July 12, 2020

Review : Downsizing


“Sometimes you think we’re in the normal world and then something happens and you realize we’re not.” 

Menengok materi promosi yang beredar luas dan premis yang disodorkan, Downsizing memang tampak menyerupai tontonan fiksi ilmiah yang menjanjikan. Sulit untuk tidak termakan begitu mengetahui bahwa film isyarat Alexander Payne (The Descendants, Sideways) ini bakal berceloteh mengenai aktivitas penyusutan insan hingga ke ukuran 5 inci saja yang bertujuan untuk menyelamatkan insan dari kepunahan akhir kelebihan populasi di bumi – kurang lebih semacam versi upgrade dari Honey, I Shrunk the Kids! (1989). Terlebih lagi, Payne yang kembali berkolaborasi dengan Jim Taylor dalam penulisan naskah di Downsizing turut memboyong bintang-bintang besar untuk mengisi jajaran departemen akting menyerupai Matt Damon, Christoph Waltz, Nasrani Wiig, Jason Sudeikis, hingga Udo Kier. Mudahnya, ini terlihat sangat cantik di atas kertas jadi apa sih yang mungkin salah? Usai menyaksikan gelaran yang merentang sepanjang 140 menit ini, saya dapat menyampaikan bahwa setidaknya ada dua alasan yang lantas menciptakan Downsizing ternyata berjalan tidak sesuai impian atau dengan kata lain, salah. Pertama, menanamkan ekspektasi yang keliru pada penonton, dan kedua, menyia-nyiakan premis bombastisnya demi mengejar pesan sederhana yang tidak juga mengena ke penonton. 

Karakter utama dari Downsizing yaitu seorang terapis okupasi berjulukan Paul Safranek (Matt Damon) yang mempunyai kehidupan, well, biasa-biasa saja kalau tidak mau dibilang monoton. Satu-satunya hal yang dapat dikatakan menarik untuk diceritakan dari kehidupannya yaitu beliau dan istrinya, Audrey (Kristen Wiig), tengah mengalami kesulitan secara finansial. Demi memperbaiki kondisi keuangannya yang memburuk, Paul pun berinisiatif mengajak serta Audrey untuk mengikuti aktivitas penyusutan terlebih selepas mendengar pengalaman membahagiakan dari seorang mitra yang mengikuti aktivitas sejenis. Konon, ‘dunia liliput’ ini menjanjikan kehidupan yang serba berkecukupan karena segala hal dapat diperoleh dengan harga jauh lebih rendah. Mereka yang berani menyusutkan tubuhnya pun disebut sebagai jagoan sebab dianggap telah berpartisipasi dalam menyelamatkan lingkungan. Memperoleh iming-iming nirwana menyerupai ini, Paul terang kepincut sehingga tidak membutuhkan waktu usang baginya untuk mempertimbangkan. Persoalan yang tadinya diperlukan pupus dengan mengikuti aktivitas ini, nyatanya justru semakin berlipat ganda tatkala Paul menyadari bahwa dunia liliput tidaklah seindah bayangannya. Sialnya, beliau gres menyadari kekeliruannya dalam mengambil keputusan sesudah tinggi tubuhnya menciut menjadi 5 inci saja. 


Satu hal yang perlu diingat sebelum kau melangkahkan kaki ke bioskop untuk menyaksikan Downsizing yaitu film ini bukanlah tipe tontonan eskapisme yang memadukan fiksi ilmiah dengan elemen petualangan. Bukan. Divisualisasikan oleh Alexander Payne yang terbiasa berjibaku dengan tema seputar mempertanyakan keberadaan diri dalam balutan komedi gelap yang dilengkapi sentilan sentilun ke masyarakat modern, sudah dapat diduga bekerjsama bahwa Downsizing memang tidak ditujukan sebagai menu hiburan pelepas penat. Apabila kau berekspektasi demikian – yang bekerjsama tidak salah juga bila (lagi-lagi) berpatokan pada materi promo beserta premis – maka segera hempaskan jauh-jauh. Downsizing lebih tertarik untuk mengajak penonton membicarakan isu-isu serius nan menggelitik pemikiran terkait lingkungan, perubahan iklim, konsumerisme, imigran gelap hingga ketimpangan sosial. Ini menarik, malah sejujurnya sangat menarik bagi saya, akan tetapi entah mengapa begitu film mencapai separuh perjalanan, Payne enggan menguliknya lebih jauh lagi dan mendadak membicarakan perihal tema kegemarannya: eksistensialisme di usia paruh baya. Tidak hanya berhenti mengobrol perihal topik yang lebih menggugah, si pembuat film pun berhenti mengeksplor dunia liliput dan menyebarkan premis brilian yang diajukannya sehingga terasa tidak ada bedanya apabila latar film diubah menjadi, katakanlah, suatu koloni di sekitar kita yang menunjukkan akomodasi menggiurkan. 
Perubahan nada penceritaan ini terasa sangat disayangkan sebab sejatinya separuh awal durasi Downsizing yang mengajak penonton untuk memahami mekanisme penyusutan kemudian berlanjut menyusuri dunia liliput (world building-nya juara banget!) sudah begitu mengasyikkan sementara separuh tamat durasi yang menentukan untuk membicarakan perihal pencarian makna hidup sang abjad utama berlangsung bertele-tele dan tidak jarang menjemukan. Salah satu penyebabnya yaitu sosok Paul yang kelewat lempeng serta tidak mempunyai dinamika sampai-sampai menjadikan resistensi pada diri ini untuk mengenalnya lebih dalam. Yang kemudian menciptakan saya tetap bertahan hingga menit epilog – walau mata berulang kali terasa begitu berat saking lelahnya – yaitu jajaran pemain pendukung yang berlakon di level memesona menyerupai Hong Chau sebagai imigran asal Vietnam yang penyusutan tubuhnya merupakan eksekusi dari pemerintah negaranya, Christoph Waltz sebagai tetangga Paul yang gemar berpesta, serta Udo Kier sebagai rekan Waltz yang juga asing pesta. Matt Damon bekerjsama juga menampilkan performa apik sebagai Paul, namun kehadiran Hong Chau yang begitu hidup nan kocak di sampingnya seketika mencuri lampu sorot darinya. Tanpa celetukan serta tingkah polah semau-mau gue Hong Chau yang menghibur, mungkin paruh tamat Downsizing yang terasa menyerupai film berbeda ini hanya akan menciptakan para penontonnya terlelap.

Acceptable (3/5)