu kunci utama dari keberhasilan Don’t Breathe. Saking hebatnya, saya bahkan cukup berani untuk mencalonkan Don’t Breathe sebagai kandidat utama film horor terbaik sepanjang tahun 2016. 

Guna menggerakkan film, Fede Alvarez mula-mula menautkan kita kepada tiga serangkai yang terdiri dari Rocky (Jane Levy), Alex (Dylan Minnette), dan Money (Daniel Zovatto). Ketiganya yaitu pelaku tindak kriminal kelas teri yang sehari-harinya membobol rumah seorang kaya demi ‘meminjam’ barang-barang berharga guna dijual ditukarkan dalam rupa uang. Motivasi para penduduk Detroit yang tersingkirkan ini melaksanakan pencurian yaitu semata-mata demi mendapat kehidupan lebih layak atau bagi Rocky itu berarti memboyong dirinya dan adiknya ke California, meninggalkan sang ibu yang masa udik dengan keberadaan mereka. Sayangnya, untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut, mereka tidak dapat bergantung pada hasil penjualan barang curian. Mau tak mau mereka pun harus mengingkari janji untuk tidak merampok uang tunai apabila ingin terbebas dari hunian mereka di Detroit. Petunjuk dari informan Money mengarahkan ketiganya ke rumah seorang veteran perang (Stephen Lang) yang konon menyimpan uang senilai $300 ribu sebagai kompensasi kehilangan sang putri yang tewas dalam suatu kecelakaan. 

Di atas kertas, sepintas sih rencana menyantroni rumah si veteran perang memang terdengar sepele karena: pertama, si pemilik rumah buta dan ia yaitu satu-satunya penghuni selain anjing penjaga. Dan kedua, si veteran perang mendiami sebuah rumah sederhana di area pemukiman yang telah ditinggalkan. What possibly could go wrong gitu loh? Problematikanya, Rocky, Alex, dan Money sedari awal tidak memiliki cukup persiapan. Tanpa dibekali isu mencukupi wacana identitas sebenarnya dari si laki-laki buta dan bagaimana cetak biru rumah yang hendak mereka satroni, intinya mereka sejatinya buta soal kondisi lapangan. Penonton pun memperoleh pandangan yang sama dengan ketiga dewasa ini, tidak tahu menahu apa yang menunggu dibalik pintu. Disinilah letak keasyikkannya. Dengan membaca penggalan dongeng – serta merujuk ke contoh film berjenis home invasion kebanyakan – dapat jadi sebagian penonton menerka ini akan dilantunkan begitu-begitu saja. Si laki-laki buta yaitu korban, sementara para begundal-begundal dewasa yaitu pihak yang perlu diwaspadai. Lalu sepanjang durasi disesaki oleh adegan mereka saling berkejar-kejaran selayaknya kucing dan tikus demi mempertahankan hidup masing-masing. 

Berpatokan pada premis sederhananya, gampang bagi kita memandang remeh. But I can assure you, Don’t Breathe tidak sesederhana tampak luarnya menyerupai halnya bangunan rumah dalam film ini. Begitu penonton diajak menapaki TKP, kelokan-kelokan berdaya kejut maksimal menghantui secara silih berganti. Posisi antara para ketiga tokoh dewasa dengan si laki-laki buta secara cepat bertukar. Laju film yang awalnya mengalun agak perlahan demi memaparkan sekelumit latar belakang bagi Rocky serta Alex sehingga kata ‘simpatik’ dapat disematkan ke mereka, beralih ke mode beringas. Aroma berbahaya pribadi menguar terhitung semenjak Stephen Lang yang sangat menjiwai kiprahnya melontarkan obrolan pertamanya. Menghindari banyak basa-basi – kengerian sosok laki-laki buta lebih banyak bersumber dari bahasa badan – ia pribadi menutup seluruh kanal keluar masuk rumah. Ditopang palet warna pucat, gerak kamera cekatan, serta iringan musik efektif, rasa tidak nyaman sebagai hasil dari terbitnya suasana klaustrofobik pun menjerat. Satu pertanyaan klasik penuh keingintahuan besar lantas timbul, “apa yang akan terjadi berikutnya?.” 

Ya, walau ruang geraknya berkutat disitu-situ saja, Don’t Breathe sama sekali tidak bersahabat dengan kata ‘menjemukan’. Sebaliknya, Fede Alvarez handal memanfaatkan sempitnya ruang gerak sebagai kesempatannya untuk memaksimalkan ketegangan apalagi ada dukungan plot berbalur twist. Kita tidak dapat benar-benar menerka akan diarahkan kemana film ini mengingat setiap sudut merupakan ‘medan pertempuran’ menyeramkan – terlebih rubanah yang mempersembahkan adegan mati lampu paling seram. Singkatnya, setiap ruangan memiliki ancamannya sendiri-sendiri. Saat kau menerka telah aman, teror lain yang tidak disangka-sangka kemunculannya menghadang. Begitu seterusnya. Situasinya benar-benar dikreasi sedemikian rupa sehingga sang sutradara tidak bergantung pada jump scare murahan untuk menggedor jantung penonton namun pada keadaan yang mengancam kelangsungan nasib barisan karakternya. 

Lihat saja pada momen dimana Rocky dan Alex tersudut di ruang tamu mencoba menyembunyikan keberadaan mereka dari si laki-laki buta yang menggenggam senjata api. Keheningan menyergap, dua dewasa apes tersebut saling mengirimkan tanda melalui kontak mata seraya menahan nafas semoga helaannya tidak terendus oleh indera tajam si laki-laki tua, dan perlahan-lahan mencoba memindah pijakan kaki yang ndilalah menimbulkan terciptanya bunyi lantai berderit. Cenderung tidak mungkin kau tidak berada di fase ‘berdebar-debar cemas’ ketika berada di titik ini alasannya berdasar pengalaman menonton di gedung bioskop, sejumlah penonton ikut dibentuk berteriak-teriak gregetan olehnya. Dan adegan ini bukanlah satu-satunya, malah dapat dikata gres sekadar permulaan. Don’t Breathe memiliki setumpuk adegan yang memungkinkanmu berkeringat dingin, mengeluarkan sumpah serapah dan kesulitan menghela nafas lega karena intensitas tidak main-mainnya. Tanpa perlu diberi peringatan untuk “jangan bernafas”, kita pun sudah terlebih dahulu menahan nafas alasannya ya bagaimana mau dapat bernafas lha wong Don’t Breathe sedemikian mencekamnya.

Outstanding (4/5)